Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 23 Januari 2018   06:43 WIB
Fragmen #1 - Hari Baru, Gelisah yang Sama

Seperti biasa, tulisan pertama yang kutulis di atas jurnal terkesan depresif. Entah kapan dimulainya, jurnal dengan sampul kulit dan kertas buram yang mulanya kuniatkan sebagai tempat menulis jadwal kegiatan harian ini alih guna jadi jurnal hari-hari buruk. Apesnya, hampir tiap minggu aku menulisi jurnal ini, yang artinya hari-hariku tidak terlalu menyenangkan untuk dilalui.

Memang, ada saja hal-hal menyebalkan yang membuatku gatal menulis jurnal. Sebut saja, seorang bule yang buang puntung rokok sembarangan di depan tempatku berdiri, orang-orang yang memutar musik di dalam kamar mandi bersama indekost, atau sales kartu kuota yang nongkrong di atas trotoar. Namun tentunya, hal-hal demikian tak lantas membuatku menyisihkan kertas untuk digurati gerutuan. Biasanya ada hal-hal yang jauh lebih menggelisahkan yang kuarsipkan dalam jurnal. Peristiwa satu jam silam salah satunya.

Aku baru saja menamatkan “Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-pohon” karya Eko Triono kala seorang ibu paruh baya duduk di kursi kereta yang berhadapan dengan kursiku. Kami duduk berhadapan karena aku belum sempat mengubah posisi kursi kereta setelah tiga orang ibu-ibu (yang kuasumsikan bersaudara) yang semula duduk di sana turun dari kereta.

Maka di sanalah kami; dua orang asing yang duduk berhadapan.

Hal-hal berlangsung tenang selama lima menit. Tak ada tegur sapa yang kami lontarkan. Memecah keheningan, ponselku berdering tanda ada panggilan masuk dan kuangkat segera. Selanjutnya, aku dan ibu di depanku berkutat dengan pikiran masing-masing. Aku memikirkan soal resepsi pernikahan yang akan kuhadiri, sedangkan sang ibu entah memikirkan apa. Aku tak mau bertanya sebab dia adalah orang asing. Di Indonesia, orang asing tak sepatutnya disalami dan atau dijadikan teman. Rakyat harus selalu waspada kalau-kalau orang asing yang dijumpai adalah penghipnotis atau orang tak waras yang gemar melecehkan wanita. Ini sudah jadi norma umum baru, menggantikan norma lama bahwa keramahan adalah keharusan.

Ibu di depanku sepertinya belum maju dari generasi norma lama, sehingga olehnya disapalah aku: “Ke Yogyakarta, mbak?”

Aku hanya mengangguk kecil, tersenyum kecil, dan mengiyakan dengan suara sama kecilnya.

“Pertama kali ke Yogya?” tanya sang ibu kemudian.

“Iya, mau ke pernikahan teman,” ungkapku kemudian.

“Wah, kalau mbaknya sudah menikah?” tanyanya lagi. Aku tertegun.

Perlu kauketahui, selain pertanyaan soal umur dan identitas umum, pertanyaan mengenai skripsi dan status pernikahan adalah pertanyaan yang kuklasifikasikan sebagai tidak sopan. Saat aku belajar di Norwegia selama enam bulan, tak pernah sekalipun orang asing menanyaiku begini. Jangankan orang asing, teman satu flatku saja enggan menanyakannya. Karena apa? Karena tidak sopan. Namun nampaknya, ibu di depanku masih memegang norma lama ‘keramahan adalah keharusan’ jadi pertanyaan-pertanyaan sensitif begini ia anggap wajar untuk diajukan.

“Belum,” jawabku.

“Kenapa belum? Usia mbak sepertinya sudah sangat cukup untuk menikah,”

Aku menghela napas pelan—tidak ingin dianggap tidak sopan meskipun ibu di depanku sudah menanyaiku dua pertanyaan yang tidak sopan.

“Ya belum siap aja, bu,” jawabku sekenanya.

“Lho tapi calonnya sudah ada, kan? Barusan yang telepon bukan pacarnya?”

Pada detik ini, aku mulai berharap ada penumpang lain yang datang dan menjadi teman bicara pengganti bagi sang ibu.

“Bukan. Itu teman saya, dia cuma tanya apa saya perlu dijemput di stasiun atau tidak.” Aku menjawab dengan agak panjang, berharap agar pertanyaan (yang lebih mirip interogasi) dari sang ibu usai.

