Cinta Dalam Diam

Harviah Widianingrum
Karya Harviah Widianingrum Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 September 2017
Cinta Dalam Diam

Ada kata yang tak sempat tergambarkan
oleh kata
ketika kita berdua
hanya aku yang bisa bertanya
mungkinkah kau tahu jawabnya

Dia masih sibuk dengan gawainya. Sesekali mengalihkan pandangan ke arah lain. Tapi tidak menatapku. Entah enggan atau sungkan. Tapi dia tetap setia mendengarkan, sesekali mengangguk dan meberi nasihat panjang.

Nasehatnya tidak begitu kudengar. Aku sibuk memperhatikan tingkahnya, mengamati setiap gerak bibirnya. Ingin sekali aku masuk ke dalam matanya, menyelami lebih dalam wanita manis di depanku ini. Ah ! dia tidak mau diam, manik hitamnya menyisir sekitar, bergerak-gerak, dan tidak mampir ke arahku sedikit pun.

Aku gemas, kusentilkan pelan jariku ke punggung tangannya. Ia tersentak, reflek kecil yang manis sekali. Biar kutebak, setelah ini pasti dia mencubitku dan memasang wajah cemberutnya, menganjamku lewat tatapan tajam matanya. Ya! benar tebakanku, dia melakukannya. Hal yang membuatku jatuh cinta.

Dia mengancamku dari ujung mata. Manik hitamnya tajam. Menantang.  Kami beradu. Ku tatap teduh, matanya. Tapi tidak lama. Tingkahnya membuyarkanku. Sial ! merah lenganku dicubitya.
Sakit ? Tidak.
Ini manis. hehe

"
Apa si ?!"

Kalimat yang tidak terpisah dari dia. Seperti sudah menjadi kalimat wajib yang pasti ada tiap-tiap sesuatu menganggunya. Aku sampai hafal di luar kepala dan tidak jarang mendahuluinya sebelum dia berkata. Mungkin karena aku terlalu sering menggodanya.

Malam jadi saksinya
kita berdua di antara kata
yang tak terucap
berharap waktu kan membawa keberanian
untuk datang membawa jawaban

Hampir dua jam. Dia masih setia mendengarkan. Dia lebih banyak bicara dari beberapa menit sebelumnya. Lebih banyak mencubit, hingga lenganku lebam dibuatnya.

Aku tidak peduli lagi pada nasehatnya. Aku tak peduli lagi pada masalah yang kuceritakan sebelunya. Aku tidak peduli pada bising di sekitar, dan mata-mata yang mencuri-curi pandang kepada kita. Aku terlalu sibuk memujanya. Menyelami manik hitam matanya, hanyut ke dalam dirinya.

Aku ingin lama-lama. Aku ingin lama-lama berdua, meski fanta dan cola tersisa uapnya. Aku masih ingin lama-lama. Tak apa dibuat lebam lenganku karena cubitannya. Aku masih ingin tetap lama-lama. Berdua.

Aku tidak ingin beranjak sedikitpun darinya. Aku tidak tahu kapan lagi aku melihat tingkahnya sedekat ini. Kita hanya berjarak satu inchi. Ingin sekali aku menggengggam tangannya dan mengatakan apa yang terjadi padaku saat ini. Tapi....

"Halo ? Ya ?"
"....."
"Okay. Aku ke depan ya, cinta."

Tapi realita menyadarkanku. Aku jatuh pada hati yang sudah dihuni, dan aku tidak mau lebih patah dengan memaksa masuk ke dalamnya. Aku tidak mau gegabah, karena sebelumnya hatiku sudah patah.

"Hei! Ki ?"
" Eh ? iya ?"
" Aku pulang dulu ya, besok cerita lagi. Daah."

Mungkinkah ada kesempatan
Ucapkan janji takkan berpisah selamnya

Dia pergi. Dia menyentuh punggung tanganku. Melambaikan tangan. Dan melempar senyum. Betapa memambukkannya gadis itu.

Dia sudah cukup menyembuhkan. Dia menemaniku menjalani hari yang suram. Setia mendengarkan curhatku yang membosankan. Menghujaniku senyuman yang menghangatkan. Dia menata hati yang berserakan.

Biarkan menjadi seperti ini. Aku tidak mau melangkah lebih. Atau dia akan pergi.

Bagaimanapun kita hanya teman.
Biar kusimpan, cinta dalam diam.


Payung Teduh - Berdua Saja

  • view 59