Rupanya Terlalu Banyak R di Dunia Ini

Haniska Virginia
Karya Haniska Virginia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Juni 2016
Rupanya Terlalu Banyak R di Dunia Ini

Selama kurang lebih tiga tahun di SMA. Saya menghitung setidaknya ada begitu banyak hal yang membuat saya kesal. Sampai-sampai saya seringkali ingin mengumpat dan berteriak “Ah sialan!”. Tapi disaat yang sama, saya seringkali ingin menertawakan kejadian-kejadian itu. Saya pikir selain menyebalkan, ada banyak hal yang cukup menggelikan bagi saya. Sampai saya sering bertanya-tanya “Kok bisa ya?”.

Ada salah satu kejadian menyebalkan sekaligus menggelikan yang—setidaknya—masih saya ingat. Selama tiga tahun ini, saya menghitung setidaknya ada begitu banyak huruf “R” yang sliweran di dunia saya. Tentu saja huruf R yang saya maksud bukanlah huruf pertama dari rupa-rupa macam Roti, Rolade, apalagi Rokok. R yang saya maksud adalah inisial dari beberapa orang yang saya temui.

  1. R yang pertama

R saya yang pertama—Oh dia bukan milik saya, belum pernah jadi milik saya­—adalah seorang kakak senior di SMA. Waktu itu saya kelas 10, dia kelas 12. Sebenarnya saya tahu R yang satu itu ketika saya masih kelas 9. Sepupu saya sering menceritakan tentang R bahkan menunjukkan fotonya berkali-kali—yang memang tampan­—. Sepupu saya adalah salah satu yang naksir berat dengan R. Jujur saja, awalnya saya tidak peduli tentang siapa R itu. Saya tipe orang yang tidak percaya bahwa orang itu tampan atau tidak hanya dengan melihat fotonya—mengingat ada photoshoop yang luar biasa hebat—. Sampai akhirnya saya masuk di SMA yang sama dengan sepupu saya, dan saya benar-benar bertemu dengan R di sekolah. Sialnya, dia benar-benar tampan. Sialnya lagi, saya tidak bisa mengelak bahwa dia benar-benar tampan. Melihat dia, membuat saya ber-oh ria. “Oh jadi ini yang bikin cewek-cewek naksir?”. R adalah salah satu anggota klub olahraga terkenal di kota saya. Tentu saja badannya atletis dan proporsional. Kulitnya? Ini yang membuat saya merasa agak heran, R cocok jadi bintang iklan sabun kecantikan ataupun lotion seandainya nanti ia lelah karena sibuk jadi mahasiswa psikologi. R punya kulit yang bersih dan bisa dikatakan putih padahal hampir tiap hari ia latihan di lapangan yang penuh debu dari siang sampai sore. Saya naksir R. Dan mengakui bahwa saya naksir berat. Bahkan saya pernah punya satu flashdisk yang isinya foto-foto si R. R sekarang jadi mahasiswa semester empat jurusan psikologi. Saya tahu karena belum lama ini ia berkunjung ke SMA. Ia masih tampan tanpa harus banyak bicara. Dan sedikit lebih tinggi dari dulu.

 

  1. R yang kedua

R yang satu ini adalah R yang paling berbeda. Ia adalah yang paling dekat sekaligus paling jauh. Ia adalah yang paling jauh sekaligus yang paling dekat. Sulit sekali menjelaskan yang satu ini dalam artian sebenarnya. Dan sial, saya kerap kali kehabisan kata-kata saat menjelaskan tentang R yang ini. Baiklah, dia bukan kekasih saya. Belum pernah jadi kekasih saya dan saya tidak tahu apakah nantinya ia akan jadi kekasih saya. Tapi saya telah, pernah dan tidak tahu sampai kapan akan terus-terusan jatuh cinta dengan yang satu ini. Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana sosok R dengan lebih rinci. Karena saya juga tidak benar-benar mengetahuinya. Saya tidak bisa benar-benar melihatnya hanya dengan mata. Jadi saya hanya punya kesimpulan bahwa dia berbeda. Itu saja. Oh ya, kalau tidak salah warna matanya coklat tapi tidak begitu pekat.

