Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 24 Januari 2016   19:59 WIB
Sekejam Inikah Cinta

 

 

Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir...

Begitu kata temanku sehari yang lalu, ketika sedang mencerna satu cerita tentang mitologi cinta.
Agaknya dia telah mulai menyadari dan memahami sesuatu. Tampaklah dahi cantiknya mengernyit seperti tumbuhan hias Gelombang Cinta.
Apalagi ketika dalam ceritanya, dirasa betapa ngeri ngayahi jejibahan hidup ketergantungan terhadap seseorang. Seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam diri pribadi secara rapi, terencana, sedikit lagi, dan lagi.
Seseorang istimewa yang telah mengambil alih semesta perasaan yang ada.
Ketika kekasihnya dirundung kesedihan, maka terbawa suasana. Bersegeralah ia mengkaji satu kamus besar bahasa tertentu dalam benaknya, memilah-milah kosakata yang sesuai untuk meredakan gundah hati kekasihnya.
Dan ketika cinta telah bertahta dan mengambil segenap waktu dan tenaga, ketergantungan ini semakin menjadi arah mata angin yang tiada juga menentu. Mungkin seperti para Ksatria yang sedang mengelilingi taman kahyangan yang sulit dicerna panca indera.

Aku mulai teringat ketika aku sedang jatuh cinta. Terasa seperti sedang memasuki satu wilayah yang sama sekali baru, wilayah yang membentang di antara sedih dan gembira.
Suatu wilayah yang seolah memiliki pintu gerbang kata tanya. Akankah langkah yang terarah dari ketergantungan ini akan memandu ke taman bahagia?
Agaknya ketika bercinta akan segera mengajari betapa tidak mandirinya manusia. Satu ilmu baru sedang tersingkap bahwa ternyata perasaan itu seperti peristiwa alam yang hendaknya diterima dengan lapang dada.
Lalu temanku yang kemarin itu seolah akan tersenyum, ketika mengingat pertanyaan yang sama di tempat yang berbeda, bahwa akankah lebih bahagia apabila menolak keinginan rasa.

Sementara cinta mulai bersemi dan mengakar dengan kuat di segenap penjuru perasaannya. Tampaklah cinta mulai mengambil kendali dan terus melaju untuk meneguhkan janji. Dan ketika hal ini terjadi maka tiba-tiba saja teryakinkan bahwa cinta adalah tujuan yang mulia. Arah tujuan yang selaras dengan harkat dan martabat manusia, seutuhnya.

Cinta seperti wilayah yang membentang di antara dua batas pencapaian. Adalah pencapaian seperti jalan panjang. Mungkin akan sampai di seberang dengan segar berseri, atau bahkan tidak akan sampai dengan pedih tak terperi. Dan suasana hati jadi kian tak menentu. Keteduhan Taman Kahyangan kini tinggal angan-angan. Pecinta telah jatuh kembali. Mungkin akan sangat terasa pada saat itu bahwa pengorbanan di masa lalu yang mengharukan, hari ini terasa hampa dalam ingatan. Karena pengingkaran telah saling meniadakan.

Dan ketika menyadari bahwa ketergantungan telah lepaskan tali pengikatnya, hempaskan cinta sekuat-kuatnya, menyiksa kekasih sedalam dan sepedih mungkin. Menjadikan cinta sebagai pijakan yang menyakitkan.
Sekejam Inikah Cinta?

Rindu dendam. Pengendalian keinginan untuk memiliki yang tak tertahankan. Keinginan meluapkan cemburu di kesunyian. Sementara di sisi yang sama telah teguh keinginan untuk melapangkan dada dan menampung kebanggaan di hancurleburnya kemegahan sejarah lama, ketika bersama menunjuk arah tujuan.
Rasa sedih dan gembira telah memudar dalam arti yang sebenarnya. Jiwa perkasa yang tegar itu, hari ini telah menemukan kembali gairah terlemahnya. Teperdaya dalam kepedihan asmara yang telah bersiap siaga diiringi tembang cinta tak memiliki. Namun kebanggaan tetap tersimpan jauh di dalam sebentuk rahasia.
Seperti senyum di wajah yang tersekat-sekat kepedihan, kiranya hanya dialah yang akan sanggup membaca kesan yang tersirat di keriput pelupuk mata. Seandainya belahan jiwa tak juga mengerti, maka biarkan senja yang akan pahami peristiwa di sepanjang hari ini.

Dan matahari terbenam segera menjadi peristiwa yang menakutkan. Malam akan terasa lebih panjang dari yang pernah terasakan. Mencekam.
Malam, fajar, dan siang telah membawa pergi. Semakin jauh semakin melekat erat dalam ingatan.
Cinta mungkin sungguh telah memiliki dua karakter yang sama kuat. Cukup untuk menyemai biji padi dan juga memantik kayu bakar, mengubah air dingin jadi bergejolak. Cinta mungkin telah diciptakan untuk memperpanjang masa. Agaknya cinta akan menuju arah keabadian.
Seperti suatu perjalanan, nampaknya cinta telah menempuh jalan panjang. Mungkinkah cinta hanya akan membawa ke batas semu kehidupan?

