Tentang Keberadaanku

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Agustus 2017
Tentang Keberadaanku

Tak akan mencapai maqam tingkat tinggi jika seseorang dalam hatinya ada maksiat meski sebesar biji dzarroh, karena maqom pertama yang harus dilalui adalah taubat, taubat dari segala hal termasuk dekat dengan gadis seperti aku. Kau tahu? Aku takut menjadi penyebab gagalnya engkau dalam meraih maqom tertinggi itu. Maaf jika adanya makhluk sepertiku membuatmu sulit mencapai maqam itu. Aku hanya seorang gadis yang masih belajar dan terus belajar, meski aku berkali – kali gagal dalam ujian hidup, aku selalu berharap bisa memperoleh hasil yang indah yaitu bisa melihatNya di surga kelak. Aku tak peduli dengan keindahan apapun didalam sana, tetapi hanya karena bisa melihatNya, maka aku harus masuk surga. Dan surga hanya tempat orang – orang yang bertaqwa kepadaNya, serta orang – orang yang mendapat ridhoNya. Itulah balasan bagi orang – orang yang mencintaiNya.

Dan jika kau mencintaiku pastinya kau takut melukaiku, pastinya kau tidak ingin kulitku dijilat api neraka. Kau seharusnya tahu, bagaimana menyiasatinya agar semua bernilai ibadah, dan kau seharusnya paham betul tentang semua itu. Lalu apa yang kau tunggu? Apakah kau takut tidak mampu menafkahi gadis sepertiku? Percayalah, aku tidak akan meminta apapun kepadamu diluar batas kemampuanmu, jika kau tak memiliki uang sepeserpun untuk dimakan hari itu, marilah kita berpuasa bahkan aku siap membantumu jika engkau menginginkan itu. Bukankah puasa itu disukai oleh Allah? Bukankah Allah mencukupkan rizki kepada setiap hambaNya? Apakah kau tak yakin dengan janji Allah? Atau apakah kau takut dengan ujian Allah? Bukankah Allah akan mengangkat derajat seseorang sebesar ujian yang dialaminya? Lantas jika kau tidak lulus dengan ujian berupa wanita sepertiku lantas bagaimana engkau ingin mencapai maqom tertinggi itu?

Kau tau kisah Rabi’ah Adawiyah? Akupun ingin seperti beliau, melayani sang suami karena kecintaan kepadaNya. Jika kau tahu sekarang, nasi tak lagi mengenyangkanku, air tak lagi menyegarkanku. Terasa menghilang begitu saja nafsu makanku, bahkan aku berharap seperti unta yang tidak perlu makan selama seminggu atau bahkan sebulan. Aku tak ingin waktuku habis untuk sebatas makan saja tanpa aku bisa memberi manfaat untuk sesama. Jika kau melihat badanku kurus kering sekarang ini, janganlah heran. Aku berusaha menjinakkan nafsuku, aku berusaha mempersedikit urusan duniawiku, bukankah segala yang kita lakukan akan dihisab? Makanan yang halal saja dihisab, apalagi yang haram? Dan kedekatan kita kini memang tidak seharusnya terjadi. 

Maka relakanlah kisah kita, dan jika kau benar - benar menginginkanku.. semoga bukan karena nafsu.. semoga karena kau benar - benar ingin mengajakku dalam perjuangan agama ini. Maka... bersabarlah... 
30 juz dulu, baru kamu...

  • view 12