Kepada Penyempurna

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Project
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia


Jangan lupa bahagia merupakan kompilasi dari 10 surat yang ditulis dari dan untuk orang yang berbeda-beda. Penulis memainkan peran sebagai banyak tokoh sehingga surat yang dikirimkan memiliki kisahnya tersendiri.

Kategori Acak

3.3 K Hak Cipta Terlindungi
Kepada Penyempurna

KEPADA PENYEMPURNA

 

Aku adalah orang yang paling anti dimintai tulisan. Sederhana saja, karena menurutku, tulisan itu harus hadir dari kejujuran paling asas. Dan paksaan jarang menghadirkan kejujuran di tiap baitnya. Aku juga bukan orang yang bersemangat bila harus menulis bagi orang lain. Aku bukan desainer yang bisa dimintai peran untuk menyelesaikan suatu karya bagi orang lain. Bagiku, abjad itu bebas dan merdeka. Ia jujur dan abhati.

Karena itu, bila ada orang lain yang memintaku menuliskan tulisan tentang mereka, aku tidak pernah mau. Bahkan tak pernah terbesit satu keinginan pun aku menuliskan kisah yang dikirimkan langsung pada seseorang secara khusus.

Namun kali ini, sepertinya ada pengecualian.

Untuk ia yang kelak akan bersanding dengan nama Nurul Kamilah Harun di akta kelahiran putra-putrinya, kuharap kau mau menyisihkan sedikit kesibukanmu membaca tulisan ini.

Kakakku, yang amat banyak maunya itu, mungkin bukan gadis paling cantik yang pernah kautemui dalam hidup. Begitu banyak gadis yang jauh lebih cantik darinya. Tapi jika kau menantang aku untuk memberikan jawaban terbaik soal siapa gadis yang paling baik dalam memuliakan separuh diin-nya, selain ibuku, ia adalah jawabannya.

Kakakku, yang perasaannya sering kacau terlebih di waktu-waktu sebelum akad, mungkin bukan orang yang paling mampu mengendalikan perasaan. Begitu banyak gadis yang jauh lebih sabar berlalu-lalang di hadapanmu. Tapi jika kau menantang aku untuk memberikan jawaban terbaik soal siapa gadis yang paling tabah dan mampu menabahkan separuh kekhawatiranmu, ia adalah jawabannya.

Kakakku, yang kadang manja bukan kepalang, mungkin bukan orang paling dewasa dalam hidupmu. Begitu banyak gadis yang jauh lebih dewasa dibanding ia. Tapi jika kau menantang aku untuk memberikan jawaban terbaik soal siapa gadis yang paling mampu berlaku bijaksana terhadap kekalutan yang kau dan ia lalui, ia adalah jawabannya.

Kakakku, yang kadang menemui sindrom malas, mungkin bukan orang paling rajin dalam hidupmu. Begitu banyak gadis yang jauh lebih rajin dibanding ia. Tapi jika kau menantang aku untuk memberikan jawaban terbaik soal siapa gadis yang paling mampu merapikan keruwetan yang kautempuh, ia adalah jawabannya.

Kakakku, yang kadang tersesat dalam serangkaian target dan harapan-harapan personal, mungkin bukan orang yang paling jelas dan terorganisir. Begitu banyak gadis yang jauh lebih disiplin dibanding ia. Tapi jika kau menantang aku untuk memberikan jawaban soal siapa gadis yang paling mampu mengedepankan altruisme, dan menempatkan prioritas keluarga pada tempat teratas, ia adalah jawabannya.

Ia mungkin akan banyak mengikutsertakan hati dan perasaannya dalam membuat keputusan. Entah soal kosmetik, pakaian, atau bahkan makanan. Tapi karena itu, ia tidak akan pernah menuhankan logika demi menyempurnakanmu. Ia tulus menerimamu apa adanya. Soal ini, kau juga tentu tahu, bukan?

Kau akan mengenalnya lebih jauh, tentu saja. Kau akan mengenalnya dalam perjalanan kalian menuju nirwana. Tentu tidak mudah. Akan ada banyak selisih paham yang kautemui. Akan ada banyak hal yang tidak kausukai pada dirinya. Tapi jangan menyerah untuk terus mencintainya. Rangkul ia dan temukan solusi paling mujarab, bersama-sama.

Segera setelah qabul terucap, ada banyak hal yang akan berubah. Status hubungan di KTPmu akan berubah jadi kawin. Kau akan secara resmi dipanggil Bapak. Kakakku akan mulai dipanggil dengan namamu. Kau akan bangun dengan seseorang yang bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan (ini akan segera terwujud, insyaa Allah). Tapi jauh dari dalam lubuk hati adik kecilmu yang bahkan baru mengantongi kartu tanda penduduk ini, aku harap kau dan kakakku bisa bangun lebih awal bersama-sama. Berserah diri dengan syahdu di pertigaan malam, bersujud khusyu hingga fajar menyaru.

Segera setelah qabul terucap, ada tanggung jawab tambahan yang kautanggung. Tapi kakakku ada di sana, siap berbagi lara. Duhai, bahkan menurut Rasul Allah, itulah tanggung jawab paling nikmat. Soal tanggung jawab ini, kukira kau lebih mafhum. Ingat saja, setelah ini, kau bukan lagi lanang yang sendirian. Kakakku ada di sana untuk meneduhkan.

Kakakku adalah orang baik, maka dengan pilihannya yang berlabuh padamu, itu menandakan bahwa kau juga orang baik. Maka tak ada lagi yang bisa kuutarakan. Hanya saja, jangan kau bahagiakan ia. Bahagialah bersama-sama. Namun dengan begini juga berarti kebahagiaan ia merupakan kebahagiaanmu, begitu sebaliknya. Jangan berdoa agar ia jadi istri yang shalihah, tapi shalihlah bersama-sama. Ajak ia berjuang bersama-sama menuju surga, ya?

 

Bandung, 6 Desember 2015

Utami Nurhasanah Harun, iparmu.

  • view 298