Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 27 April 2018   16:07 WIB
MENJADI BERBUDI SESUAI KODRAT INSANI

Mendidik anak masa kini, merupakan tantangan besar bagi orang tua dan pendidik untuk menjadikan mereka generasi multitasking dengan keunggulan intelektual dan pribadi islami sesuai perkembangan zaman. Sejatinya, mereka seperti kertas kosong (teori tabula rasa/John Locke) yang dilukis oleh kita baik itu dari ucapan dan tingkah lakunya sehari-hari. Dalam hadis riwayat muslim juga dijelaskan bahwa “seorang bayi tak dilahirkan(kedunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian(fitrah). Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”. Oleh karena itulah, sangat perlu mendidik anak kita untuk menjadi generasi yang berbudi sesuai dengan fitrahnya sebagai pribadi yang islami. Memberikan Kontrol kepada anak juga perlu ditanamkan sejak dini lewat panduan positif dari kita kapanpun dan dimanapun, sebagai bentuk rasa sayang kita akan masa depan mereka. 
Kehidupan di lingkungan kita pasti akan muncul dan berkembang suatu karakteristik, nilai dan norma yang diyakini dan dianut oleh masyarakat tersebut yang mengatur dan membatasi perilaku individu meskipun itu tidak secara tertulis. Anak-anak perlu kita berikan pemahaman yang baik mengenai hal-hal menyimpang dan dianggap tabu dilingkungan kita. Namun tidak jarang dalam kehidupan masyarakat terjadi penyimpangan dan perbedaan berperilaku atau yang disebut dengan deviasi perilaku. Bentuk perilaku menyimpang inilah yang akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan mental dan karakter anak didik kita. Bentuk penyimpangan inilah yang akan memberikan dampak negatif terhadap karakter anak kita dimasa depan, dan merubahnya pun butuh waktu dan tenaga yang banyak. 
Berbudi dalam bahasa Jawa berbeda dengan berbudi dalam bahasa Indonesia. “Ber” disini bukan sebuah awalan melainkan kependekan dari “luber” yang artinya adalah meluap. Adapun Budi pengertiannya adalah watak. Tentusaja watak yang baik. Watak apa yang meluber atau meluap? Tentu saja watak suka memberi, yang dalam bahasa Jawa menurut Poerwadarminta disebut “seneng weweh”. Pemimpin harus “ber-budi”, luber budinya. Rasulullah SAW Bersabda “Sesungguhnya aku diutus(kemuka Bumi) untuk menyempurnakan akhlaq”. Sangat jelas bahwasanya berbudi/berakhlaq merupakan tujuan utama dalam kehidupan ini. Menjadi pribadi yang taat pada setiap yang diperintahkan dan menjauhi segala larangannya, adalah motivasi utama untuk menjadi manusia yang berbudi sesuai dengan kodrat insani. 
Banyak sekali penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat kita saat ini, seperti halnya mengkonsumsi miras, LGBT dan lain sebagainya merupakan bentuk penyimpangan yang banyak terjadi di masyarakat kita saat ini. Perlu kita melihat kembali hakekat sebenarnya manusia. manusia adalah keseluruhan sifat-sifat sah, kemampuan atau bakat-bakat alami yang melekat pada dirinya, yaitu manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial ciptaan Allah SWT. Manusia mempunyai tanggung jawab secara vertikal kepada allah SWT dan secara horizontal kepada sesama manusia. tanggung jawab kepada allah SWT adalah dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya. Sementara tanggung jawab kepada manusia adalah dengan melakukan pergaulan yang baik dan tidak menyimpang dari syariat dan nilai/norma yang ada. ada beberapa usaha yang bisa kita lakukan untuk menjaga anak-anak kita agar mereka menjadi manusia yang berbudi/berakhlaq sesuai dengan kodrat mereka sebagai manusia yang islami diantaranya:
1. ajari lewat contoh  
Anak akan selalu meniru setiap hal yang kita lakukan(imitation), setiap apa yang kita ucap dan lakukan. Kita sebagai orang dewasa sebaiknya berusaha berucap dan berperilaku yang baik utamanya ketika di depan mereka. Apa yang mereka lihat itulah yang akan mereka lakukan, dan apa yang kita ucapkan mereka juga akan ikuti ucapan kita. Memberikan contoh secara langsung seperti halnya dengan mengajak mereka sholat berjama’ah, mengaji dan lain sebagainya akan lebih mengena dan mereka akan terbiasa seterusnya untuk melakukannya. 
2. berikan pemahaman yang baik 
Hal yang baik dan buruk, selalu ada di lingkungan kita. Apalagi di era milenial zaman now, segala bentuk informasi dapat masuk lewat gawai anak-anak kita, meskipun dalam lingkungan asrama. Bentuk dari rasa penasaran mereka akan mereka cari terus-menerus sampai mereka menemukannya. Maka jangan sampai anak-anak kita menemukan hal-hal yang negatif  ketika mereka berseluncur di dunia maya atau mencari tahunya secara langsung. 
Oleh karena itu, perlu ada pemahaman yang baik kepada mereka mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Pemahaman yang baik akan mengarahkan mereka untuk selalu memilih dan memilah hal-hal yang sesuai dan tidak sesuai. Ketika mereka sudah mempunyai pemahaman yang baik, maka dalam hati mereka akan tertanam rasa takut untuk melakukan hal yang negatif sebelum mereka melakukannya. 
3. berikan identitas(label) yang baik
Memberikan identitas yang baik bagi mereka juga sangat perlu kita lakukan. Memberikan identitas seperti contoh “kamu itu nakal”, dalam pikiran mereka akan tersugesti bahwa mereka adalah anak nakal. Mereka akan berusaha untuk menjadi umumnya anak nakal itu bagaimana dari cara berpakaiannya, perilakunya dan ucapannya. hal seperti ini akan menancap kedalam pikiran mereka dan sulit untuk merubahnya jika sudah terlanjur. maka, jangan sampai kita menganggap(melabeli) mereka yang dengan hal yang jelek. Berikan mereka pujian yang baik semisal mereka mencoret-coret di meja, kita bisa menyampaikan pesan dengan kata-kata pujian seperti: “kalian pinter juga, tapi kalau bisa coret-coretnya di buku gambar aja ya”, anggap mereka sebagai anak yang berprestasi, dan selalu ucapkan hal positif kepada mereka.
 
Proses pendidikan berkesinambungan menjadikan anak lebih aktif dan dinamis dalam pembelajaran. Disamping itu, ank akan selalu dituntut untuk kompetitif dalam setiap kegiatan pembelajaran. 

Karya : Haqiqi Elrozaq