 

  1. R yang ketiga

Kalau saja saya bisa menemukan batas yang membedakan antara bodoh dan terlalu baik, saya mungkin dapat menjelaskan tentang R yang satu ini dengan lebih baik. R yang satu ini sangat baik hati. Terlalu baik sampai ia jadi bodoh. R yang satu ini pernah begitu dekat dengan saya. Dan celakanya, kita berdua pernah tidak paham tentang artian dekat di masing-masing kepala. Saya pernah dekat dengannya sampai dua ratus hari lebih. Saya yang menghitungnya. Dan begitu dia tahu kalau saya menghitung tiap hari, dia juga ikut-ikutan menghitung. Tentunya, kita masih dalam keadaan tidak tahu apa yang membuat kita masing-masing menghitung. Saya tidak bilang bahwa dia berbeda. Yang berbeda adalah saya dan dia. Keduanya. Masing-masing dari kita. Saya pernah merasa jadi orang jahat sedunia, berkali-kali, karena berada di dekat R. Bagi saya R adalah sahabat yang baik, dan baginya saya adalah kekasih yang baik. Saya menghitung hari sambil terus-terusan berfikir mengapa kita harus begitu dekat. Dia menghitung hari sambil terus-terusan berfikir mengapa kita tidak harus begitu dekat. Tahun lalu, saat saya ulang tahun yang ke-17—waktu itu bulan November, saya masih ingat—dia memberikan hadiah yang membuat saya menangis sampai sulit berhenti. Hadiah itu berupa video. Di dalamnya ada puluhan orang yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Dari puluhan orang di video itu ada yang kenal saya dan ada yang tidak kenal saya. Saya bisa bilang itu kado terbaik pada tahun itu. Kado itu berhasil membuat saya menangis dan berhasil membuat R harus lari untuk beli tisu dan satu botol air karena air mata saya waktu itu luar biasa banyaknya. Sekarang saya tidak dekat lagi dengan R. R tahu hati saya tidak bisa sepenuhnya saya berikan. R tahu saya menyukai orang lain sampai hampir gila. Tapi satu yang R belum tahu sampai sekarang, ada dua alasan yang membuat saya menangis karena video itu. Yang pertama tentu saja karena saya terharu. Dan yang kedua dia tidak akan tahu.

 

  1. R yang keempat

Awal tahun saya diisi dengan satu R lagi. Kali ini, saya dekat begitu saja dengan R yang ini. Kita sama-sama berada di sekolah yang sama. Dia junior saya di sekolah. Saya dekat, dan teman-teman saya tahu kalau saya dekat dengan R. Sebenarnya saya kenal R sudah agak lama, kita ada di eskul yang sama dan beberapa kali menjadi bagian dari acara yang sama. Tapi kita dekat baru awal tahun ini. Kita punya kebiasaan bertemu tiap sabtu sepulang sekolah, mengingat kita yang sama-sama sibuk dan tidak bisa bertemu tiap hari walaupun ada di satu sekolah yang sama. Saya pernah melewati beberapa sabtu dengannya. Dan beberapa senin ketika kita sama-sama tidak sibuk. Pernah di mushola, di teras mushola, di bangku pinggir lapangan voli, di kelas, sayangnya belum pernah di lapangan basket. Sabtu kita biasanya diisi dengan cerita. Kita saling menceritakan, apa saja. Di sabtu pertama, saya menyadari kalau saya jatuh cinta. Dan itu awal dari sabtu-sabtu berikutnya. Darinya, saya belajar jadi pendengar yang baik, sebelumnya saya tidak pernah benar-benar jadi pendengar yang baik. Saya seringkali hanya sibuk dengan isi kepala saya sendiri. R yang satu ini begitu sederhana, apa adanya, dan saya tidak tahu mengapa saya menyukai itu. Tapi sama seperti R yang ketiga, saya juga berakhir dengan R yang ini. Bukan tanpa alasan, semakin lama saya semakin merasa begitu asing dan meragukan perasaan saya sendiri. Saya memutuskan untuk berhenti dari R yang ini, apapun nama hubungannya sebelum ini. Karena saya tidak benar-benar paham tentang hubungan saya sebelumnya. Kami belum pernah sepakat untuk pacaran, dan tidak akan. Kita bersahabat dekat, tapi saya sendiri merasa aneh dengan artian dekat. Jadi, ini adalah akhir saya dengan R. Tidak lagi dekat. Dan mungkin tidak akan lagi.

 

Saya benar-benar tidak berharap supaya ada R lain lagi setelah ini. Bukan apa-apa, saya hanya kelelahan mengumpat terus-terusan. Dan barangkali ada pembaca yang penasaran kepada siapa hati saya sekarang ditujukan. Saya akan menjawab, diantara keempat R, saya masih belum bisa menyangkal dan berpaling dari R yang paling berbeda. Itu saja.

  • view 194

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    dulu saya pernah membuat semacam cerpen dengan judul my name is R.

    entah arsipnya tercecer dimana.

    cerpennya butut sekali.

  • desy febrianti
    desy febrianti
    1 tahun yang lalu.
    Lucu.. aku punya tulisan semacam ini, ada R juga didalamnya