Hantu Cuek

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 September 2017
Hantu Cuek

Hantu Cuek

Dari kejauhan kedua mata itu bertatapan untuk jarak yang sangat jauh, mungkin saja tidak terlihat baginya yang minus lebih dari satu.

“Mbak itu mas.” Kata seseorang yang berada disampingnya. Ira pun melihat dengan seksama lelaki yang dipanggil mas oleh adik tingkatnya itu.

“Mas siapa?” jawabnya.

“Siapa lagi kalau bukan mas Ahmad.” Katanya menanggapi. Ira yang akan menuju musholla pun harus memutar otak agar tidak berpapasan dengan laki – laki itu. Bukan karena apa – apa, mungkin dia takut wajahnya terlihat memerah meski ditutupi masker. Ira segera bergegas naik ke lantai 3 untuk menuju musholla kampus yang terletak di lantai 2. Ira sengaja memilih jalan yang jauh bukan karena alasan itu saja. Di depan mushola putra ada banyak orang, sedangkan untuk menuju musholla putri harus melewati mushola putra yang berada di timur.

“Lewat sini aja dek.” Kata Ira. Ira ketika sadar dari tadi jika adik tingkatnya itu sudah melambaikan tangan pada Ahmad, dan Ahmad pasti tahu jika yang dibalik masker adalah Ira.

“Kok lewat situ mbak, itu lho ada mas Ahmad.” Jawabnya.

“Iya biarin aja, terus mau ngapain?” kata Ira lagi.

Ira berusaha menutupi segala yang dia rasakan. Dia sungguh merasa grogi dan deg – degan melihat Ahmad dengan jarak 50 meter itu. setelah sekian lama mereka tidak bertemu dan hampir saja Ira bisa melupakan bagaimana wajah Ahmad, kini mereka berdua dipertemukan dalam sebuah ketidaksengajaan. Ira dan adik tingkatnya itu tiba di tangga yang menuju ke lantai 2, diujung tangga ternyata Ahmad sudah menanti kedatangan mereka berdua.

"Sombong banget sih." Kata Ahmad.
Ira diam dan melangkah dengan buru - buru, sedangkan adik tingkatnya entah bicara apa dengan Ahmad.

"Ira, mau kemana? Saya mau minta tolong." Kata Ahmad melihat Ira yang buru - buru kabur melihatnya, sedangkan adik tingkatnya itu tidak di hiraukan.

Ya Allah, hamba takut menatap matanya, hamba takut, hamba grogi, hamba ndak tahu ini kenapa, hamba ndak tahu kenapa hamba canggung seperti ini. Bimbing hamba, hamba takut jika gerakan hati ini akan lalai dari perintahMu, akan lalai dari segala laranganMu. Allah.. izinkan hamba hanya menikmati cintayang hakikatnya hanya dariMu, tolong hamba atas ujian di dunia ini. Jika bukan Engkau yang melindungi hamba, lantas kepada siapa lagi hamba mohon perlindungan? Bisik batin Ira yang semakin mempercepat langkahnya.

Ira ragu, apakah harus menyahut panggilan Ahmad atau tidak.

"Sebentar -sebentar." Kata Ira mengelak sambil menutupi rasa gugup dibalik maskernya.

Ira akhirnya masuk musholla, dia segera mengambil air wudhu dan menjalankan sholat sunnah 2 kali 2 rakaat sebelum dhuhur, dilanjutkan 4 rakaat sholat dhuhur, dzikir, dan diakhiri dengan 2 kali 2 rakaat setelah dhuhur. Meski demikian dia masih saja gugup dan grogi. Kemudia dia melangkan keluar musholla bermaksud memenuhi janjinya ketika dia mengatakan "sebentar" tadi. Dari kejauhan didepan musholla putra, Ahmad bersama beberapa temannya.

Jadi ndak sih minta tolongnya. Batin Ira. Ira saat itu sedang menjadi asisten bu Nyai untuk mata kuliah Filsafat Islam dan Ilmu Pendidikan Islam. Melihat Ahmad yang sepertinya masih disibukkan dengan temannya, akhirnya Ira masuk ke ruang dosen. Disana Ira bertemu dengan dosen yang sekaligus ustadzahnya.

"Lho ngapain Ira kok disini?" kata ustadzah.
"Ngapunten ustadzah, ini dalem sedang ada jamnya bu Nyai." jawabnya penuh dengan kegrogian, takut kalau yang dilakukannya salah.
"Owh.. Bagus bagus. Pinter." Kata salah satu ustadzah lainnya.

Dari kejauhan Ahmad masuk ruang dosen, Ira segera pamit undur diri kepada dua ustadzah tersebut. Ira terlihat grogi dan terburu - buru, wajahnya mulai memerah lagi lalu dia mencium tangan kedua ustadzahnya dan berpamitan.

Ira bergegas mencari kelas yang diampu oleh bu Nyai, lalu dia masuk. Beberapa saat bu Nyai memberikan kata pengantar, lalu bu Nyai meminta Ira menjelaskan beberapa hal kepada mahasiswi terkait metode pembelajaran PAI yang paling efektif digunakan. Satu setengah jam berlalu dengan cepat. Ketika keluar kelas bersama bu Nyai, didepan musholla putra masih ada Ahmad disana. Ira berjalan disamping bu Nyai dengan menundukkan pandangan. Kini wajah Ira tidak ditutupi masker lagi, mungkin pipinya kembali terlihat memerah seketika.

Ya Allah.. jangan Engkau uji hamba seperti ini, hamba bingung ya Allah. Hamba takut jika fitrah ini menjadi musibah bagi kami. Jika memang Engkau mengizinkan hamba bersama, tolong jagalah kami dengan tidak melakukan hal - hal yang nista dan membuatMu murka. Bimbing kami ya Allah.. hanya Engkau yang berhak dan kuasa untuk menyatukan kami. Amiin.


Ira memang selalu seperti itu, dia terlihat cuek padahal sesungguhnya dia perhatian. Mungkin hanya orang - orang yang belum mengenali sifatnya yang mengatakan demikian. Tepatnya ada seseorang yang menjulukinya hantu cuek. Dengan sikapnya yang acuh, dingin, dan tidak mau peduli membuatnya mendapatkan julukan itu dari salah satu anggota BEM Putra.

Beberapa waktu lalu laki - laki itu menyebutnya demikian ketika dia mengomentari sebuah foto sampul di facebook milik temannya. Maklum saja, facebook Ira tidak ada fotonya kecuali ditandai dan foto itu Ira sedang duduk bertiga mengenakan pakaian UAS, dua temannya mengenakan jilbab putih sedangkan dia dengan jilbab hitam. Laki - laki itu ternyata berteman dengan temannya yang mengomentari, dan menyebutnya hantu cuek. predikat special yang diberikan kepada Ira.

  • view 84