Si Passanger dan Si Driver

Hans Dream
Karya Hans Dream Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Januari 2016
Si Passanger dan Si Driver

Self driver. Sebuah buku karangan?Rhenald Kasali mengingatkanku kembali agar selalu menjadi pengemudi atau?driver bagi?kehidupan yang kujalani. Sejak kecil bahkan mungkin saja hingga saat ini, aku masih belum mampu secara total menjadi seorang driver. Masih sering terjebak dalam perangkap-perangkap kehidupan yang merayuku untuk memilih zona nyaman saja. Padahal?life begin at the end of comfort zone. Zona nyaman memang melenakan. Semua serba ada, serba tenang, serba terjadwal dan tak menomor sekiankan kreatifitas, inovasi dan passion. Jalani dan nikmati saja. Bagitulah konsekuensi menjadi seorang penumpang.

Namun berbeda dengan hidup seorang driver. Ia harus berusaha, mendayagunakan semua kemampuannya agar sampai ke tempat yang dituju tepat waktu, agar penumpang tidak komplen, agar tidak ditilang, agar kendaraannya tidak rusak. Semua itu penuh perjuangan yang melelahkan bahkan menyakitkan. Walaupun seperti itu, Ia justru menjadi lebih tangguh, selalu siap, tahan banting dan pintar membaca situasi.

Dalam praktek nyata, buku ini membukakan kembali mataku. Membuatku berani menyimpulkan bahwa kehidupan itu dimulai saat kita mampu melepaskan diri dari kontrol ambisi orang tua dan lingkungan yang hanya mengenal tampilan luar saja. Aku masih ingat tentang keinginan papa agar aku menjadi seorang dokter, atau keinginan mama agar aku jadi PNS dengan alasan keterjaminan hidup secara finansial. Jika ditelusuri, sebenarnya kontrol orangtua ini sudah berlangsung sejak dalam kandungan dan terus berlanjut hingga periode-periode setelah itu. Kontrol ini bagi sebagian orang bisa membuat Ia tidak bebas bergerak. Tidak mampu menentukan sendiri hidupnya. Lihat saja berapa persen keputusan untuk diri kita selama ini yang murni adalah keputusan kita?

Aku cukup berbangga bahwa keinginan untuk menjadi seorang driver sudah mulai ku rintis sejak memutuskan untuk merantau di tahun 2003 lalu walaupun tidaklah 100% karena dipengaruhi faktor eksternal lain seperti kondisi keluarga. Memutuskan untuk?berhenti di semester awal perkuliahan tanpa sepengetahuan orang tua kemudian mencoba kembali keberuntungan di tes masuk perguruan tinggi negeri pada tahun berikutnya dengan memilih jurusan yang tak seperti harapan orang tuaku. Aku memilih Psikologi. Jurusan yang masih sangat asing kala itu. Memutuskan cuti untuk mencoba usaha sendiri pada pertengahan semester demi mimpi meraih?freedom of time?dan?financial?seperti yang dicapai Merry Riana. Lagi-lagi tanpa sepengatahuan orang tua. Lalu berlanjut setelah menamatkan kuliah dengan menjadi kutu loncat saat bekerja dimana rekor masa kerja terlamaku hanya 2 tahun sedangkan tercepat adalah 6 bulan. Dan semua berlanjut hingga kini. Sebuah perjalanan menemukan passion.?Mamang sesekali aku tergiur juga untuk menjadi penumpang institusi negara yang rata-rata penghuninya hidup pada zona nyaman. Nyaman tapi tetap saja tidak puas lantas korupsi. Aku pernah mempersiapan diri untuk ikut PNS dengan niat yang salah. Bagaimana tidak salah,?aku ingin jadi PNS supaya dapat penghasilan yang tak terputus tanpa khawatir dipecat lalu mulai merintis usaha. Niat licik yang merusak hakikat misi pelayanan PNS. Pantas saja aku gagal.?

Misiku sebenarnya sederhana. Ingin sekali mematahkan pemikiran kuno yang sudah tidak sejalan lagi dengan perkembangan dan pemikiran zaman seperti saat ini. Aku ingin membuktikan hipotesaku bahwa hidup ternyaman itu adalah hidup yang sejalan dengan passion. Hidup sebagai good driver?yang merdeka.?

Walaupun orang tuaku seperti itu. Mereka tetaplah pahlawan hidupku ?yang sangat demokratis. Menyerahkan sepenuhnya padaku keputusan akhir setiap pilihan, meskipun dengan rasa kecewa. Sebuah sisi positif yang mungkin tak dimiliki oleh para orang tua dengan pola asuh otoriter. Lebih dari itu, mereka telah mengajarkan padaku hal-hal yang harus aku hindari jika kelak menjadi orang tua. Orang tuaku hanyalah korban. Korban dari sistem pemikiran lingkungan yang terbelakang. Mereka?dipaksa menjadi penumpang yang digerakkan atau dibawa oleh bad driver?bernama gengsi.

  • view 148