Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 29 Januari 2018   23:34 WIB
Cepat atau Lambat, Becak Akan Punah

Sejak alat transportasi belum ditemukan, saat manusia masih "menyiksa" (baca: memanfaatkan) hewan, dari kuda, keledai, sapi, kerbau sampai onta, manusia terus mencoba untuk menemukan alat transportasi yang lebih layak digunakan. Menurut catatan sejarah, becak diciptakan di Jepang pada abad ke sembilan belas. Namun bukan orang Jepang yang menciptakannya, melainkan orang Amerika yang bernama Jonathan Goble yang kala itu menjabat sebagai pembantu di Kedutaan Besar Amerika Serikat.
 
Asal kata becak adalah be chia, diambil dari bahasa Hokkien, yang artinya kereta kuda. Becak pertama kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20 yang pada saat itu sering digunakan orang Tionghoa untuk mengangkut barang dagangan.
 
Jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942. Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin serta larangan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi menjadikan becak sebagai satu-satunya alternatif terbaik moda transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Pasca perang, ketika jalur dan moda transportasi kian berkembang, becak tetap bertahan. Bahkan ia menjadi transportasi yang menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
 
Saat ini di Sumatera Utara, khususnya kota Medan, becak telah dimodifikasi dengan sepeda motor yang biasa disebut betor (becak motor) dan kemudian menjadi ikon tersendiri bagi kota Medan.
 
Atas dasar Perda 11 Tahun 1988, becak dilarang beroperasi di Jakarta. Alasannya becak dianggap biang kemacetan, simbol ketertinggalan kota, dan alat angkut yang tak manusiawi. Bahkan, sejak gubernur Ali Sadikin menjabat, beliau sudah berupaya memperketat aturan tentang transportasi becak yang kemudian diteruskan oleh gubernur-gubernur selanjutnya, kecuali saat gubernur Tjokropranolo menjabat, yang konon tukang becak  bisa menikmati keleluasaan beroperasi. Dan pastinya gubernur Jakarta saat ini, Anies Baswedan.
 
Berbeda dengan Jakarta yang punya aturan ketat, di beberapa wilayah lain di Indonesia, becak tidak dilarang beroperasi. Apalagi di kota-kota wisata, sama seperti andong atau delman, becak justru bisa dioperasikan sebagai transportasi tradisional yang ramah lingkungan. Karena sejatinya, di era ini becak kurang tepat menjadi moda transportasi yang bisa bersaing menyamai transportasi lain. Kecuali di wilayah  tertentu yang belum terjangkau penggunaan aplikasi ojek online.
 
Begitulah, peradaban manusia terkadang tidak serentak berjalan. Di negara atau wilayah lain, moda transportasi mungkin lebih canggih, namun di negara atau wilayah tertentu transportasi bisa jauh tertinggal. Penyebabnya bisa karena kendala geografis dan kemakmuran bangsa itu sendiri. 
 
Terlepas dari pro kontra kebijakan pemerintah tentang aturan penggunaan becak, di kota-kota besar abang becak kini sedang galau. Sebelum aplikasi ojek online diluncurkan, mungkin moda transportasi seperti becak bisa berjaya. Namun cepat atau lambat, transportasi becak pasti akan punah. Semua kembali pada konsumen, pilih yang lebih murah dan cepat atau kalah murah dan lamban.

Karya : Harry Asady