Harapanku ketinggian.

Sang ibu melanjutkan, “oh, berarti laki-laki ya temannya?”

Ingin rasanya aku membalas pertanyaan sang ibu dengan meme: “did you just assume my friend’s gender???” tapi karena tebakannya benar, aku mengangguk saja.

“Wah berarti ada kemungkinan itu jodoh mbak, lho. Saya juga begitu dulu. Suami saya sering mengantar saya waktu ke pasar, lalu kami tiba-tiba dijodohkan oleh keluarga kami. Saya juga nggak menyangka dia jadi separuh agama saya hingga kini, padahal saya dulu betul-betul nggak suka sama suami saya ini. Saya cuma menganggap dia tetangga yang membantu saya belanja. Eh, tapi setelah dijalani, saya, kok, jadi jatuh cinta,”

Sang ibu bercerita dengan sumringah, sementara aku harus pura-pura tertarik dan tersenyum sebagai tanda warga yang berbudi.

“Tapi sekarang sepertinya kaum muda nggak suka dijodoh-jodohkan. Mereka hidup semau mereka saja. Mau bebas memilih untuk mencintai, mau bebas memilih pasangan. Padahal akhirnya banyak berpikir, lalu berakhir tua tanpa menikah,”

Aku terpelatuk.

“Lho, itu wajar. Setiap orang berhak memilih. Berhak menentukan hidup sesuai kehendaknya, termasuk dalam hal mencintai seseorang. Bahkan jika mereka memilih untuk tidak menikah, itu urusan mereka. Kita tak perlu ikut campur,” aku menjawab dengan intonasi pelan namun penuh penekanan, sebagaimana biasanya aku melakukan rebuttal pada debat terbuka.

Sang ibu tertawa kecil namun terasa penuh ejekan, lalu melanjutkan, “kita ini makhluk sosial, mbak. Tentu ada kalanya kita memikirkan masalah orang lain. Tidak menikah itu masalah, lho. Mbak muslim, kan? Dalam agama, menikah itu berarti menyempurnakan agama. Ini masalah penting!”

“Masalah menurut siapa? Menurut kita? Kalau orang yang belum menikah itu merasa sebaliknya, bagaimana? Bukankah itu berarti kita terlalu sok bijak dan sok tahu? Betul, saya muslim. Saya juga belum menikah. Namun apakah itu berarti ibadah-ibadah yang selama ini saya lakukan tidak bernilai karena tidak sempurna? Saya harus menikah dulu baru ibadah saya bermakna penuh?” Aku balik bertanya pada sang ibu.

Ibu di hadapanku terlihat kaget mendengar pertanyaan-pertanyaanku yang tendensius. Raut mukanya betul-betul lucu bagiku. Barangkali, dalam hidupnya tersebut, ini kali pertama ia digugat oleh seorang perempuan muda yang ia sepelekan sebelumnya. Namun sejurus kemudian, sang ibu mulai bisa mengendalikan rasa kagetnya setelah meminum air mineral botol, dan mulai menunjukkan ekspresi yang lembut serta santun—akhirnya!

“Kalau boleh jujur, pertanyaan-pertanyaan mbak membuat saya kaget,” ia tertawa kecil lalu melanjutkan, “tapi sepertinya kata-kata saya tadi terlalu tidak sopan, ya?” Ia menatapku lekat. Kali ini, giliran aku yang kaget. Kenapa ia tiba-tiba santun begini? Mana rasa percaya diri menggebu-gebu yang ia tunjukkan tadi?

“Sebetulnya, saya punya putra yang sepertinya seumuran dengan mbak. Sudah bekerja dan boleh dibilang mapan. Dia kerja terus-terusan seperti mesin dan tak punya banyak waktu untuk membahas pernikahan. Jangankan pernikahan, pacaran saja dia ogah! Karir adalah cinta baginya.”

Baik, ke mana obrolan ini akan berlanjut? Aku tidak tahu. Ibu di hadapanku ini tiba-tiba menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan tak sopan, tiba-tiba meremehkan kawula muda, lalu tiba-tiba membicarakan putranya. Demi kereta api dan rel-relnya, aku sungguh tak bisa memproses ekspresi seinstan tensi pembicaraan ini.

