Untuk Guntur di London

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 Agustus 2016
Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia


Jangan lupa bahagia merupakan kompilasi dari 10 surat yang ditulis dari dan untuk orang yang berbeda-beda. Penulis memainkan peran sebagai banyak tokoh sehingga surat yang dikirimkan memiliki kisahnya tersendiri.

Kategori Acak

3 K Hak Cipta Terlindungi
Untuk Guntur di London

Untuk Guntur di London.

 Assalaamu’alaykum.

Apa kabar, bung? Kurasa, ada banyak kabar yang belum kauberitakan padaku. Bukan saja soal keadaan fisikmu, melainkan juga kabar-kabar soal kehidupan barumu sebagai warga kehormatan Britania Raya.

Tak bisa kupungkiri, aku terkejut saat menyambut kehadiran bapak pengantar surat di depan apartemen sederhanaku di Norwegia. Saat itu, udara bulan Desember masih tidak bersahabat seperti biasa. Namun surat dengan kartu pos bergambar Istana Buckingham berhasil terbang jauh sampai di pelataran apartemenku. Udara lantas semakin menusuk tatkala kulahap habis tiap kata yang ditulis tanpa cela di atasnya. Tulisanmu. Tulisan soal pengembaraanmu yang mengantarkanmu pada keputusan paling absis nan penuh kepastian. Dengan gamblang, pada alinea tiga, kau menulis: aku bukan lagi seorang Indonesia.

Aku akan mengawali surat ini dengan sebuah keberangan. Bukan karena kaupergi dengan menanggalkan status warga Indonesia, tapi karena kau telah menodai sumpah dan akal budi negeriku—mantan negerimu.

Indonesia, seperti yang telah kausebutkan di suratmu, adalah negara dengan ladang buah paling ranum namun terselimuti berbagai birokrasi yang tumpul. Indonesia adalah negeri yang tidak malu untuk menunjukkan hipokrisinya ke mata dunia. Betapa, keramahan yang kita puja-puji ke hadapan dunia hanyalah topeng untuk menutup berbagai luka yang berderit-derit pada muka kita. Betapa, seluruh penghargaan yang dunia paketkan padanya cuma sebuah penggembira bagi sapi yang tengah diperah susunya tanpa permisi. Dan harus kuakui dengan getir, bahwa semua yang kaukatakan tentang Indonesia pada suratmu itu, memang benar adanya.

Maka demi menentang seluruh risetmu tentang bobroknya negeri kami, aku ingin meluruskan satu atau dua hal. Bukan dengan riset tandingan yang cuma memperkuat argumentasimu soal budi bangsa yang terdegradasi, tapi dengan tekad dan itikad yang meski musykil adanya, tetap dipandang perlu demi tegaknya sebuah bangsa.

Bagiku, sejak sebelum para tiran-tiran asing menjarah harta bangsa, Indonesia telah mencuri hatiku sedemikian besarnya. Bangsa ini tumbuh dengan segala jejak historis yang hebat. Diceritakan, bangsa ini pernah menguasai negara-negara tetangga dengan armada-armada yang hebat pula. Peradaban dibangun di bawah komando-komando raja dengan wibawa tinggi. Dan lalu, setelah kaum-kaum—yang telah jadi kelompok tempatmu berbagi gelar—itu menggasak isi lemari kami, tak satupun elemen menurunkan pedang untuk merebut kembali hak milik yang telah dicuri dari mereka.

Jaman mungkin berubah dan semua tak sama lagi. Tapi bagiku, bangsa Indonesia, dari waktu ke waktu tidak pernah kehilangan jiwa heroiknya. Pada surat-surat kabar yang dibredel, pejuang-pejuang yang tak takut mati terus membakar spirit bangsa buat merdeka dari kungkungan penjajahan yang laten. Dari boneka-boneka dan robot-robot yang menyamar dan membaur serupa bangsa yang baik ini. Seruan-seruan merdeka dan tuntutan keadilan terus digelorakan meski tertahan oleh gas air mata, tank baja, atau senjata mematikan teranyar: kamera.

Kau sendiri pernah menjadi salah satu bagiannya. Kita, dengan seluruh ego bernama kewajiban mahasiswa, pernah berlari dari tank-tank yang membuat mata kita perih bukan main. Kita pernah berorasi sampai gagu selama tujuh hari setelahnya. Kita pernah sama-sama dibungkam paksa setelah artikel tuntutan merdeka kita disiarkan ke seluruh kota. Kau pernah menjadi bagian di dalamnya, dan itu sudah cukup banyak membuktikan betapa aku kagum atas heroisme bangsa ini.

