Surat Untuk Zarah yang Beda

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Project
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia


Jangan lupa bahagia merupakan kompilasi dari 10 surat yang ditulis dari dan untuk orang yang berbeda-beda. Penulis memainkan peran sebagai banyak tokoh sehingga surat yang dikirimkan memiliki kisahnya tersendiri.

Kategori Acak

3.2 K Hak Cipta Terlindungi
Surat Untuk Zarah yang Beda

Kepada kamu, yang duduk memegang dagu di atas rasa ragu. Apa kabar? Semoga baik. Semoga selalu baik.

Kepada kamu, yang masih menjalin benang Ariadne dan mengurainya kembali siang-malam tanpa henti. Bagaimana kabar hati? Semoga tetap bergembira, meski sulit tiada terkira.

Kamu tahu? Aku masih saja memimpikan senja yang menggantung. Dengan burung-burung walet yang melintasinya. Dengan angin yang berdesir dari barat ke timur. Dengan jantung yang berdegup cepat lalu melambat. Dengan isak yang tak nampak—yang kita coba kubur dalam-dalam di balik sunggingan bibir yang merekah. Dengan ucapan yang kini menggarisi jalanmu dan jalanku, ucapan yang membatasi jalanmu dan jalanku, ucapan yang memisahkan jalanmu dan jalanku.

Kamu sendiri sudah barang tentu mengerti. Kamu adalah cahaya dan aku adalah kegelapan. Zarah yang tidak ditakdirkan untuk bergandengan tangan dan menerka-nerka masa depan. Kita sendiri tentu sudah paham. Berlama-lama berdamai dengan keadaan hanya akan memperpanjang beban. Karena hanya senja saja yang mampu melerai kita berargumen dengan nurani. Kamu adalah lentera dan aku adalah muram. Yang jika bersama hanya akan saling melenyapkan.

Kabarnya, Pond des Art, tempat kita diam-diam bersua dulu pun sudah roboh, sudah ambruk, sudah larung seluruhnya oleh deras sungai. Bersamaan dengan binasanya wadah perjumpaan kita, semestinya berakhir jugalah permainan petak-umpet kita ini. Biar berakhir seri tanpa pemenang. Semestinya begitu juga dengan janji yang kita bubuhkan pada gembok hati itu—yang kini sudah ikut hanyut ke laut dan sedang menunggu karat mendekat.

Kedunguan kita soal cinta, mari sudahilah. Karena kamu adalah kunang-kunang, yang mengiringi bintang berkelip pada gelap malam, sedang aku adalah gelap malam, yang harus selalu menjauh dari cahaya demi terus menggulita. Dan lagi; senja sekarang sudah jarang menengahi. Sebentar saja ia datang, kemudian lari lagi tanpa permisi. Tidak terprediksi.

Kamu juga pasti mengerti, aku tahu. Meski mati-matian beralasan, kamu pasti akan paham tentang hal ini. Hal yang perlu dilakukan agar kelak, kamu tidak perlu lagi sungkan untuk bercahya. Agar kamu tidak perlu lagi membasahi pipi dengan lara. Agar kamu tidak perlu lagi khawatir soal keadaan yang kujalankan. Agar kamu tidak perlu lagi cemas soal janji yang tak kunjung ditepati. Agar kamu tidak perlu lagi sesak napas melihat senja menjauh bebas.

Karena kita sudah tumbuh lebih cepat dari kedatangan senja. Sudah terlalu uzur untuk terus bermain petak-umpet saat petang. Saatnya kita mulai menangani perasaan-perasaan yang berantakan dan hidup kita yang urakan. Hidup yang selalu saja berlainan.

Kemasi barang-barangmu segera. Angkat kepalamu; jangan murung. Kereta akan segera berangkat dan kamu harus segera mengerti. Kamu adalah cahaya dan aku adalah kegelapan. Yang jika bersama hanya akan saling melenyapkan.

Hati-hati di jalan.

Dari dia yang senantiasa mendoakanmu kebaikan.

  • view 263