Haruskah kusebut ini awal baru?

Hans Dream
Karya Hans Dream Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
Haruskah kusebut ini awal baru?

?Kedepan kamu harus hati-hati berobat, ketiga kalinya kamu tidak akan tertolong,? Ujar Pak Amiruddin, dokter yang baru saja aku kenal hitungan menit. Entah kenapa mendadak aku mempertanyakan keahliannya sebagai dokter. ?Apa iya?, ah gak mungkin? Egoko berbisik dan memintaku untuk tak mempercayainya. Rasa kebencian pun muncul dalam hatiku pada pria paruh baya ini. Rasa kebencian yang tak seharusnya ada. Begitu santainya Ia menyampaikan. Menyampaikan kalimat yang singkat namun mencabik-cabik hatiku. Sebuah kalimat singkat yang akan merubah pandanganku tentang masa depan. Kalimat itu membakar amarahku. Dan juga mungkin masa depanku. Membuatku mempertanyakan kearifan Tuhan.??Kenapa harus aku, Tuhan, bukankah ada milyaran makhlukmu yang lain?? Sudahlah, mengeluh hanya akan menambah rasa sakit ini.?

Dengan muka pucat pasi, kepala tertunduk, aku melangkah ke luar ruangan Pak Amiruddin. Terlihat disana kau masih setia menunggu. Hatiku begitu hancur saat kau tersenyum padaku. Masih pantaskah aku mendapatkan senyummu lagi selepas ini? Ingin rasanya ku putar lagi waktu ini dan tetap menghiraukan permintaanmu agar aku berobat. Setidaknya aku tak mendengar kalimat dokter itu. Walaupun cepat atau lambat aku akan tau juga. Aku sudah tau tentang penyakit ini sejak lama dari internet. Internet bisa saja salah. Tapi kini, seseorang yang ahli menyampaikannya dan tak mungkin lagi aku berkilah dan mempertanyakan kebenarannya. Sesekali aku mencuri pandang padamu. Berharap kau tak membaca kecemasanku. Tetaplah tersenyum sayang, aku baik-baik saja dan akan terus baik-baik saja. Hatiku semakin bertambah hancur saat kugenggam tanganmu melangkah meninggalkan klinik itu. Helm besarku seakan ikut bersedih dan berusaha menghibur dengan menutupi mukaku, Ia berusaha agar tak seorangpun melihatku bersedih termasuk gadis manis yang tengah mendekapku dari belakang ini. Tapi Ia tak mampu menahan tetes air mata yang mulai mengalir dipipiku. Hatiku bergemuruh dan lagi-lagi mempertanyakan kearifan Tuhan. Bibirku kelu dan tak bisa berucap apapun. Biarlah waktu yang menjawab semua ini.

Sayang, Inilah takdirku yang harus engkau tau. Aku bukan pasrah pada takdir buruk ini. Aku tetap akan berjuang untuk cita-cita kita. Berjuang sampai batas waktu yang diberikanNya padaku. Jauh-jauh hari aku sudah tau bahwa saat ini akan tiba. Tapi aku tetap saja semangat bukan? Tetap riang dan terus mengejarmu. Tapi kini engkau sudah tau semuanya. Kau tak percaya? Wajar, karena aku adalah seseorang yang sangat kau sayang. Dulu aku juga begitu, aku tetap tak yakin penyakit itu menimpamu bahkan hingga kini. Aku juga yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya. Tapi tetap saja kau juga harus realistis pada kenyataan. Setiap pria pasti ingin melihat wanitanya bahagia hingga akhir hayat. Namun, meninggalkanmu terlunta-lunta seperti Kak Juli hanya akan menambah rasa sakitku. Maafkan aku yang dengan tiba-tiba memintamu untuk meninggalkanku. Sebuah permintaan konyol yang pasti telah menggores hatimu. Sebuah permintaan yang diucapkan mulut tapi hatiku memberontak. Alasanku sederhana, ingin senyummu tetap merekah dengan abadi. Tanpa harus khawatir akan hal buruk akan menerpa pasanganmu. Aku ingin kau jalani hidup layaknya orang-orang lain diluar sana. Karena aku ingin menjaga senyummu.

Karena senyummu adalah semangat dan kebahagiaanku. Karena senyummu?adalah anugerah terindah untukku.

  • view 150