Patah Hati Terbaik

Haniska Virginia
Karya Haniska Virginia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Februari 2016
Patah Hati Terbaik

About rainbow that appeared in the evening

About cherry blossoms which grows in tropical countries

About rain that you say is more beautiful

If it drops at Tanah Lot

Pale moon

Instantly beaming

Situation be an upside

Something unsettle my heart

About things that previously I trust

?

(23 Mei 2015)

?

Saya seringkali mengatakan pada diri saya sendiri, bahwa diantara jutaan pilihan yang ada di bumi, ada satu yang benar-benar tidak bisa dikategorikan sebagai pilihan. Orang-orang menamainya Jatuh Cinta, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai Jatuh Hati. Dan barangkali saya lebih-lebih tidak memiliki pilihan setelah puisi pertama saya diatas lahir begitu saja. Saya ?pernah? jatuh cinta?biar saya definisikan kata ?pernah? itu seiring tulisan ini dituliskan?. Tepatnya, saya tidak tahu tepatnya kapan. Tapi saya menulis namanya pertama kali di buku harian bertanggal 5 Januari 2015. Saya seringkali memastikan ini bukan ?Cinta Pada Pandangan Pertama? dan memang pada dasanya adalah bukan samasekali. Saya merasakan getar pertama yang menyebalkan itu sekitar Oktober 2014?kalau saya tidak salah hitung. Bukan tanpa alasan saya menyebutnya menyebalkan, tapi ini memang sungguhan menyebalkan. Bagaimana tidak? Setelah menyadari bahwa saya jatuh hati?setelah menyangkalnya puluhan kali?saya terpaksa rela kurang tidur. Saya terpaksa merelakan pikiran saya dilingkupi semua hal tentang manusia satu itu. Saya terpaksa harus terjaga sampai tengah malam, merasa rindu sampai hampir tak bisa bernapas, apalagi kalau sedang hujan. Menjadi kerdil, tak punya apa-apa untuk dikatakan, saya menyimpan terlalu banyak perasaan?pada waktu itu. Sampai tersisa satu cara saja yang saya punya untuk bertanya dan berkata-kata, yakni lewat tulisan?yang kebanyakan adalah puisi.

Saya memang menyukai puisi dan beberapa kali menulisnya ketika saya ingin. Saya baru intens menulis puisi lagi sejak saya jatuh hati. Puisi tersebut lalu saya bukukan, dan saya baru sadar bahwa ada hampir satu buku penuh yang sudah saya tulis. Beberapa kali saya membuka buku itu dan membaca isinya satu-persatu, saya menemukan satu kata yang paling sering muncul dalam bait-bait. Kata tersebut adalah ?Rindu?. Saya tidak pernah tahu saya bisa begitu merindukan seseorang sampai saya membaca tulisan saya sendiri. Dan ada hal yang membuat saya penasaran, sebenarnya saya ingin sekali bertanya ?Bagaimana rasanya dirindukan? Bagaimana rasanya jadi sumber rindu bagi seseorang??. Tapi tentu saja, pertanyaan saya hanya berakhir sebagai pertanyaan. Bagaimana mungkin saya bisa menanyakan pertanyaan seperti itu kepada seseorang yang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang dirindukan? Ia bahkan tidak tahu bahwa ada orang yang begitu rindu dan sangat membenci dirinya sendiri karena kerinduannya. Benar sekali, saya bahkan tidak pernah mengatakan bahwa saya menyukainya. Saat itu, bagi saya seperti itulah cara paling tepat untuk menyukai seseorang. Dan itu adalah cara yang paling bodoh yang ada di dunia.

Saya melakukan cara paling bodoh itu bukan tanpa alasan. Awalnya saya merasa mungkin ada yang salah dengan perasaan saya, atau perasaan saya hanya semacam obsesi tertentu. Saya menunggu hampir setiap hari, bukan menunggu ia untuk datang dan mengatakan cinta atau semacamnya, saya menunggu agar perasaan aneh di dalam hati saya ini lenyap seketika atau boleh saja hilang perlahan-lahan. Tapi nihil. Hati saya tidak main-main rupanya. Saya mulai menganggapi ini sebagai hal serius. Menyebalkan sekali rasanya tidak bisa berdamai dengan hati sendiri. Apalagi, saya menemukan fakta bahwa menyangkal hanya membuat diri saya kelelahan. Jadi saya biarkan perasaan ini tumbuh, sejauh mana ia ingin tumbuh. Sambil menghitung-hitung waktu yang tepat untuk jujur pada diri saya sendiri, sekaligus jujur pada pria satu itu. Tapi hitungan saya barangkali tidak pernah tepat, sama seperti waktu yang sudah saya nanti-nantikan.

