Alien

Hans Dream
Karya Hans Dream Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Alien

(Lagi) aku berpikir yang mengerti aku adalah diriku sendiri. Hanya aku yang mengerti apa yang kucari. Hanya aku yang mengerti apa kegelisahan yang kurasakan dalam hidupku. Dan kadang aku juga berpikir bahwa memang bagi semua diluar aku, banyak tindakanku yang aneh, konyol atau bahkan gila. Kadang juga aku berpikir jangan-jangan aku ini bukanlah penduduk dunia ini. Jangan-jangan aku ini seorang alien yang nyasar di bumi karena pesawat UFO-ku kehabisan bahan bakar. Dan malangnya, sudahlah tersesat sendiri, bahan bakar pesawatku hanya diproduksi di planetku. Tapi semangatku untuk kembali sangatlah tinggi. Aku belajar, menjalin hubungan, aku bekerja, berusaha dan terus berusaha menemukan formula untuk bisa kembali. Tapi aku sampai pada satu titik dimana aku kembali tersadar. Aku ini tetaplah seorang Alien.?

Bukan hanya disini, dimanapun tempat kerjaku selama ini aku pasti mengeluh. Aku pasti meratap. Ini bukanlah jalan hidup yang kucari. Ini bukanlah formulanya. Lalu pasti muncul pertanyaan, mau sampai kapan? mau seperti Aki-mu? apa sih maunya, plin plan banget? ntar nyesal lo gini terus? Ya pertanyaan yang sudah kebal ditelingaku. Bagaimana mungkin aku bisa menjawabnya, apa yang kucari saja mereka tak paham. Andai aku tau semua jawaban, formulanya, tak akan seperti ini. Aku akan duduk saja pada satu kursi dan tidak beranjak, lakukan itu terus menerus sepanjang hayat sampai ajal menjelang. Bukankah untuk satu penemuan lampu, Edison gagal berpuluh bahkan ratusan kali? Mereka hanya mementingkan hasil yang tampak. Tapi lupa bahwa yang tampak itu bisa menipu. Seorang direktur perusahaan ternama tampak bahagia karena gajinya besar, mobilnya banyak, rumahnya megah, tampak luarnya Ia bahagia, walau dihatinya Ia hanya ingin hal sederhana bisa bersama cucunya dikampung.

Mereka tak menghargai bagaimana kerasnya aku berjuang menemukan formula itu. Aku terus belajar. Aku yang begitu semangat saat menemukan hal baru. Aku bermimpi. Aku berencana. Untuk itu saja tak bisakah aku dapat sedikit dukungan saja? Hanya sedikit. ?Carilah dan kami akan slalu jadi rumah untukmu pulang?. Hanya sesederhana itu yang kubutuh.

Aku hanya butuh tau bahwa ada ?1 orang saja. Tak perlu banyak. Satu orang yang bisa menjadi supporter untuk semua kegilaanku. Ya supporter, yang setia bersorak, berteriak sampai suaranya habis, menabuh gendang sekencang-kencangnya meskipun Ia tau aku akan kalah. Meskipun ia tau kemampuanku jauh dibawah lawan. Meskipun Ia tahu mustahil untuk menang. Tak paduli aku kalah atau menang. Ia akan selalu jadi supporter yang fanatik bagi kegilaanku. Aku butuh seperti itu. ?Butuh rumah untuk pulang, butuh tempat untuk mendengarkan kegilaanku sembari memberi pertimbangan, bukan mematahkan.? Jauh dalam hati, aku sadar akan semua resiko yang akan muncul dari semua keputusanku. Dan kabar baiknya, aku selalu siap dengan semua resiko itu.

-Alien-

  • view 106