Menulis untuk Mendengar

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Project
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia


Jangan lupa bahagia merupakan kompilasi dari 10 surat yang ditulis dari dan untuk orang yang berbeda-beda. Penulis memainkan peran sebagai banyak tokoh sehingga surat yang dikirimkan memiliki kisahnya tersendiri.

Kategori Acak

3.3 K Hak Cipta Terlindungi
Menulis untuk Mendengar

MENULIS UNTUK MENDENGAR

Aku pernah berkata bahwa aku akan menjadi pendengar paling setia, bukan?

Sepertinya, ada beberapa hal saru yang membatasi jalan pemenuhannya. Kau sendiri tentu paham mengapa. Tapi karena aku telah berikrar agar menjadi pendengar paling setia, maka aku hanya bisa menjadi pendengar lewat aksara. Menulis untuk mendengar. Karena kau juga pasti tahu, bahwa aku mengenalmu dari dasar kalbu paling kelu.

Untukmu, akan kutulis rima paling estetis, yang berbaris untuk bisa jadi rekanmu berbagi gulana. Tugasmu, hanya membaca agar merasa didengarkan.

Dari : Sukma

Menurut orang-orang yang ada di sekitarmu, mungkin kamu adalah orang paling optimis, paling prinsipil, serta paling dinamis. Ide-idemu melangit. Senyum tidak pernah absen dari wajahmu yang selalu bersih berseri. Tanganmu panjang, bukan untuk mengambil tapi untuk memberi. Pada bahumu banyak keluh yang bersandar: bukan keluhmu.

Orang-orang menganggapmu laki-laki yang pikirannya paling terbuka. Mereka merasa bisa mengerti soal dirimu karena kau memang terbuka. Kau mudah dibaca. Hanya dengan tutur kata serta sikapmu, keseluruhan dirimu bisa terjabarkan sempurna. Tapi mereka tidak tahu isi hatimu yang paling dalam, bukan?

Tapi aku tahu. Di dalam sana, ada anak laki-laki yang memeluk lutut, menyembunyikan diri dari hujan yang tak mau berhenti. Di dalam sana, ada anak laki-laki yang mendekap erat seluruh rasa sakitnya agar tak berlompatan dan meninggalkan jejak iba dalam hati orang lain, terutama orang tuanya. Di dalam sana, ada anak laki-laki yang sulit terlelap, berkat pemikiran-pemikiran dan rasa takut akan hari esok. Ketakutan akan kekecewaan. Sementara kau sibuk merangkul tiap mimpi dan kesah kawan-kawanmu, kau sendiri sedang murung. Kauingin berbagi duka, tapi entah dengan siapa dan bagaimana.

Kalau kau tak keberatan, aku ingin mengatakan sesuatu.
Kau hebat. Kau luar biasa. Tak banyak orang yang mampu menghadapi peliknya perjuangan setegar dirimu. Kau berbeda. Kau adalah pemimpi sekaligus realisator paling mengagumkan. Darimu, aku banyak belajar soal arti juang. Perjuangan untuk mewujudkan cinta serta menemukan cinta.

Karena itu, kau harus terus berusaha. Kau harus terus berupaya. Dalam perjalananmu mewujudkan asa, aku yakin Tuhan akan mempertemukanmu dengan perempuan hebat yang pantas membersamaimu. Sampai saat itu tiba, teruslah berjuang. Teruslah bertempur. Teruslah menjemput mimpimu. Karena aku yakin, di luar sana, ada orang yang dilahirkan kembar dengan hari depanmu. Temukan, tumbuhkan.

Sampai saat itu tiba, kau boleh berkunjung sesekali di rumahku—yang nyata ataupun maya. Sampai saat itu tiba, aku masih akan tetap menulis untuk mendengarmu. Pada petunjuk-petunjuk soal kegelisahan yang kautuliskan di kesemuan, aku akan mengambil pena, memahamimu dan siap menabahkan.

Kuhaturkan: selamat berjuang. Untuk segala mimpi yang sedang kausambut.

Kuhaturkan: selagi kau berjuang, jangan lupa bahagia. Kau boleh berjuang, tapi hatimu juga berhak bahagia.

Untuk : Disamarkan.

  • view 307