Dewa 200 Juta Jemaat

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Dewa 200 Juta Jemaat

DEWA 200 JUTA JEMAAT
Oleh : Utami Nurhasanah

Koran hari ini masih saja mengerubungi polemik yang identik. Polemik politik yang tak pernah usang diwartakan. Koran satu dan koran lainnya masing-masing mempersenjatai diri dengan rudal-rudal yang menuju ke arah satu target yang sama. Dimana, konsep siapa tepat dia dapat berubah menjadi konsep siapa cepat dia dapat. Dimuat selagi hangat.

“Jadi, bagaimana Kamal, masih tertarik dengan perpolitikan?” Pak Eno, guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMA-ku duduk di seberang kursiku sambil menggiring satu set permainan catur.

Aku melipat koranku dan menyimpannya ke atas meja, “Ah, tidak juga, Pak. Hanya ingin mencari tahu keadaan sekitar. Dan ternyata,”

“Makin busuk?” Pak Eno dan aku hanya tersenyum. “Mari bermain peran menjadi dewa. Lumayan satu ronde menunggu Ashar.”

“Dewa?” tanyaku. Belum sempat pertanyaanku dijawab, Pak Eno langsung mempersiapkan arena pertandingan dengan kilat. Pak Eno memegang kubu catur warna hitam, sedangkan aku kubu putih. Mau tidak mau aku melajukan pion di ujung kanan dua langkah ke depan—yang dilanjutkan dengan beliau yang melakukan hal yang sama.

“Ada plagiat rupanya,” kataku. Aku melajukan pion keempat di sisi kiriku, dan Pak Eno pun melakukan hal yang sama lagi.

“Bukankah itu cara kerja media di negeri kita? Baik media cetak, elektronik, bahkan internet sekalipun menerapkan cara kerja itu, benar? Jadi, itu adalah hal yang umum.” Ujar beliau.

“Tidak di seluruh media, Pak. Beberapa mungkin memang menjadi plagiat nomor wahid, tapi untungnya, masih ada media yang kreatif mengambil langkah.” Aku menggerakkan gajah di sisi kiriku empat langkah serong. Kali ini, Pak Eno menggerakkan pion kedua di sebelah kirinya dua langkah.

“Untuk apa kreatif apabila tidak memberikan manfaat untuk masyarakat? Sampah saat diberikan bumbu kecap pun tetap saja sama, sampah.” Pak Eno menunjuk-nunjuk koran milikku, memberikan penekanan dramatis pada kata ‘sampah’ yang ia ucapkan.

“Bapak tidak boleh menggeneralisir setiap media. Memang benar, kebanyakan dari media hanya suka mempercantik kemasan dari suatu fakta, tapi, mereka hanya mencoba untuk menghibur masyarakat.” Aku memajukan bidak caturku dengan agak emosional, mulai terpancing dengan perkataan Pak Eno.

Pak Eno tertawa, “Menghibur masyarakat dengan serangkaian sampah, sehingga menyisakkan sobekan-sobekan sampah pada pemikiran mereka? Itu cara kerja kebanyakan media sehingga masyarakat yang dibodohi juga jadi kebanyakan.”

Hening sesaat. Hanya bidak-bidak kami saja yang bergantian mengisi kekosongan. “Bapak benar. Harus ada perubahan pada media kita. Harus ada.” Kataku, memberanikan diri untuk bersuara.

“Kamu sadar, kamu barusan telah menjadi korban kebusukan media? Seperti partai-partai haus kuasa yang menggadang-gadangkan slogan perubahan untuk Indonesia tapi sama sekali tidak berubah untuk Indonesia. Merecoki kenetralitasan media.”

“Itu salah satu fungsi media, Pak. Sebagai media untuk sosialisasi politik, agar rakyat tidak apatis. Pun tidak anarkis.” Aku mengira-ngira langkah selanjutnya dalam adu strategi berbalut adu mulut ini.

“Sosialisasi sejauh yang saya tahu tidak dikotori dengan janji-janji palsu yang nantinya malah menikam rakyat dari belakang.” Pak Eno mengecilkan suaranya, bersamaan dengan kuda yang maju mendekati benteng.

