RUWET

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Agustus 2016
RUWET

Hidup ini sungguh sangat ruwet. Seperti berpola tapi tidak. Seperti mudah diterka padahal hanya mukanya saja.

Hidup ini lebih kompleks daripada pikiran dan perasaan wanita. Kaupikir bisa menaklukannya dengan laku agung dan pekerti luhung. Tapi hidup justru memberimu air tuba. Kaupikir dengan serangkaian petuah yang diturunkan dari para leluhurmu, kau bisa bertahan. Kaupikir dengan firman-firman Tuhan yang kaujadikan pedoman akan bisa membuatmu tegak berjalan.

Tapi tidak.

Hidup yang diciptakan Tuhan ini penuh rumus-rumus gila yang takkan pernah sampai ditelaah oleh pikirmu bulat-bulat. Lupakan soal dunia dengan sepuluh dimensi. Masih atomik sekali jika hidup disandingkan dengan dimensi dunia. Hidup ini, tersusun oleh milyaran subatom bernama dunia. Karena betapapun kaucari esensinya, kau selalu luput akan sukmanya.

Kaubiarkan dirimu terinisiasi oleh janji-janji dan kisah-kisah. Kaurelakan dirimu digiring dongeng menuju tidurmu. Kaukira dengan khatam atas itu semua kauakan baik-baik saja. Tapi esoknya kauterbangun dengan otak yang keroncongan. Dengan otot yang lembek. Juga hati yang terbelah.

Kerap kali kau berdialog dengan ego yang ditiupkan pada igamu. Mengapa. Kenapa. Bagaimana. Ketidakadilan yang tak kunjung habis dilalui ini salah siapa? Bukankah telah kau rapalkan seluruh ayat dan kau praktikkan pada tiap tutur kata dan tindak-tandukmu?

Mengapa?

Tuhan, mengapa hidup penuh dengan rumus-rumus supradinamis yang tak bisa ternalar oleh kami? Tuhan, aku masih tetap percaya bahwa setiap hal terjadi atas alasan. Seperti nebula yang bergumul lalu pecah berkeping-keping menjadi tempat kami bernaung. Seperti mengapa ombak bergantung pada tarikan rembulan.

Namun Tuhan, tidakkah Engkau mau memberi kami satu rumus kecil untuk memecahkan segunung tanda tanya yang bergantungan pada akson-akson yang kauciptakan? Maukah Engkau, barang sebentar saja memberi kami petunjuk kecil menuju alasan yang kauciptakan?

Terdengar manja, namun kami penasaran. Tuhan, apakah rumus hidup ini memang kauciptakan serumit ini? Atau mungkin hidup ini sederhana sekali, namun interpretasi-interpretasinya saja yang beringsut?

Berapa dimensi dari rumus hidup itu, Tuhan?

Meyakini saja, cukup tidak?

Kurasa tidak.

Lalu bagaimana?

Tapi aku percaya.

Selanjutnya apa?

Aku ingin direngkuh, Tuhan. Aku ingin diyakinkan. Aku ingin bertanya dan terjawab. Tidak akan aku menggugat dan mendakwa. Cukup aku bersimpuh di depanMu, kauhidangkan serangkaian rumus dan aku akan merdeka.

Aku yakin, hidup ini bukan main-main, bukan?

Atau ini adalah candaan maut ala Joker?

Tidak benar, kan?

(Bandung, 25 Oktober 2015)

  • view 184