Tembakau Dan Kemiskinan

Hari N. Muhamad
Karya Hari N. Muhamad Kategori Renungan
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Tembakau Dan Kemiskinan

     Andai bisa kucekik asap yang mengepul mungkin tak akan ada korban. Dan andai saja dia bukan ayahku mungkin ini tak akan terjadi. Kini semua sudah terlambat, musim gugur telah berjatuhan di mataku. Dan musim semi tak mungkin membangkitkan jasad yang sudah mati. Haruskah aku menikam waktu yang tak mendengarkan ucapan dan permintaanku: kembalilah kemasalalu!

     Tuhan telah mengutuk tanah menjadi kering dan tandus, banyak tanaman yang mati karena sudah lama tidak tersentuh hujan akibat kemarau yang panjang. Perekonomian keluargaku pun terganggu, ibu yang berladang sayur-sayuran gagal panen, dan ayah yang bekerja sebagai tukang becak sangat tidak bisa diandalkan, penghasilannya yang tidak sampai dua puluh ribu per hari selalu habis untuk membeli sebungkus tembakau, padahal kalau dibelikan nasi akan cukup untuk makan kami bertiga.

     Tidak hanya itu, sekarang ibu terserang kanker tenggorokan gara-gara terlalu sering menghirup asap tembakau. Terus darimana kami makan? Aku hanya bisa diam bila pertanyaan itu diberikan kepadaku, sudah dua hari aku dan ibu kelaparan, sementara ayah hanya mementingkan perut sendiri dan hasrat candunya, seolah ia akan sekarat kalau sehari saja tidak bertemu dengan batangan yang mengandung dzat berbahaya itu.

     “Fahdi, apa ayahmu tidak bisa membaca?” awalnya aku sempat tidak mengerti, tapi setelah teman kuliahku melanjutkan perkataannya karena melihat kebingungan di garis wajahku, aku jadi mengerti. “Sudah jelas-jelas di kemasannya ada peringatan bahwa benda itu berbahaya, tapi ayahmu tetap saja membelinya.”

     Aku kuliah dari beasiswa, bukan karena aku miskin, melainkan karena prestasi. Mungkin kalau aku tidak punya Tuhan dan sahabat yang baik hati, hari ini aku dan ibu sudah mati kelaparan. Rianti adalah teman ketika ospek yang akhirnya menjadi sahabat, dia membelikan makanan, dan berjanji akan membawa ibu ke rumah sakit.

                                                                               ***

     “Tanpanya aku tidak bisa hidup,” kata ayah pada suatu hari sambil menunjukan sebungkus kesayangannya.

     “Karenanya kau akan mati,” sahut ibu, yang membuatnya ditampar begitu keras. Aku sembunyi di balik pintu, aku ketakutan dan kasihan kepada ibu, tapi apalah dayaku yang saat itu masih berumur lima tahun. Aku pernah melihat ayah sedang berkumpul bersama teman-temannya: tukang becak, pemulung, dan para peminta-minta yang malas bekerja. Semuanya kompak menghisap sebatang tembakau dan tawa mereka begitu akrab dengan kepulan asap yang keluar dari mulut dan hidung. Tidakkah mereka peduli dengan perut keluarganya? Pikirku. Sungguh miris, kemiskinan dijadikan ladang untuk mendapat belas kasihan, tapi tidak perihatin dengan diri sendiri yang terus diberi racun setiap hari.

     Jangan menuduh nasib dan mendakwa takdir, karena rejeki bukan lamunan. Doa, pasrah dan perjuangan harus berbarengan. Tuhan memang mendengarkan doa, tapi tak akan merubahnya kalau bukan kita sendiri yang merubahnya. Dan kalau hanya pasrah semuanya akan serba susah. Perjuangan yang tanpa doa dan kepasrahan pun hanya akan membuahkan lelah. Selain rejeki, Tuhan pun sudah memberi manusia kesehatan, dan penyakit tidak akan datang sendiri. Jangan seperti ayahku yang terus-terusan mencari penyakit dan memelihara kemiskinan.

     “Aku lebih baik kehilanganmu, dari pada kehilangan kenikmatanku.”

    Ibu menangis, sementara ayah malah acuh dan asik bercengkrama dengan asap. Dan masih jelas sebuah cerita pada bab kenangan buruk dalam hidupku, dimana teman-teman masa kecilku kini telah berbeda, dan pergaulan telah memisahkanku dengan mereka. Aku tahu, hidup itu perlu pergaulan, tapi bukan pergaulan bebas.

     “Bukan lelaki, kalau tak pernah mencoba sebatang saja.” aku menatap lekat wajah teman yang mulutnya mengucap itu.

     “Lelaki yang cerdas tak akan meracuni dirinya sendiri.”