Aku menundukkan kepala, menahan napas lalu menghembuskannya. Sulit memang sulit untuk berpendapat dengan orang dewasa yang sudah berdekade menjadi pengamat negeri.

“Bapak sungguh skeptis.” Ujarku akhirnya.

“Saya kritis.”

Pak Eno lantas memanggil siswa yang melintas dekat meja kami. Beberapa nama makanan dan minuman disebutkan beliau. Siswa tersebut hanya mengangguk dan lalu pergi. Kami kembali kepada pokok pembicaraan.

“Media kita, khususnya media televisi, dapat dan harus berubah. Saya yakin akan hal itu.” Aku melipat tangan di atas meja.

“Kenapa harus berubah?” tanyanya. “Ya! Skak!”

Aku menggeserkan raja satu kolom ke kanan, sedangkan Pak Eno berdecak kesal, “Ya karena seperti yang bapak kemukakan tadi, media sekarang sudah tidak mempedulikan lagi apa yang akan masyarakat dengar dan cerna. Contohnya, banyaknya sinetron-sinetron tentang cinta yang malah membuat remaja menyalah-artikan cinta. Saat dimana kuantitas—dalam hal ini rating—mengalahkan kualitas. Dan lantas, menyuguhkan sampah sebagai camilan sehari-hari rakyat. Saat sampah menguasai Indonesia, maka Indonesia akan menghasilkan sampah.”

Pak Eno tertawa lebar, “Akhirnya kamu mengakui tentang media yang menjadi sampah? Puitis sekaligus sarkastis.” Pak Eno berhenti sejenak untuk bermain catur dalam pola yang cepat—memakan dan dimakan.

“Haruskah berubah? Memangnya apa yang salah dengan media kita?”

Ha! Pak Eno sedang mengujiku rupanya. Setelah sejak awal menekankan diri menjadi pihak kontra media, kini balik bertanya apa yang salah? Yang benar saja.

“Bapak menguji saya?” aku tertawa kecil, “Ya karena apa yang kini ditampilkan hanya omong kosong belaka. Kebohongan. Bahwa cinta harus diwujudkan dengan pacaran dan jika ada yang menghalangi jalan itu, singkirkan. Bahwa apa yang dibawa saat politikus blusukan adalah perubahan—yang pada nyatanya hanyalah pencitraan. Bahwa bercanda mestilah dengan menghina orang lain, yang menjadikan rakyat jadi generasi penghina dan penggunjing. Dan itu diputar 24 jam, non-stop, mendoktrin pemirsanya dengan serangkaian miskonsepsi.”

Pak Eno memandangiku, “Pertanyaannya, bagaimana cara mengubahnya?”

Aku tertegun sejenak. “Saya tidak tahu pasti. Tapi, saya kira dengan pembiasaan media untuk menampilkan fakta dan kualitas perlahan-lahan akan membuka lagi pemikiran masyarakat. Komputer saja butuh bertahun-tahun sampai diterima secara global oleh masyarakat. Begitu pun media. Pemerintah juga harusnya turun tangan.” Pak Eno mengamatiku sinis, “Sa-saya tidak tahu! Un-untuk saat ini belum!” Kataku terbata, tidak ingin terlihat bodoh hanya karena memberikan mimpi-mimpi utopis. Pak Eno masih menatapku sinis.

“Kenapa kita main catur?”

“Hah? Eh, maksud saya—maksud bapak apa? Apa main catur ini perlu alasan?”
Siswa yang tadi diperintah secara paksa oleh Pak Eno kembali datang dengan dua minuman botol dan sebuah kantong kresek. Dengan sopan ia menyimpan semuanya di atas meja dan pamit diri untuk pergi.

“Nah. Itulah kalau pikiran terlalu pasrah diinisiasi media. Menerima segala sesuatunya tanpa diulik. Bak anak kecil yang diberi permen. Begini, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kita akan bermain peran sebagai seorang dewa orang-orang berkuasa yang mempengaruhi orang banyak.”