Jika saya boleh menyebutkan suatu angka sekarang, saya memilih 15. Dan dari 15 itu sendiri, 11 diantaranya adalah angka dimana saya patah hati. Ya, ini memang bukan rekor luar biasa. Tapi paling tidak, 11 bulan memilih patah hati mungkin sudah cukup pantas dikatakan sebagai kebodohan luar biasa. Saya begitu mempercayai bahwa jatuh hati bukan merupakan pilihan, padahal saya juga tidak begitu mengerti apa namanya. Mungkin jatuh hati adalah pemberian, dan lebih dalam lagi salah seorang teman menyebutnya sebagai Takdir. Baiklah, katakanlah jatuh hati adalah ketidaksengajaan, atau sesuatu yang tidak bisa diprediksikan, datang tiba-tiba, dan seketika membuat debar yang semula normal menjadi tidak karuan. Apapun sebutannya. Dan mungkin alasan itulah yang membuat saya bertahan sejauh yang saya mampu lakukan untuk bertahan, dan juga menahan. Saya jelas-jelas tahu satu hal bahwa setelah jatuh, kita diperbolehkan memilih. Setelah jatuh, kita diberikan pilihan. Rasanya cukup adil, mengingat awalnya kita mendapat pemberian bernama perasaan, tanpa pilihan untuk menolak atau menerima. Cukup adil, karena setelahnya ada pilihan-pilihan yang boleh kita ambil. Pertama, memilih berhenti jatuh yang artinya berdiri dan bangun. Kedua, memilih terus jatuh dan melihat akhir seperti apa yang kita miliki.

Saya memilih pilihan yang kedua. Dan saya tidak pernah menyesali pilihan saya. Meskipun saya sudah mendapat akhir yang menyedihkan dari pilihan yang saya ambil. Kemarin, saya mengatakan sesuatu kepada Kekasih saya?pastinya bukan ia?saya berkata kepadanya bahwa setiap orang dipertemukan bukan tanpa alasan, dan yang terpenting bukan seberapa lama seseorang bisa bersama, yang terpenting adalah tentang seberapa banyak kita bisa saling belajar. Dan mungkin patah hati saya sebelumnya bukan menjadi hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya. Justru, itu adalah Patah Hati Terbaik yang pernah saya alami. Karena setidaknya saya belajar banyak, tentang merelakan, tentang menerima sakit tanpa harus menyakiti, tentang lebih menyadari bahwa kebahagiaan kita tidak lebih penting dari kebahagiaan orang yang kita cintai.

Setidaknya saya pernah merasakan patah hati yang luar biasa ketika melihat orang yang saya cintai sedang patah hati. Dan itu mengajarkan saya tentang sebenar-benarnya mencintai. Setidaknya saya pernah benar-benar merasakan bahwa lebih baik melihat orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya daripada melihat ada bulir di pelupuk matanya. Saya sungguh-sungguh dengan itu. Dan terakhir, setidaknya patah hati dapat mempertemukan saya dengan orang yang lagi-lagi tidak saya duga-duga. Seseorang yang mungkin sengaja dikirimkan sebagai penyembuh, dan semoga saja sebagai penyempurna yang paling tepat. Satu lagi?kali ini benar-benar yang terakhir?setidaknya saya dapat menyelesaikan tulisan ini dan juga mengumpulkan setumpuk puisi?hasil dari patah hati terbaik saya.? Dengan nada seperti ibu yang menasehati anaknya, saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada yang sia-sia dari sebuah perasaan Nak, tidak ada yang sia-sia dari waktu yang kau habiskan untuk sebuah penantian panjang.

Ditutup oleh salah satu quote dari John Green; You don?t get to choose if you get hurt in this world. But you do have some say in who hurts you. I like my choices.

?

  • view 264