Surat Buat Anakku, Kalau Ada

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Project
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia


Jangan lupa bahagia merupakan kompilasi dari 10 surat yang ditulis dari dan untuk orang yang berbeda-beda. Penulis memainkan peran sebagai banyak tokoh sehingga surat yang dikirimkan memiliki kisahnya tersendiri.

Kategori Acak

3.3 K Hak Cipta Terlindungi
Surat Buat Anakku, Kalau Ada

 SURAT BUAT ANAKKU, KALAU ADA

 

Sebetulnya, ibu cemas kalau kamu terlahir ke dunia. Dunia yang ibu tinggali kini sedang bobrok-bobroknya. Doa-doa dipolitisasi, gendang-gendang perang bertabuh dalam kemayaan (lebih-lebih di kenyataan), hingga nurani yang kalah saing dari upeti. Dunia yang ibu tinggali saja sudah begini, apalagi dunia yang ibu tinggalkan nanti.

Namun, ibu juga tak bisa bohong kalau dalam hati, ibu ingin punya seorang anak. Makin banyak mengkaji, ambisi-ambisi yang sudah ibu pupuk sejak kecil ternyata luyu berkat hadirnya mimpi yang baru: jadi seorang ibu yang baik.

Tapi siapa yang tahu, jika kelak saat kamu lahir dan tumbuh dewasa, ibu sudah pamit duluan buat bertemu Tuhan (itu pun jika Ia rido). Karena itu, biarkanlah ibu menitipkan satu-dua pesan yang ibu harap bisa menemanimu kala tumbuh.

 

Pertama, tak usah menciptakan standar.

Mayoritas manusia punya hobi menjengkelkan yang sama: membuat standar. Mereka membuat standar-standar yang katanya perlu dipenuhi agar kita bisa dianggap keren. Mulai dari standar kecantikan, standar kepintaran, standar gaya, hingga standar iman! Standar-standar yang dibentuk dengan asumsi bahwa 7 milyar manusia di permukaan bumi adalah kaum yang homogen: dilahirkan atas nasib, nama, dan identitas yang sama. Bodoh, bukan? Mengapa kita harus disamakan secara paksa sedang Tuhan saja menciptakan kita sebegitu berbedanya?

Kala standar hidup kian hari kian aneh, ingatlah bahwa ada satu standar yang nilainya mutlak, absolut, dan adil luar biasa. Standar apa? Standar Tuhan. Standar yang diciptakan oleh Ia yang menciptakan makhluk itu sendiri. Standar yang memang diciptakan semata-mata atas pengetahuan Ia yang Maha Memahami. Penuhi saja standar itu. Tak usah ambil pusing dengan cicitan orang-orang.

 

Kedua, “kamu tidak seburuk itu” adalah kalimat yang harus kamu ucapkan pada orang lain, sedang “kamu tidak sebaik itu” adalah kalimat yang harus kamu ucapkan pada diri sendiri. Jangan terbalik.

Jauh-jauhkanlah pikiran bahwa kita adalah orang baik yang jaminan masuk surganya sedikit lebih tinggi dari orang-orang yang hobi nongkrong sambil merokok, hanya karena pakaian kita yang lebih agamis, tutur kata yang lebih terjaga, atau hidup kita yang lebih terarah.

Kita bukan Tuhan yang mengawasi mereka 24 jam. Kita cuma manusia yang diberikan kesempatan menyaksikan perilaku orang lain secara singkat. Siapa tahu, di balik penampilan mereka yang urakan atau kata-katanya yang sarkastis, mereka selalu menyisihkan waktunya buat berkunjung ke panti-panti asuhan, sementara kita asik browsing semalaman. Siapa tahu, mereka sering merokok sebab terlampau pusing memikirkan nasib kegiatan sosial yang tengah mereka perjuangkan, sementara kita sibuk menuliskan mimpi-mimpi yang tak kunjung direalisasikan.

Kita mungkin merasa telah jadi orang yang baik setelah kuliah dan ibadah. Tapi baik buat siapa? Buat diri sendiri? Sementara Tuhan jelas-jelas berkata: “sebaiknya-baiknya manusia di antara kalian adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain”. Hindari menghakimi orang lain. Kita bukan Tuhan.

 

Ketiga, berbahagialah atas pilihan dan prinsipmu.

Apa itu bahagia? Tak ada definisi pasti sebab kamu sendirilah yang mampu mengartikannya, bukan ibu, ayah, atau teman-teman sepermainanmu. Kalau ternyata mimpimu beda dari harapan orang-orang sekitar, perjuangkan saja terus. Toh, kita punya sepatu masing-masing.

Begitu pula dengan orang lain. Mereka juga berhak berbahagia dengan pilihan mereka. Jangan kamu nyinyiri dan recoki mimpi mereka. Mau mereka jadi menteri atau wakil rakyat, ya biar saja. Itu cita-cita mulia. Berdoa saja biar kamu dan mereka bisa bertanggung jawab dan lantas bahagia atas pilihan dan prinsip kalian.

 

Tak banyak yang bisa ibu katakan. Karena selebihnya, Tuhan sudah turunkan panduan lengkap buat jadi manusia seutuhnya. Ibu cuma kasih satu-dua pesan hasil penghayatan ibu terhadap hidup. Moga-moga kita jadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain lewat tindakan, bukan omong doang. Moga-moga kita selalu ada dalam penjagaan Tuhan dan kelak, kamu bisa mancing bareng ayah di danau dalam surga atau masak bareng ibu di halaman belakang surga di mana buah-buah bergantung rendah.

 

Salam sayang,

 

Ibu.

 

  • view 250