Pak Eno memberikan satu minuman botol padaku, lalu melanjutkan, “Catur ini Indonesia, bidak-bidaknya adalah rakyat, dengan jajaran elit di garis belakang. Dan kita, adalah media massa. Lihat, hanya dengan apa yang kita lakukan dan gerakkan, seluruh rakyat bisa ikut bergerak—berjuang atau membunuh. Kamu bilang adakah alasan untuk main catur? Jika kamu berpikir begitu, maka wajarlah media hanya menyediakan hiburan rendahan. Toh, adakah alasan untuk menyiarkan hal yang berkualitas? Pemerintah turun tangan? Sudah. Ada komisi penyiaran, ada lembaga penyiaran, tapi tetap saja tidak ada perubahan. Rakyat dan media harusnya yang ambil inisiatif sendiri.”

“Memang benar, tapi, adalah tugas pemerintah untuk menjadi pengurus negara, terutama para politisi dan,”

“Dengar, nak. Mengurusi negara tidak harus melulu dengan keikutsertaan dalam dunia politik. Iwan Fals peduli pada negeri ini dengan musik, bukan politik. Taufiq Ismail peduli dengan puisi, tidak dengan menjadi politisi. Mengurusi media massa agar kualitatif juga termasuk jasa pada negara. Karena lewat ini, pendidikan 200 juta rakyat diberikan dengan materi yang sama. Apa jadinya jika sampah yang disiarkan? Jadilah kreatif untuk mengabdi, anak muda!”

Aku terpaku mendengar ucapan beliau. Benar, dengan media-lah pendidikan 200 juta rakyat diberikan secara sama. Aku jadi teringat dengan perkataan Adolf Hitler, bahwa sampaikanlah kebohongan itu 1000 kali maka hal itu akan menjadi kebenaran. Jadi, apabila kebohongan media terus diumbar, akan menjadi tolak ukur kebenaran pula-lah nantinya. Aku tidak habis pikir, dan lalu tersadar, betapa mengerikannya hal bernama media massa itu. Yang kuasanya bahkan secara tidak disadari melebihi RI 1. Dewa 200 juta jemaat.

“Pak, saya sekarang kelas dua belas. Menurut bapak, bagaimana jika saya masuk kuliah jurusan ilmu media?” Pak Eno hanya mengangkat tangan seolah-olah berkata, terserah, apa peduli saya?

Kami terus mengadu langkah bidak-bidak catur sampai adzan Ashar berkumandang. Saat itu, langkah ‘raja’-ku dijegal oleh ‘benteng’ Pak Eno. Selang beberapa saat, kami terdiam untuk mendengarkan adzan. Tak terasa sudah hampir satu jam aku dan Pak Eno bermain catur. Bermain Dewa, menurutnya.

Berminggu-minggu ini, aku seringkali dipusingkan dengan pertanyaan tentang universitas dan fakultas apa yang akan aku pilih nanti. Masa seragam putih abu-abu untukku akan berganti jadi masa pakaian non-formal beberapa minggu lagi. Namun, kali ini, atas permainan catur di sore hari ini, aku berketetapan menjadi petinggi di media massa. Menyediakan hal-hal aktual dan faktual. Kualitatif, namun kreatif.

Sore itu, rangkaian ambisi, semangat, dan juga harapan ter-rangkai padu padan dalam pemikiranku. Seakan-akan aku tengah mencoba untuk menjadi pemuda pengubah dunia yang diorasikan Soekarno. Benar, tak ada jaminan bahwa menjadi politisi lantas membuat kita jadi reformator negeri.

Bahwa, media 200 juta rakyat negeri inilah yang akan menentukan apakah rakyat akan tercerahi atau tergelapkan. Bahwa, inilah apa yang akan mempersempit dunia menjadi layar 14 inci. Bahwa, inilah apa yang akan layar 14 inci desakkan pada pemikiran rakyat.

Aku memundurkan ‘raja’-ku satu kotak ke belakang, kembali ke tempat awalnya. “Pak, saya hanya berpikir. Jangan-jangan, kita ini memang sedang defisit kreativitas, surplus plagiarisme. Defisit pemikir, surplus orang yang terbodohi. Defisit kualitas, surplus kuantitas.” Pak Eno tertawa lalu memajukan kudanya searah huruf L.

“Ya! Skak mat!”

  • view 167