[Tentang Bapak] : #0

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Project
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Tentang Bapak

Tentang Bapak


Sekumpulan catatan harian tentang bapak penulis, Harun Atma Tunggara.

Kategori Non-Fiksi

220 Hak Cipta Terlindungi
[Tentang Bapak] : #0

3 Desember 2015.
Hari ini, 73 tahun yang lalu, kira-kira apa yang tengah nenek pikirkan, Pak?

Mungkin, ia tengah harap-harap cemas sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat cinta dengan lirih. Pada malam-malam ketika seluruh pelita dipadamkan, ia mungkin sedang menyampirkan mukena, menghadap kiblat dan melangitkan doa.

Itu hanya analisa kasarku, Pak. Sebab menantikan seorang yang hebat lahir tentunya menghadirkan berbagai kecamuk yang bergelora. Ada gelisah yang singgah, cemas yang melingkup kala membayangkan kau lahir dengan sedikit kesukaran. Dan tentu ada harapan, agar kau lahir tanpa satupun kendala dan tumbuh menjadi putra yang bersahaja.

Kurasa, doa-doa yang nenek panjatkan saat itu dikabulkan oleh Yang Mahakuasa. Kau lahir dengan berbagai keistimewaan yang sungguh tak terkira. Kau hidup sebagai pria sederhana, namun dengan pembawaan yang jauh dari kata biasa.

Sebelas tahun tumbuh bersamamu, aku tahu bahwa Allah mengaruniakanku seorang satria yang berbelas kasih. Kau mungkin bukan Hatta atau Hamka. Kau dinamai Harun. Nama yang sama seperti nama saudara utusan Allah, yang diangkat pula menjadi utusan Allah karena kecakapannya. Karena budinya. Saudara yang selalu bisa diandalkan. Pun denganmu, seorang ayah yang sederhana namun selalu bisa dipercaya.

Kepada Bapak yang tengah berada di ruang tunggu menuju surga, rasanya perjumpaan kita di bumi Allah terlalu singkat. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin mengenalmu dengan pikiran-pikiran yang jauh lebih dewasa. Aku ingin mengenalmu dengan teramat sungguh. Aku ingin berlama-lama ada di pangkuanmu kala menonton film. Aku ingin berlama-lama ada di punggungmu kala aku dibangunkan dari tidur. Aku ingin berlama-lama berlari pagi ke kota dan pulang bersama kupat tahu. Aku ingin berlama-lama duduk di ruang tengah dan mengisi teka-teki silang harian pagi. Aku ingin berlama-lama menjelajahi kota dengan motor Honda. Aku ingin berlama-lama bercengkrama denganmu. Aku ingin berlama-lama ada di dekatmu!

Pak, aku tidak banyak mengenalmu. Sebelas tahun terasa begitu sebentar. Meski banyak kenangan yang kau hidupkan, ada beberapa kenangan yang berceceran di benakku. Sebagian kenangan mengakar kuat dalam memoriku yang terbatas, dan sebagian lagi harus kugali dalam-dalam jika ingin direka ulang. Aku takut. Aku takut kau hilang.

Aku takut kau perlahan-lahan hilang. Biar saja jasadmu yang hilang dari penglihatanku, tapi kenanganmu jangan. Aku ingin mendekapnya erat hingga lahat. Tapi otakku yang terbatas ini makin hari makin sulit untuk diajak bernegosiasi. Karena itu, Pak, biar aku noktahkan segala hal yang kusyukuri atas hadirmu pada abjad yang bicara. Kau tentu tidak keberatan, bukan?

Kepada Bapak yang tengah ada di ruang tunggu menuju surga, sebetulnya ada hal lain yang kutakutkan jika kenangan tentangmu hilang. Aku takut, cucu-cucumu nanti lebih khatam sejarah para pahlawan daripada sejarahmu. Padahal, berkat hadirmu, aku bisa tumbuh dan menerima banyak cinta. Padahal—tanpa mengabaikan andil para pahlawan—kau jauh lebih hebat. Dalam tiap aduan yang kubumikan pada Allah, aku mengulang harap agar cucu-cucumu kelak akan menjadi orang sebersahaja engkau. Sungguh.

Maka, Pak, izinkan aku menoktahkan banyak kisah soal kebersahajaanmu. Kau tentu tidak berkeberatan, bukan? Karena aku mengenalmu, aku tahu kau hanya akan mengernyitkan dahi, tapi tidak menolak atau mengiyakan. Kuanggap itu sebagai ya.

Tulisan-tulisan yang berisi namamu nanti adalah sebuah perayaan kecil dariku. Bentuk rasa syukurku pada Allah karena 73 tahun lalu, seorang anak telah lahir, tumbuh menjadi orang hebat, dan membimbing sebuah legiun tangguh bernama keluarga. Dan pada legiun kebanggaan itu, aku turut hadir dan tumbuh. Maka nikmat Allah yang manakah yang aku dustakan? Maka nikmat Allah yang manakah yang aku ragukan?

  • view 219