Bagi cinta layaknya kupu-kupu yang hinggap dan melayang. Bagaikan rahasia besar yang mengemuka di bumi namun tersembunyi jauh di lubuk hati. Selalu saja merasa terlalu muda untuk mengernyitkan dahi dan segera menyimpulkan yang telah terjadi.
Karena ternyata cinta lebih luas dari angan-angan. Lebih jauh dari kearifan yang masih terus tumbuh dan berkembang.

Seperti kupu-kupu rahasia, cinta melayang di awang-awang. Andaikan saja cinta seperti kupu-kupu, lalu dimana letak kekejamannya?
Keindahan bisa jadi lambang mawar berduri. Ketegasan bisa saja selincah kumbang berbisa. Lalu apakah kekejaman telah melalui berlikunya jalan panjang?

Aku hanya tidak tahu.

Pada dangkal pengetahuanku, kekejaman akan mengemuka ketika menghadapi persimpangan. Kegelisahan yang tiada juga menentu. Agaknya kupu-kupu itu demikian rahasianya. Agaknya mawar itu begitu tajam duri-durinya. Agaknya kumbang berbisa itu teramat lincah terbang kesanakemarinya.

Lalu cinta tampak seperti perbandingan yang tak setimpal dari kepedihan dan kebanggaan. Dan kepedihan lambat laun akan tersembunyi ditimpa kebanggaan. Angankan jalan panjangnya tunaikan pengorbanan tak bisa lepas dari ingatan sepanjang zaman, meski jejaknnya telah dihapuskan.
Nyatanya pengorbanan tampak seperti temaram fajar dini hari yang akan semakin tertimpa terang matahari di pagi berikutnya. Kiranya fajar itulah yang menyingkirkan tabir gelap malam. Kesahajaannya tak akan terlepas dari ingatan malam-malam panjang.
Sungguh mengharukan. Rasa haru kiranya adalah pertautan dari kepedihan, kegembiraan, kebanggaan, kecemasan, dan bahkan juga harapan. Semuanya seperti tersimpul dalam suatu pengorbanan.

Aku masih menerka bahwa pengorbanan yang sesungguhnya adalah pengorbanan yang jejaknya telah dihapuskan. Pengorbanan yang karena satu alasan tertentu harus dilupakan. Lalu, seperti tertusuk duri-duri mawar, ingatanku terbangkitkan. Apakah pengorbanan yang terlupakan adalah pasal penting dari jalan panjang berlikunya sebentuk kekejaman?
Apakah kupu-kupu rahasia itu menjadi demikian berbeda ketika tertusuk duri-duri mawar?
Apakah kumbang yang lincah itu menjadi kian tak menentu ketika mendengar bahwa mawar yang jauh disana telah ditanggalkan kelopak-kelopaknya oleh bersikerasnya nafsu dunia?
Seekor kumbang yang ganas hanyalah seekor kumbang juga. Seberapa jauhkah terbang kesanakemarinya?
Maka segera ia bergegas untuk tunjukkan pada dunia, bagaimana menjadi muda dan berbisa. Bahwa bagaimanapun caranya mawar harus selalu terjaga harum semerbaknya.
Tapi sayang, ketika kumbang ingin menunjuk diri, ternyata dia lupa akan filosofi mawar. Bahwa mawar tetaplah mawar meski telah tertanggalkan kelopak-kelopaknya. Mungkin gejolak di dada kumbang tak lagi bisa diredam oleh cerita kupu-kupu yang hinggap dan melayang. Bahwa kupu-kupu hinggap adalah cobaan dan kupu-kupu melayang adalah juga ujian. Maka dengan amarah membara kumbang mulai menghancurkan alam sekitarnya. Karena mungkin betapapun lincahnya kumbang seberapa jauhkah terbang kesanakemarinya?
Betapapun dengan penuh amarah bersikeras menjaga mawar, membalas kekejaman di satu belahan dunia dengan kekejaman di belahan lainnya, maka mawar akan tampak surut harum semerbaknya.

Ketika cinta adalah perbandingan yang tak adil dari kepedihan dan kebanggaan, perilaku kumbang ini di manakah keadilan dan kebanggaannya?
Kepedihan, kebanggaan. Kebanggaan dalam kepedihan hanya mungkin akan dicapai oleh para pecinta terpilih. Para pecinta yang memahami sedalam-dalam filosofi mawar. Bahwa mawar tetaplah mawar, meskipun telah tertanggalkan kelopak-kelopaknya. Meskipun hari ini dunia tengah tak mampu lagi mencium dengan baik harum semerbaknya. Pasti bukan mawar yang telah layu, namun lebih karena dunia telah demikian tuanya.

Dan bahwa sesungguhnya mawar yang tertanggalkan tiada akan pernah meninggalkan para pecinta. Corak dan harumnya akan tetap tinggal di dalam hati, selamanya.

 

 

 

 

 

Sekejam Inikah Cinta.

Saya catat di sepanjang Jl. Legian Kuta Bali 2007, lalu Banyuwangi 2008.

Karya : Hamim Jauhari