yang Kau Butuhkan Hanya Diam Sejenak

yang Kau Butuhkan Hanya Diam Sejenak

Haniska Virginia
Karya Haniska Virginia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
yang Kau Butuhkan Hanya Diam Sejenak

Seperti biasanya, saya selalu bingung dalam menulis kalimat awal untuk sebuah tulisan. Tapi saya berusaha supaya?setidaknya?gagasan saya dapat sampai walaupun diwakili oleh kalimat seadanya. Baiklah, mari kita?diriku sendiri?mulai. Siang ini, tepatnya tengah hari, saya duduk di salah satu bangku tunggu di samping studio foto. Bukan bermaksud menceritakan bagaimana saya difoto dan betapa mengejutkannya hasil cetakan foto itu, ada hal lain yang lebih menarik bagi saya. Tidak penting untuk diketahui, tapi saya tetap ingin memberi tahu, bahwa saya memiliki beberapa koleksi foto toko kuno yang ada di luar negeri. Kebanyakan dari foto itu adalah foto toko buku dan toko bunga kuno. Jangan artikan kuno disini secara harfiah. Karena saya belum sempat membaca makna kuno di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kuno disini barangkali lebih bermakna unik, tua, tapi tak menyeramkan. Justru klasik. Ya, mungkin kata klasik lebih tepat daripada kuno. Karena barangkali yang ada di fikiran orang-orang mengenai kuno adalah menyeramkan, berhantu, kosong, usang, dan hal-hal menyebalkan lainnya.

Jujur saja, bagi saya toko-toko klasik tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat saya sangat ingin plesir ke luar negeri. Dengan alasan, jarang sekali ada tempat yang memiliki daya pikat di negeri sendiri. Sampai saya duduk di kursi samping studio foto siang tadi. Saya menemukan daya pikat pertama di negeri ini. Berlebihan mungkin, mengingat letaknya tak sampai satu kilometer dari rumah. Jadi mungkin, itu adalah daya tarik pertama yang saya temukan di sekitar rumah saya. Studio foto sekaligus toko penyedia jasa cetak foto tersebut?bagi saya?memiliki daya pikat yang tak kalah.

Mari saya deskripsikan sedikit. Bangunannya kotak sempurna, dengan bagian depan yang cukup sempit, ada lorong pendek yang harus dilewati jika pelanggan ingin berfoto. Lantainya ubin, tidak istimewa memang, tapi entah kenapa bagi saya ubin lebih menarik daripada jenis lain. Lagi-lagi, mungkin karena terasa lebih kuno. Satu yang tak kalah menarik adalah reklamenya. Sekilas terlihat biasa saja, tapi jika diamati pelan-pelan, pemasangannya membuat saya teringat akan reklame yang ada di pusat pertokoan di Jepang. Di depannya tepat, terdapat jalan raya dengan dua lajur. Ke kanan sedikit, masih di jalan raya depan toko, saya bisa melihat tiang lampu di pembatas jalan, yang jika diamati tiang lampu tersebut juga cukup pantas dianggap klasik.

Tapi mungkin ada satu yang kurang dari tempat ini, yang membuat nuansanya tidak semanis yang saya bayangkan. Yakni kurangnya orang-orang yang dengan sukarela berjalan kaki. Kebanyakan dari mereka lebih memilih kendaraan pribadi. Padahal saat musim hujan seperti ini, bukankah lebih menyenangkan berjalan kaki sembari memakai payung? Daripada memakai mantel, berlomba dengan kecepatan hujan, atau barangkali sambil mengumpat? Mungkin itu sebabnya belakangan saya jarang sekali melihat orang-orang memakai payung atau orang-orang yang jual payung.

Saya duduk hampir 30 menit lamanya karena menunggu foto saya selesai dicetak. Selama 30 menit itu pula saya melihat banyak hal di sekitar saya. Hal-hal yang selama ini terlewatkan begitu saja. Saya melihat betapa ambigunya batas antara urban dan nonurban?barangkali namanya, saya tidak tahu?di kota ini. Urban, saya identikkan dengan hal-hal berbau perkotaan yang modern, canggih, dengan para remaja yang berjalan dengan kepala tertunduk karena memandangi layar ponsel, dengan orang-orang usia produktif yang memakai setelan seragam atau jas keluar masuk kantor, memakai mobil mewah??meskipun mobil dinas, maaf?. Tetapi kota tak se-urban yang saya bayangkan. Buktinya di dekat tempat duduk saya siang tadi, masih ada kakek tua dengan kaos agak gombrang??saya masih ingat warnanya, kuning??dengan setia menunggui gerobaknya. Saya lihat tangannya gemetaran?entah karena lapar atau karena usia?saat melipat lumpia dan menggoreng pisang coklatnya. Ia jalan pelan-pelan menuju toko tempat saya mencetak foto, hanya untuk melihat jam yang ada di toko itu. Padahal jelas-jelas dari kantong celana belakangnya terlihat bahwa ia memiliki ponsel. Bisa jadi ia memang tidak tahu bahwa ponselnya memiliki jam digital, atau ia tahu tapi tak percaya keakuratan waktu di ponselnya itu. Sekali lagi, canggih tidak menjamin kebutuhan kita terpenuhi.

Bahkan menurut saya, manusia?khususnya saya?di zaman supermilinea seperti sekarang justru butuh kesederhanaan dan sesuatu yang berbeda dari sekedar layar gadget. Dan sesungguhnya saya merasa beruntung hari ini karena saya menemukan daya tarik yang jujur saja saya nanti-nantikan. Walaupun sebenarnya hari ini bukan kali pertama saya mengunjungi toko itu. Bahkan saya tiga kali dalam seminggu melewati jalan di depannya. Tapi selama ini saya hanya melewatinya, tidak berhenti untuk mengamati dan berfikir. Barangkali Anda semua ada yang sama seperti saya, terlalu banyak melewatkan sesuatu. Padahal yang kita butuhkan hanya sederhana, cukup diam, mengamati, dan menemukan sesuatu. Sampai di akhir tulisan ini, sebenarnya saya sedang memegang komitmen untuk tidak menyebut nama tempat yang saya kunjungi siang tadi. Dengan alasan, jika kalian para pembaca ingin menemukannya, silahkan temukan sendiri. Dengan cara mencari, diam, mengamati, dan semoga berhasil menemukan. Karena yang berharga disini justru bukan tempatnya, tapi tentang proses bagi diri kita memaknai sekitar.

  • view 266