Cinta Tanah Air

Cinta Tanah Air

Hapimiru
Karya Hapimiru   Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Desember 2017
Cinta Tanah Air












Pada saat itulah Kiai Tekilisan berjalan bergegas melewati gapura menuju ke serambi masjid, tempat Sayyid Ja'far Shadiq, Kanjeng Sunan Kudus telah menunggunya.


"Assalamu'alaikum, Njeng Sunan!"


"Wa'alaikum salam wa rahmatullah, Kiai. Mari duduklah di sisiku, Kiai Tekilisan!".


Sejenak Kiai Tekilisan tampak termangu, dawuh Njeng Sunan untuk duduk di sisi beliau, telah membuatnya sedikit agak bimbang, kemudian dengan penuh tawadlu', penghormatan kepada Kanjeng Sunan Kudus, Kiai Tekilisan mengambil tempat duduknya di depan beliau sehingga berhadapan, bersimpuh di lantai serambi masjid yang beralas tikar pandan. Wajahnya tertunduk, pandangannya seperti menelisik tikar pandan yang bersih itu, seolah tengah menghitung jalinan-jalinan anyaman. Namun sesungguhnyalah Kiai Tekilisan tengah menganyam kalimat-kalimat pembuka untuk kedatangannya menghadap Kanjeng Sunan.
Sejenak suasana hening meliputi serambi masjid. Lalu dengan kepala yang masih tertunduk dalam-dalam, Kiai Tekilisan menyampaikan salam kepada beliau sekali lagi,

"Beribu ampun, Njeng Sunan. Hamba memerlukan menghadap kali ini untuk memenuhi panggilan Njeng Sunan melalui Anak Mas Sayyid Amir Hasan".

"Benar Kiai, aku telah meminta Ananda Amir Hasan untuk menyampaikan pesan kepada Kiai".

"Hamba, Njeng Sunan".

"Kiai, semalam ketika selesai bersuci di padasan yang biasanya kupakai berwudlu itu, aku berdoa sebagaimana doa yang kita ucapkan ketika selesai bersuci. Ketika aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang haq selain Gusti Allah, kemudian meng-Esa-kan-Nya. Melepaskan-Nya dari seluruh ikatan persekutuan, bahkan pada hal-hal yang selembut apa pun itu, ketika aku sedang beribadah, ketika aku sedang mengabdi. Seluruh kehidupan ini adalah pengabdian".
"Misalnya aku mempersekutukan-Nya dengan berharap ibadahku akan dinilai seseorang sebagai kebaikanku, sebagai penambah kemasyhuranku di depan matanya dan bukan semata kepatuhanku pada Gusti Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka yang demikian itu telah mengalihkanku dari pada-Nya. Dari cahaya-Nya Yang Mulia. Cahaya yang telah dibawa oleh Gusti Kanjeng Nabi Shalla Allahu 'Alaihi wa Sallam, hingga cahaya itu sampai padaku berkat rahmat Tuhanku Yang Maha Cinta, yang dengan cahaya itu aku juga bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad sebagai seorang hamba-Nya, hamba yang terpilih sebagai rasul-Nya. Satu-satunya hamba yang terpilih di zaman ini hingga akhir masa nanti. Karena akulah seorang hamba dan kewajiban seorang hamba adalah mengabdi dengan pengabdian yang mengikuti risalah beliau Kanjeng Nabi. Hanya mengabdi, Kiai".

Kiai Tekilisan menghayati kata demi kata yang tertutur dari dawuh Kanjeng Sunan Kudus. Penghayatan itu telah membuat kalimah-kalimah yang diucapkan oleh Kanjeng Sunan Kudus laksana sepasang mata kedua orang tuanya sebagai guru kawitan, guru pertama dalam kehidupannya. Berpasang-pasang mata para gurunya, tempat dia dahulu ngangsu kaweruh, thalab al-ilmu. Seakan berpasang-pasang mata itu kali ini sedang menelisik kedalam rongga-rongga setiap bagian tubuhnya, memilahpilahkan bagian-bagiannya, mencari cahaya lentera di dalam dirinya, lalu rangkaian kalimah suci itu pun seperti membasuhnya kembali dengan minyak jarak yang begitu murni, hingga teranglah seluruh ruangan batinnya.

"Kiai,"

"Hamba, Njeng Sunan,"

"Persaksianku bahwa Kanjeng Nabi Muhammad Shalla Allahu 'Alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya, memiliki tanggung jawab lebih lanjut untuk menerima risalah beliau, menerima sepenuh hati tata cara beliau dalam memuliakan kemanusiaan dengan memperbaiki budi pekerti yang luhur. Perbedaan cara memandang dan menuju jalan panjang kehidupan ini, setelah kita berusaha menyampaikan anugerah kebenaran yang kita yakini sebagai kebenaran hakiki kepada sesama dengan memohon kekuatan, taufiq dan petunjuk Tuhan Sang Maha Cinta nan lestari itu. Di luar upaya kita yang selalu kita doakan keberhasilannya ini akan ada penentuan akhir, yakni kehendak Sang Maha Pengasih dan Penyayang".

"Hamba, Njeng Sunan,"

"Berbekal kedua persaksianku ini, Kiai. Aku memiliki kehendak untuk menghargai bebrayan agung, kepada segenap kawula di Kudus, apa dan bagaimana pun cara mereka memandang dan menjalani kehidupan ini, aku curahkan cintaku yang mendalam".

"Njeng Sunan, hamba menyediakan diri hamba untuk menerima titah Njeng Sunan Kudus".

"Kiai, aku mengetahui sebagian besar masyarakat kita sangat menghormati ajaran luhur Delapan Jalan Kebenaran, Asta Sanghika Marga, bahwa seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja yang benar, beribadah yang benar dan menghayati agama dengan benar, Kiai".
"Aku ingin menghargai Asta Sanghika Marga dengan cara mewujudkannya dalam sebuah lambang berupa padasan, tempat bersuci dari sifat kemanusiaan yang sering lupa dan bersalah, Kiai".

Kiai Tekilisan yang masih saja tertunduk di hadapan Kanjeng Sunan Kudus, makin menundukkan wajahnya seolah hampir menyentuh lantai beralas tikar pandan di serambi masjid yang kian hening itu. Ketakjuban itu telah datang bersama rasa hormat dan takdim kepada Kanjeng Sunan Kudus, makin melambung ke bagian paling atas dari anggauta tubuhnya, yang seolah tidak lagi mampu menyangga penghargaan atas pekerti yang demikian luhur.
Angin pagi yang berhembus, masih terasa basah oleh titik-titik embun di dedaunan makin menyejukkan hatinya yang baru saja terpercik oleh kasih sayang Kanjeng Sunan Kudus kepada seluruh kawula dasih, rakyat sekalian di daerah itu. Cinta yang terjalin di atas dasar ukhuwah basyariyah, jalinan kemanusiaan, seutuhnya telah menyatu dalam cinta tanah air.




Catatan ini juga saya catat di laman hijauh.id
berikut alamat tautannya;
https://hijauh.id/index.php?page=ruang-8-cinta-tanah-air




  • view 171