“Sebagai seorang ibu, saya nggak punya pilihan selain memandang pernikahan dari sudut pandang ibu. Melihat anak saya yang kerja rodi begitu, saya selalu sedih. Saat ini mungkin dia masih sehat, masih kuat menjalani hidupnya sendiri. Masih bisa cari makan sendiri. Tapi kalau dia sudah tua dan saya sudah tiada, siapa yang bakal mengurusnya? Kalau dia sakit bagaimana? Kita, kan, nggak bisa berobat tanpa wali sekarang. Kalau dia kesepian bagaimana? Kalau dia tiba-tiba meninggal, bagaimana? Kalau dia hidup menyendiri, nggak akan ada yang tahu kalau dia kelaparan, frustrasi, atau mungkin mati,” sang ibu menitikkan air mata dan menjeda ucapannya. Aku bingung.

“Tidak menikah bagi saya adalah masalah. Pernikahan berarti akan ada orang yang bantu menanggung beban kita, akan ada orang yang rela kita repoti, akan ada orang yang menguatkan kita. Ini nggak bisa digantikan oleh ikatan anak dan orang tua. Saya merasa anak saya nggak mau merepotkan saya, jadi saya nggak bisa menggantikan ikatan itu. Saya ingin anak saya punya ikatan seperti itu, mbak.”

Aku mengeluarkan tisu di dalam tas sebagai respon atas tangisan ibu di hadapanku. Sang ibu tersenyum kecil, mengambil dua lembar tisu, dan mulai mengelap airmatanya. Tentu, ia melanjutkan ucapannya, “mungkin mbak dan anak-anak muda lain selalu menganggap kami, para orang tua kolot, menuntut anaknya menikah hanya demi cucu atau demi agama. Tapi saya bisa pastikan bahwa hal pertama yang kami mau hanyalah kebahagiaan anak kami saja. Toh saya juga nggak mengerti agama dan awam, jadi ya itu saja kemauan saya,”

Tiba-tiba, aku merasa emosiku tidak karuan. Tiba-tiba aku teringat alasanku membawa sekoper penuh perlengkapan pribadi dan satu ransel berisi perlengkapan lain. Keluargaku hanya tahu bahwa aku ke Yogyakarta untuk menghadiri resepsi pernikahan teman kuliahku sembari reuni teman-teman kuliah. Padahal sebetulnya, aku ingin melarikan diri. Kemanapun, naik kereta ini. Mendengar curhatan ibu di hadapanku, alasan itu kembali menguat dalam pikiranku: membujuk airmataku untuk keluar.

“Mungkin saya nggak berhak ikut campur pada masalah mbak, tapi saya juga berharap bahwa mbak bisa segera menikah,”

Sialan.

Menit berikutnya, pemberitahuan soal perhentian stasiun terdengar. Ibu di hadapanku lantas pamitan denganku lalu turun dari kereta, meninggalkanku dengan kegelisahan-kegelisahan. Kegelisahan yang pada dasarnya adalah alasan aku melarikan diri. Betul, aku melarikan diri karena ibuku memintaku untuk menerima pinangan seorang teman. Ralat, ibuku memohon. Ia memohon aku segera menikah dan mengiyakan ajakan seorang teman untuk taaruf bersamaku. Permohonan yang begitu menjadi hingga aku jengah dan memilih kabur.

Aku tidak tahu apakah aku belum ingin menikah atau aku memang tak berniat menikah. Aku masih muda, masih ingin mengembara, masih ingin belajar, masih punya banyak mimpi personal, masih banyak hal yang ingin kulakukan sendiri. Aku sendiri sulit memercayai orang lain hingga tuntutan menikah adalah hal yang membebaniku sedemikian rupa. Kukira ibuku sungguh egois, namun setelah mendengar penjelasan ibu di hadapanku tadi, aku rasa ibuku tak terlalu egois.

Namun yang jelas, kegelisahan pada diriku makin memuncak dan aku ingin minggat!

Beberapa saat kemudian, kereta berhenti di stasiun tujuanku. Aku turun dengan beban bawaanku dan beban mental yang berat. Aku tak peduli lagi! Aku ingin pergi ke tempat lain dan urung pergi ke pesta pernikahan. Aku ingin menangis di stasiun kereta seperti orang hilang.

Sayangnya, dua orang temanku lebih dulu menjemputku. Mereka tersenyum lebar.

Aku tersenyum paksa. Hari baru, gelisah yang sama.

Karya : Utami Nurhasanah