Sungguh, aku telah membaca suratmu berulang kali dan aku belum juga menemukan kalimat paling tepat untuk membenarkan ucapanmu tentang bangsa dan negeri ini. Aku tidak mengerti mengapa negeri ini dihina demikian hebatnya oleh seseorang yang pernah berjuang memerdekakan negeri ini sendiri. Aku mengawali surat ini dengan keberangan, namun karena aku orang Indonesia, aku akan mengakhiri surat ini dengan pekerti yang sepatutnya dimiliki orang Timur.

Seperti yang kau tahu, aku adalah pemuda yang lahir dan tumbuh sebagai orang Sumedang. Kota kecil di selatan Bandung dimana Jalan Cadas Pangeran begitu masyhur. Kau tahu, semboyan kotaku adalah Insun Medal Insun Madangan. Aku lahir untuk menerangi. Berbeda denganmu. Kau tumbuh dengan harapan mencari cahaya. Dan ketika segala yang kau lihat hanyalah gelap yang mendera, kau berusaha keras mencari sumber cahaya. Yang bisa menerangimu kala membaca buku. Tapi kau tahu, menurutku, cahaya yang kaupeluk kini terlalu silau dan justru bisa membutakan. Sedang bagiku, aku tidak lahir untuk mendefinisikan kata gelap-terang dan mencari sumber pelita. Karena akulah yang akan menjadi cahaya itu sendiri: aku lahir, aku tumbuh, aku menerangi.

Sebagai teman yang lama berdebat denganmu soal aksi-aksi sosial politik seorang mahasiswa, aku khawatir. Jujur saja, aku cemas. Aku cemas membayangkan bahwa kau telah tumbuh menjadi seseorang yang lain. Aku khawatir membayangkan bahwa kau telah tumbuh dengan kebutaan yang menggelapkan. Aku begitu takut membayangkan bahwa kau tumbuh dengan hanya melihat hitam sebagai kata ganti masa depan. Tapi kembali, sebagai seorang Timur dan orang Indonesia, aku tetap akan menghormati segala keputusan yang telah kauambil. Karena aku tahu, sebuah keputusan yang diambil perwira kehormatan tidak pernah ditempuh lewat lemparan koin.

Untuk mengakhiri surat ini dengan pamungkas, aku akan menceritakan soal keindahan yang kucintai dari bangsa dan negeri ini.

Negeri ini lahir dengan falsafah hidup yang setali dengan nadir. Aku selalu menganggap demikian. Senyum-senyum yang melengkung di bibir mojang-mojang priangan bukanlah tanda kemunafikan, Guntur. Begitu pula dengan senyum-senyum anak kecil di atas bus kota yang lelah bernyayi seharian. Dari situ aku paham bahwa di tengah kondisi sesulit apapun, bangsa dan negeri ini tidak akan pernah kehilangan alasan untuk terus berbahagia. Dan itu, bagiku adalah sebuah cahaya yang tak berbatas. Bukan seperti neon-neon yang berkelip di sekitar London Eye, yang harus diganti persekian tahun untuk bisa mengukir kembali senyum anak-anak kecil bermantel biru.

Negeri ini dianugerahi berjuta-juta hal yang tak pernah habis dihitung. Aku, bahkan ketika aurora borealis mengapung di tempatku berada kini, tetap tidak bisa mengabaikan kenangan soal bunga amyrilis di Gunung Kidul. Soal Derawan yang menyuguhkan mozaik alam bawah laut yang memukau. Tentang salju abadi magis yang menutupi tanah tropis Jayawijaya. Tentang pulang Jawa yang punya gurun dan sabana yang bertolak-belakang. Kuda-kuda perkasa di Sumbawa, aroma perjuangan di kota-kota tua, gamelan yang berbunyi nyaring di sepanjang jalan Malioboro, obrolan-obrolan tentang hidup di warung kopi, langit jernih tempat rasi bintang berpesta-pora, dan semua detail tentang Indonesia selalu melekat dalam ingatanku. Seluruhnya—termasuk tank-tank baja yang sering mengantarkan massa aksi kita dengan chaos—selalu membuatku merinding dan merindu. Sekali lagi aku yakin, bahwa bangsa dan negeri ini tak akan pernah kehilangan alasan untuk bahagia. Dan itulah cahaya paling sejati, paling abadi. Materi itu berdurasi, Guntur, tapi kebahagiaan dibawa sampai mati.

