Tentang Sebuah Persahabatan

Harviah Widianingrum
Karya Harviah Widianingrum Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Juni 2017
Tentang Sebuah Persahabatan

Bisa dibilang aku ini orang ketiga, penengah di antara kau dan dia. Bukan datang ataupun diundang, aku ada karena sebuah ajakan. Mungkin bagian dari rencana kalian. Tapi yasudahlah, toh kita sudah berteman. persetan asal muasal.

Kau manis. Manis sekali saat itu. Sialnya, kita sepemikiran. Kau suka buku, aku pun begitu. Kusuka gincu, dan kau pun setuju. Ah sial, sepertinya aku terjerat kamu.

Kita menjalin hubungan. orang bilang, persahabatan. Dan aku menyebutmu teman. Kita bahkan tak berjeda bertukar kabar. Apapun kita ceritakan. Semuanya. Semuanya.

Hingga aku lupa. Kau dan dia, sekalipun aku ada, kau tetap lebih lama dengan dia. Aku lupa, aku kadang menyinggungnya. kau bahkan mengiyakan. Ah, sepertinya aku sering kelepasan. sudahlah, peduli setan.

Seiring waktu berjalan, kita semakin renggang. Semakin jarang bertukar kabar, di dunia maya pun kau seperti menghilang. 

Hingga saat itu tiba, masa di mana aku kecewa. Terkhianati kau dan dia. Entah salah seperti apa. Tapi, ah, kau pintar sekali berperan ganda. Aku datang. Menyelesaikan. Kau diam. Menggantukan.

Ego sudah kulemahkan, tapi sepertinya kau belum menikmati permaian. Baiklah aku diam. Mengalah. Anggap saja aku kalah.

Waktu terus berjalan. Jangan pikir sakit ini hilang. Lukaku masih lebam.

Kau datang, meluruskan. Bilang begini, bilang begitu. Aku mendengar, kadang mengiyakan, sesekali meradang. Kita terlibat percakapan yang panjang, tapi sayang, tak jelas arah, hanya menyisakan marah. 

Kau perlu tahu, sekalipun berakhir seperti ini. Kau masih punya tempat di sisi. Kau masih teman. Bagaimapun kita pernah berbagi senang, meski telah jadi kenangan. 

Ternyata aku salah, betapapun mengecewakannya kamu, aku tak bisa marah

Baiklah, sudah. Aku tak ingin menjeratmu dalam salah, menjerumuskanmu dalam kubang masalah. Karna kau memilih pergi, dan kupikir sudah.

Karawang, 20 Juni 2017

  • view 56