     Sejak pertengkaran itu mereka menjauhi dan mengataiku kurang pergaulan. Setiap manusia memang punya hak asasi, jadi aku tak pernah melarang, paling-paling cuma mengingatkan.

                                                                              ***

     Sebelum mengantarkan makanan untuk ibu, Rianti lebih dulu mengajakku ke perkumpulan komunitas anti asap tembakau. Di sana orang-orangnya ramah, jiwa sosial mereka tinggi sehingga peduli terhadap sesama, bila ada korban akibat benda bernikotin itu, maka mereka akan segera mengumpulkan dana untuk membantu, dan ibuku adalah salah satunya. Tak kusangka ternyata Rianti sudah dari jauh-jauh hari membicarakan tentang keluargaku kepada teman-teman komunitasnya, hari ini mereka akan menjenguk ibu dan membawanya ke rumah sakit.

     “Apa kau mau bergabung bersama kami?” tanya salah seorang dari mereka.

     “Aku tak mungkin menolak, bergabung bersama komunitas yang bermamfaat seperti ini.”

     Orang-orang yang bergabung di sini dulunya ada yang pecandu, namun sekarang sudah berhenti. Dan kata dia: jangan jadi pecandu, karena itu dapat membangkrutkan uang. Kami semua tertawa sambil mengacungkan jempol. Apa yang diucapkannya memang benar, sebab keluargaku mengalaminya sendiri; gara-gara kecanduan, ayah tidak pernah lagi menafkahi keluarganya. Selain para anak muda, di komunitas ini pun ada yang sudah tua, pengalaman-pengalaman yang diceritakan kepada kami yang masih muda sangat bermamfaat, seperti kata Pak Alip: menabung di waktu muda lebih baik dari pada menghambur-hamburkan uang dari orang tua, saya menyesal ketika waktu smp coba-coba menghisap sebatang yang akhirnya sulit dihentikan.

     Mungkin untuk kepala yang egois, pepatah sebijak apa pun dan contoh-contoh nyata bahwa itu berbahaya, tidak dapat diterimanya karena otak sudah terkonstaminasi kenikmatan yang sebenarnya berbahaya. “Tidak ada yang melarang, hanya mengingatkan, dan pikirlah sendiri, kira-kira orang seperti apa yang tidak mengerti bila diberi peringatan.” begitulah ucap Pak Samuri, salah satu tetua di sini.

     “Sebenarnya, ayahku meninggal karena kanker paru-paru. Tebak sendirilah penyebabnya apa.” Rianti meneteskan airmata kekesalan. Mendengar ucapannya aku jadi ingat kepada ibu yang saat ini sakit kanker tenggorokan, aku takut kehilangan beliau. Setelah cukup lama bercakap-cakap, kami beranjak menuju rumahku, dan ketika di tengah perjalanan kami semua melihat seorang anak remaja sedang dipukuli masa karena mencuri sebungkus tembakau dari toko orang. Mencuri adalah jalan ketika sudah tak ada uang untuk membeli, begitulah bila sudah kecanduan. Contohnya adalah temanku yang mengambil uang orang tuanya demi untuk disebut keren—tapi dalam tanda kutip.

     Bila ada pepatah yang mengatakan: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Maka aku ingin menjadi buah yang jatuh ke sungai kemudian terbawa arus dan jauh dari pohonnya. Aku tetap mengakuinya sebagai ayahku karena aku tak mau jadi anak yang durhaka. Tapi aku tak sudi bila sifat dan kelakuannya mewaris kepadaku. Penderitaan ibu sudah cukup untuk menjadi alasan bagiku agar tidak mengikuti jejak ayah.

     Ada harapan yang menyala pada anganku ketika kami sudah sampai di depan rumahku, namun padam dalam sekejap, saat melihat api yang bersendawa karena kenyang seusai melahap kediamanku. Andai bisa kucekik asap yang mengepul mungkin tak akan ada korban. Dan andai saja dia bukan ayahku mungkin ini tak akan terjadi. Kini semua sudah terlambat, musim gugur telah berjatuhan di mataku. Dan musim semi tak mungkin membangkitkan jasad yang sudah mati. Haruskah aku menikam waktu yang tak mendengarkan ucapan dan permintaanku: kembalilah kemasalalu!. Sebelum kebakaran, salah seorang yang berkumpul di sana melihat ayah membuang puntung tembakau ke kolong rumah, dan kusadari ibu yang kucintai tak mungkin bisa lari dari si jago merah. []

 

Tangerang 07-10 September 2016


Hari N. Muhamad lahir pada 05 Oktober 1996 di Tasikmalaya, dan sekarang sedang bekerja sebagai koki.

  • view 231