Aku tahu, masih banyak selimut yang perlu disibak di negeri archipelago ini. Dan kau juga perlu tahu bahwa, cita-cita yang sempat kita pegang dulu masih terus bergulir menuju pundak-pundak pemuda yang adicipta. Perlahan tapi pasti, kami akan menjadi penerang bagi kelam yang melingkupi negeri ini. Meski tanpa bambu runcing atau senapan, selimut-selimut di atas negeri ini akan tersapu oleh bara yang menjilat-jilat semangat kami. Ini bukan pikiran naïf anak SD, Guntur. Kau harus mengakui bahwa, di lorong-lorong tersembunyi negeri ini, sesuatu sedang terjadi. Sesuatu sedang dibangun dan nasib baru akan kami garisi. Dan kau, akan menyaksikan kami merdeka sekali lagi dengan lengan baju kami yang menyingsing, sedang engkau duduk bersila di depan televisi dengan segala nikmat yang kauperoleh cuma-cuma.

Aku mencintai bangsa dan negeri ini dengan segala keterbatasannya dan dengan segala keterbatasanku.

Guntur yang baik, sebagai orang Timur, orang Indonesia, dan seorang kawan, aku masih akan tetap menghormati putusanmu pindah kewarganegaraan. Beberapa kawan lamamu di himpunan mungkin akan terus berdebat soal kepantasanmu berada di grup-grup online tempatmu berjuang dulu. Mereka akan mencoba menghapusmu dari daftar anggota, dan itu berarti juga menghapus seluruh memori tentangmu yang menjadi orator paling depan saat aksi. Tapi untukku, entah kau berpindah ke London atau Mars sekalipun, tetap akan menghormatimu sebagai rekan dan karib. Karena kau berhak berbahagia dengan semua keputusanmu dan keputusasaanmu.

Guntur yang baik, aku jadi bertanya-tanya. Apabila nanti kau tiba-tiba dipromosikan tempatmu bekerja sekarang untuk menjadi Duta Besar Britania Raya bagi Indonesia—atau minimal konsulat yang mengharuskanmu menetap kembali di Indonesia, apa yang akan kaulakukan? Membayangkannya saja lucu, ya?

Ah, biarlah. Yang jelas, perlu kutegaskan sekali lagi: aku sahabatmu. Dan pesanku: kau berhak berbahagia dengan semua keputusanmu dan keputusasaanmu. Jika pergi untuk menetap ternyata adalah pilihan akhirmu, biarkan saja begitu. Sedang bagiku, aku hanya pergi sebentar ke negeri orang untuk kembali menerangi kampung halamanku, Indonesia.

Baik-baik di sana, Guntur. Kirimi kami kabar. See you again with a bunch of curved smiles!

Norway, December 2015.

Your friend from Sumedang,

Lalang.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    12 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Tulisan yang mewakili pilihan tim redaksi kali ini bisa dibilang cukup lain dari biasanya. Sementara kami sering memunculkan cerita pendek tetapi edisi kali ini kami terpukau dengan karya yang satu ini. Biasanya kami memuji tulisan berkat keindahan kalimatnya, karakter atau akhir kisahnya. Tetapi kali ini, sungguh luar biasa pesan yang disampaikan oleh Utami ini. Kalimat yang ia tulis sungguh tegas, tanpa tedeng aling-aling menampar siapa pun yang seperti halnya Guntur lebih memilih berganti kewarganegaraan atau bagi yang masih WNI tetapi masih memaknai kemerdekaan dari kacamata yang masih sempit.

    Tulisan ini memberi warna nasionalisme dengan cara yang sungguh jujur sekaligus bijak. Jujur dalam arti ya begitulah Indonesia, negeri yang masih melihat banyak orang miskin, birokrasi yang berbelit-belit dan korup. Yang paling nendang dari ucapan Lalang adalah saat ia menjelaskan perihal pendapat Guntur bahwa orang Indonesia adalah kaum hipokrit, yang sesungguhnya menyimpan banyak masalah walau ramah ke orang luar. Baginya, hal tersebut justru membuktikan bahwa rakyat Indonesia selalu mempunyai alasan untuk bahagia walau pun dihimpit banyak masalah. Walau tulisan ini panjang tetapi tidak membosankan sebab argumen Lalang berdasarkan banyak fakta dan sangat arif.


    • Lihat 1 Respon

  • muhammad aris
    muhammad aris
    12 bulan yang lalu.
    salam mahasiswa.

  • Wijatnika Ika
    Wijatnika Ika
    12 bulan yang lalu.
    Tulisan ini bikin kedua mata saya berkaca-kaca...

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    12 bulan yang lalu.
    Ah... bagus dan nasionalis banget. Merdeka~~