Untuk Lalang di Norwegia

Utami Nurhasanah
Karya Utami Nurhasanah Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 Agustus 2016
Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia


Jangan lupa bahagia merupakan kompilasi dari 10 surat yang ditulis dari dan untuk orang yang berbeda-beda. Penulis memainkan peran sebagai banyak tokoh sehingga surat yang dikirimkan memiliki kisahnya tersendiri.

Kategori Acak

3.1 K Hak Cipta Terlindungi
Untuk Lalang di Norwegia

Untuk Lalang di Norwegia

Assalaamu’alaykum.

Temanku, Lalang yang selalu bersahaja, apa kabarmu? Semoga selalu baik.

Aku tidak akan berbasa-basi terlalu lama. Aku hanya akan langsung menceritakan pokok permasalahan yang sampai membuatku menulisimu surat dari London-Norwegia. Masalah ini adalah masalah yang bersangkut-paut akan nasib perjalananku kelak.

Lalang, aku bukan lagi seorang Indonesia.

Aku tahu kau mungkin akan terperanjat dari kursi malasmu setelah membaca kata-kataku di atas. Kau akan kehilangan kata-kata setelah membacanya. Kau akan bingung luar biasa. Kau tidak tahu harus memberikan respon macam apa setelah tahu keputusanku ini. Tidak mengapa, karena itu juga terjadi pada teman-teman di himpunan kita dulu kala. Mereka bergeming tatkala kuceritakan keputusanku yang avant-garde ini.

Lalang, kawanku yang paling bersahaja, kurasa surat ini sangat krusial sifatnya untuk kukirimkan padamu. Lewat surat ini, aku akan bercerita tentang mengapa keputusan pindah kewarganegaraan menjadi konsekuensi final yang kudapat setelah menuntut ilmu di London selama empat tahun ini.

London, dengan segala keindahannya telah mencuri hatiku sejak sekian lama. Kau tentu tahu, sebab dinding kamar kosku selalu dipenuhi spot-spot menarik Britania Raya. Sungai Thames. Big Ben. Istana Buckingham. City bus. Oxford University. Tiap sudut negeri ini begitu cantik untuk terus kutelusuri. Semua itu telah memahat keinginanku untuk tinggal lebih lama di sini. Dan aku tak akan menolak jika harus mati di tempat yang kudamba ini.

Britania Raya sangatlah berbeda dengan Indonesia. Di kerajaan ini, masa depan yang gemilang terbuka lebar bagi tiap makhluk, bagi tiap manusia yang berpikir. Di kerajaan ini, rakyat hidup dengan penuh sukacita dan harapan-harapan yang menumbuhkan gairah untuk terus berjuang bersama. Negeri ini begitu damai, setenang riak air di atas Sungai Seine. Semua orang menjunjung tinggi ekualitas, tanpa perlu diperdebatkan dan dibenturkan dengan masalah akidah seperti di Indonesia.

Di negeriku kini, sumber dayanya mungkin tak sebanyak Indonesia. Tapi pemimpin-pemimpin negeri ini tahu benar soal apa yang perlu dilakukan untuk bisa memaksimalkan potensi negeri. Dan seperti yang kau tahu secara nyata dan jelas, perekonomian dan kesejahteraan kami tumbuh dan menggeliat melebihi sumber daya yang sering kau agung-agungkan.

Setelah lama menjadi orang Indonesia dan setelah melihat Indonesia dari kacamata lain sebagai warga Britania Raya, kini aku semakin yakin. Indonesia adalah negara dengan ladang buah paling ranum namun terselimuti berbagai birokrasi yang tumpul. Betapa rakyatnya begitu terbutakan dengan fakta-fakta ilmiah soal keberadaan sumber daya di negerinya tapi tak tahu harus berbuat apa dengan sekian banyak sumber daya itu sendiri. Dan betapa berkaratnya kerja oknum-oknum anggota dewan sehingga kemajuan di negerimu menjadi kata yang tak jelas lagi wujudnya.

Indonesia adalah negeri penuh hipokrit. Begitu banyak topeng-topeng diperjualbelikan secara maya demi terciptanya harmonitas semu yang selalu diidamkan anak bangsa. Betapa, agar sebuah kedamaian bisa tercipta, hanya kata-kata manislah yang perlu mereka ucapkan di hadapan orang-orang lain. Tapi di belakang orang-orang itu, beribu hinaan terucap tanpa jeda. Itukah kedamaian yang selama ini kalian cari?

Dengan samarnya kata kesatuan di mata kalian, kalian merasa perlu menyembunyikan gagasan-gagasan kalian ke belakang layar. Kalian merasa cukup beruntung dan makmur setelah penghargaan-penghargaan dunia mereka paketkan pada Indonesia. Lalu kalian terus terlena sampai lelap di pangkuan ibu pertiwi.

Tapi di sini berbeda. Aku tidak takut lagi untuk bersuara atau berpendapat. Semua warga benar-benar dilindungi hak dan martabatnya. Di sini aku benar-benar merasakan arti kata kemerdekaan. Aku bebas. Dan jika kebahagiaan kauanggap sama dengan kemerdekaan, maka aku adalah orang yang paling berbahagia.

Jujur saja, aku sendiri bingung. Aku bingung harus dengan cara apa aku mengisahkan kebahagiaanku ini. Karena jika kalian belum merasakannya, sulit bagiku menerangkannya. Tapi aku tahu, Lang, kau adalah seorang berpendidikan yang tahu makna. Entah eksplisit maupun implisit, kau tahu benar rasa yang sedang kurasakan ini. Kau tahu dengan pasti kebahagiaanku mengambil keputusan ini.

Perlu kauketahui, aku tetaplah Guntur yang sama. Guntur yang menuntut kemerdekaan. Dan bagiku, merdeka tidak harus berarti berdiam diri di tempat yang sudah sekian lama stagnan perkembangannya dan berbagi duka. Apapun bentuknya, dengan cara apapun menempuhnya—meski dengan berpindah kewarganegaraan—aku mau merdeka. Dan karena kemerdekaan telah kuraih, aku akan tetap menjadi Guntur yang sama. Guntur yang terus meraih mimpi-mimpinya tanpa mengkultuskan suku, agama, ras, dan antargolongan. Absolut.

Lalang yang baik, aku tahu kau orang yang terdidik. Maka tak perlulah aku buang-buang tenaga menuliskan berbagai rasa yang berkecamuk dalam dada saat surat ini kutulisi. Karena kau sudah barang tentu mengerti.

Terima kasih banyak untuk pengertianmu. Semoga, kau selalu bahagia dengan kemerdekaan yang sedang kau perjuangkan.

London, December 2015

Your eternal’s friend,

Guntur