Abad 21, Masih Percaya Ramalan Zodiak??!

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Abad 21, Masih Percaya Ramalan Zodiak??!

5 Februari 2014
?#TentangAstrologi??? ?#RamalanZodiak???

Saya tidak habis pikir kenapa banyak sekali orang-orang yang percaya dengan ramalan zodiak. Padahal jika dikritisi, ramalan nasib berdasar zodiak itu tidak bisa dipercaya, baik secara agama maupun logika.

Zodiak yang paling umum dianggap ada 12. Secara logika, asumsikan populasi manusia ada 7 milyar, dan katakanlah bahwa semua manusia lahir secara tersebar dalam 12 bulan. Berarti 1/12 populasi manusia di bumi itu ada sekitar 584 juta orang. Sekarang, jika ramalan astrologi kita kebetulan benar menyebutkan bahwa kita tidak akan punya uang, apa 584 juta orang di bumi ini juga tidak akan punya uang? Apa saat kita diramalkan akan kena bisul, 584 juta orang di bumi ini akan kena bisul juga? Tidak, kan? Jadi, ?#StopBacaRamalan???! ^^

"Lho, tapi kan saya cuma baca doang, gak ada niat buat percaya. Buat fun aja. Gak salah, kan?"
SALAH. Secara agama, sudah jelas bahwa mempercayai ramalan itu dilarang. Seperti salah satu hadits:
"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima." [H.R. Muslim, 2230]

Dengan mendatanginya aja udah bahaya. Apalagi baca, dengar, dan lebih jauh, karena ramalan tersebut benar, kita lalu mempercayainya dengan kata "Wah iya! Bener banget!"

Duh jangan sampai keisengan kita membawa dampak negatif, deh ya. Jadi, ?#StopBacaRamalan???

"Kenapa sih astrologi atau ramalan nasib itu kayanya benar selalu?"

Teman-teman pernah dengar tentang validasi subjektif? Aduh sebenarnya saya bukan ahli dalam masalah ini. Tapi akan saya coba jelaskan.
Validasi subjektif itu terjadi ketika dua peristiwa yang tidak terkait atau acak dianggap berhubungan karena keyakinan atau ekspektasi menuntut adanya hubungan antara 2 peristiwa itu. Dengan kata lain, kita sendirilah yang menghubung-hubungkan persepsi kepribadian diri dengan isi horoskop. Konsepsi psikologi ini diuji pertama kali oleh Bertram R. Forer, dan kemudian diterapkan ke dalam astrologi oleh Michael Gauquelin. Jadi, persepsi kita lah yang sebenarnya 'bermain'. So ?#StopBacaRamalan???

Dalam 2000 tahun terakhir, rotasi bumi membuat bumi bergeser dari porosnya, sehingga rasi bintang bergeser 1 derajat setiap 72 tahun. Akibatnya, zodiak kita harusnya bergeser satu dong. Jadi sekarang, saat kita menunggu matahari terbit pada bulan Maret, matahari akan terbit melewati rasi bintang Aquarius, bukan Pisces. Nah lho, mau percaya dengan hal yang tidak konsisten seperti itu? ?#StopBacaRamalan???

"Ya elah. Timbang baca doang. Gak bahaya juga lagian!"

Sekali lagi, saya katakan statement diatas SALAH besar. Bahaya yang paling mengkhawatirkan adalah, astrologi mempromosikan pemikiran yang tidak kritis. Semakin sering kita baca ramalan zodiak, otak kita akan semakin sering juga menerapkan sistem penerimaan informasi yang cherry-picking, pilih yang mendukung, abaikan selebihnya. Ini buruk sekali. Kemampuan otak kita sedikit banyak akan terkikis, menjadi makin tak kritis. Toh, nasib kita sendiri yang menentukan, bukan? Bukan ramalan, kawan.

"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah"
[Q.S. An-Naml:65]
Yuk, ?#StopBacaRamalan??? ^^

Udah, lebih baik baca Al-Quran yang jelas-jelas bermanfaat, pedoman bagi ummat. Bukannya ramalan, yang jadi sugesti buruk untuk ummat.
Lalu, unfollow lah semua akun ramalan. Follow akun yang senantiasa mengingatkan. Seperti ig @ldk_kmitenas, twitter @ayotilawah, dan akun lain yang jauuuh lebih bermanfaat. Jadi, sepakat?
^^
(source : rangkuman dan pengamatan pribadi, andri0204)

---
^ Diposkan sebagai status berantai fb 2 tahun silam. Masih relevan tapi.

#BismillaahAja

  • view 242