Surat Rindu

Harviah Widianingrum
Karya Harviah Widianingrum Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Mei 2017
Surat Rindu

Karawang panas sekali hari ini. Ramai sorak-sorai buruh menuntut upah yang tak kunjung sah. Meski begitu, aku tetap kosong. Sepi tak kunjung menepi.

Kau tahu. Hari-hariku menjenuhkan s kali akhir akhir ini. Bertemu pagi, bergulat dengan siang dan memejam di ujung malam. Begitu berulang-ulang. Bertemu kertas, beradu mulut dengan gelas. Bercengkrama sesekali, tapi tak pakai hati. Aku masih kosong. Tetap kosong.

Ya. Aku merasa kosong. Jenuh dengan hidup dan rutinitas. Penat.
Kalau kata orang, mainku kurang jauh pulangku kurang malam. Kupikir, pulangku terlalu malam.

Hey, kadang aku iri. Beberapa temanku, taman kita berbagi kegiatan di sosial media. Ah, betapa hidup mereka ramai sekali ya. Aku iri. Sungguh.

Kau pasti tahu. Aku masih yang yang dulu. Puan si anti sosial. Tak berteman, kecuali kamu. Sekarang tersisa aku. Sendiri. Sepi.

Suratku sudah panjang lebar, tapi bahkan aku lupa satu hal. Berkabar.
Ah, sejujurnya aku enggan menanyakan kabarmu. Aku sudah tau semua, sudah kau kabarkan semua di dunia maya. Kau sibuk bukan ? Seminar sana-sini, praktek lapangan dan bergurau dengan kawan. Aku senang, kau sudah pandai bergaul sekarang.

Mungkin ini alinea terakhir dari banyak alinea yang aku tulis. Kau boleh mengabaikan semuanya. Tentang Karawang yang panas. Tentang aku yang sepi. Dan tentang kabarmu. Tapi kau harus menggarisbawahi satu. Aku rindu. Aku rindu terisi kamu dan persahabatan kita yang dulu.

Boleh aku minta peluk ? Sebut saja peluk jauh. Peluk aku yang kosong dan hampir runtuh.

Karawang, 17 Mei 2017
Teruntuk Maryani
Yang sedang menuntut ilmu di Gunung Pati

  • view 124