Belajar Menjaga Pandangan

hasanatul mutmainah
Karya hasanatul mutmainah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Belajar Menjaga Pandangan

Esok kembali menyapa, kicauan burung terdengar samar karena seluruh penjuru pondok ini telah terisi oleh berbagai frekuensi suara. Suara air kran, suara ngaji, suara radio, suara laptop, suara  panci, bahkan suara perut ini pun tak ingin ketinggalan. Setelah rutinitas pagi terlaksana dengan seperti biasanya, saatnya bersiap untuk bertugas. Laptop telah masuk ke dalam tas setelah sebelumnya terdengar suara A’a Gym dengan volume 75% darinya. Baju gamis hitam dan jilbab abu – abu temaku hari ini. Oya, aku Alifa. Nama yang cukup unik karena menjadi awal huruf hijaiyyah, dan itu pula menandakan bahwa aku anak pertama. Aku mempunya dua orang adik, laki – laki dan perempuan. Sebagai anak pertama, aku ingin menjadi contoh yang baik kepada adik – adikku.

Hari ini aku berada di tempat biasa, tempatku berkarya dengan beberapa teman. Dari balik jendela ada temanku yang masih menggunakan baju tidurnya dan dia berkijau di jendela tempat kami berada seperti biasanya.

“Mbak.. anterin aku donk ke kampus,” kata Nisa.

“Boleh, naik apa?” kataku. Aku tak kuasa menolak jika orang lain meminta bantuan kepadakum dan semoga selalu bisa membantu.

“Pinjam motor di SMA,” katanya sambil memelas. Maklum saja, dia menjadi panitia OSPEK di kampus dan untuk jam ini pasti sudah sangat telat.

Aku segera mengambil kaos kaki dan handsock yang selalu standby di dalam tas. Aku berjalan keluar ruangan, di luar sudah ada Nisa yang menungguku dengan tas warna peach di punggungnya.

“Bentar dek, tak pakai kaos kaki dulu,” kataku.

“Iya mbak,” katanya membalas.

Dia terlihat bersama dengan teman seangkatannya, mereka satu alumni sewaktu di MA. Setelah bersiap, aku menghampirinya. Sesampai di depan kantor SMA, ternyata kunci motor dibawa oleh salah seorang TU, sedangkan motornya berada diparkiran. Jujur, memang sedikit memerlukan tenaga ekstra jika ingin meminjam motor, dan hal ini biasa terjadi. Beberapa menit kami memutar otak untuk mendapatkan motor. Ada cak – cak di dekat parkiran motor itu, dan itu adalah adik seorang ustadz yang kebetulan berasal dari kota yang sama denganku. Dengan mengumpulkan segenap kemampuan dan keberanian, serta sedikit berlatih berbicara, Nisa menemui cak – cak itu.

“Cak, boleh pinjam motornya?” kata Nisa.

“Buat apa emang? Gak ada motor lain ta? Itu ada motor SMA.” Katanya.

“Kuncinya dibawa cak Ghufron, orangnya nggak tau kemana.” Balasnya.

“Lama nggak?”

“Nggak cak, Cuma ke kampus aja kok.”

“Ini bensinnya tinggal sedikit.”

“Gak apa – apa, nanti tak isi.”

“Bener ya diisi, nanti kalau ndak di isi tak cium kamu.” Candanya.

“Iya cak, saya isi nanti.” Jawab Nisa.

Nisa langsung berlari kearahku, dia seperti ketakutan mendengar jawaban laki – laki itu. Memang laki – laki itu memiliki sifat yang berbeda dari umumnya anak pondok. Maklum saja, dia bukan anak pondok meskipun dia adik kandung salah satu ustadz yang mengajar kami. Aku menenangkan Nisa yang ketakutan, mungkin orang seperti itu banyak sekali diluar sana bahkan yang lebih parah dengan itu.

Aku jadi teringat suatu malam saat liburan, ada laki – laki yang menelponku hampir tengah malam. Dengan wajah mengantuk aku mengangkat telponnya, karena memang sudah larut malam dan mengantuk mungkin suaraku terkesan agak manja mungkin sehingga seseorang itu berkata tidak wajar. Langsung saja telpon ku akhiri dan aku mengiriminya pesan agar tidak menghubungiku lagi dengan alasan apapun. Hape ku silent, dia berkali – kali menelpon tapi tak ku angkat, berkali – kali sms tak ku balas hingga keesokan harinya aku mengirimi pesan jika aku tidak marah. Saat aku tertidur, aku bermimpi bertemu dengan Kyai laki – laki yang berada diseberang telpon itu, aku juga bermimpi mengarungi lautan bersama sahabat – sahabatku diatas sebuah perahu. Sesaat kemudian aku menoleh kebelakang, lantas tiba – tiba dia berada tepat dibelakangku dan bertanya “Bagaimana? Senang tidak?” katanya dan aku menjawab senang, senang dengan tantangan. Ketika terbangun, aku melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan permintaan maaf darinya.

Setelah mendapatkan pinjaman motor, kami berangkat dan tidak membutuhkan waktu yang banyak untuk sampai di kampusnya. Nisa menawariku melihat keadaan kampus dan stand fakultasnya dan aku mengiyakan. Disana ternyata ada pentas seni kegiatan OSPEK dan berlangsung sangat seru. Satu yang aku sayangkan, yaitu pergaulan laki – laki dan perempuan yang tercampur baur menjadi satu sehingga aku pun risih melihatnya. Aku merasakan sebagai mereka seolah tereksploitasi oleh mata laki – laki, tidak terjaga seperti seharusnya. Dan aku bersyukur kuliah di kampus yang sangat menjaga maruah wanita.

Setelah pulang dari kampus, aku membeli bensin setelah selembar uang sepuluh ribu keluar dari dompet Nisa, maklum saja akhir – akhir ini aku memang tidak memegang uang. Bahkan untuk makan saja diajak oleh teman – teman yang bermurah hati membagi makanan mereka kepadaku. Dan itu hal yang biasa, begitu juga denganku jika memiliki uang tak segan untuk berbagi dengan mereka, karena kami seperti sebuah keluarga sendiri. Sakit bersama, susah bersama.

Setelah pulang, terlihat cak – cak dari BEM kampusku mengadakan lomba balam karung. Ketika aku hampir belok ke gerbang SMA, laki – laki yang dikenal sebagai presma itu melihatku dan sejenak mata kami saling berpandangan sedetik lamanya. Sontak saja aku langsung menunduk, ribuan istighfar menghujani hatiku. Pandangan tanpa sengaja itu bisa menjadi panah syetan yang mematikan. Setelah sepeda motor terparkir ditempatnya, ada cak – cak dari anggota BEM pula.

“Cuek banget sih.” Katanya ketika melihatku menunduk padahal kami saling kenal.

“Cuek banget sih bu Nyai.. bu Nyai...” katanya lagi.

“Kalau ndak cuek masak ya perhatian sama kamu, ogah lah.” Kataku sambil berlalu dan tidak memandangnya sedikitpun.

Astaghfirullah.. Ampuni hamba ya Allah, hamba bukan bermaksud sok suci, hamba bukan sok tak ingin menyambung silaturahmi, tapi hamba berusaha menjaga pandangan ini, hamba berusaha belajar selalu menundukkan pandangan karena Engkau.

 

Allah berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” [QS. An-Nuur : 30-31].

  

Catatan Perjalanan, Alifa Nur Hasanah
Jombang, 25 Agustus 2017

  • view 19