Puisi Sungguhan, Tadinya Punyamu

Haniska Virginia
Karya Haniska Virginia Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Mei 2016
Puisi Sungguhan, Tadinya Punyamu

Sampai suatu saat aku

Tak menemukan kamu diatas lembayung

Sampai entah kapan aku

Tak bertemu bayang-bayang diantara mega dan hujan

yang cepat-cepat ku sadari bahwa itu kamu

 

Aku ingin menghambur

Sadar bahwa kamu serupa rumah

Tempat segala kenyamanan ditawarkan cuma-cuma

Serupa senja tempat dan tepat semua lelah disandarkan

Bintang jatuh

Lebih-lebih dari itu

 

Aku berharap lebih besar dari pengharapanku

Semoga kamu tak sekelebat

Semoga kamu jatuh perlahan-lahan dari langit malam

Aku ingin jatuh tanpa sadar bahwa aku sudah jatuh

dan aku ingin terluka tanpa ingat aku telah dilukai

 

Untuk sebuah alasan irasional dan cenderung asal

Agar kamu menawarkan penyembuhan

Agar aku dapat pulang kapan saja

Menghambur dalam setiap pelukan yang nanti

Katamu,

“Semua ini milikmu Puteri”

 

Aku ingin jadi rumah

Sama sepertimu

Di sisimu, di sisiku

Kita tak perlu jadi seribu

Untuk sempurna

Kamu satu menyempurnakan

Aku satu menggenapkan

 

[Februari 2016]

  

Diantara banyak hal yang seringkali saya tulis, tulisan saya diatas adalah yang pertama yang saya anggap sebagai puisi sungguhan. Saya menulisnya untuk seseorang yang pernah dekat beberapa bulan yang lalu. Tadinya saya ingin memberikan puisi itu sebagai hadiah. Dan waktu itu, saya ingin sekali dia yang menjadi pembaca pertama. Tapi barangkali puisi ini tidak cukup bagus untuk disebut sebagai hadiah. Mengingat saya pernah berfikir bahwa dia adalah hadiah sungguhan bagi saya. Dan saya tidak bisa memberikan hadiah yang menandingi keberadaannya di sekitar saya.

Puisi ini berakhir dengan hanya saya yang jadi pembaca pertama, kedua dan seterusnya. Saya tidak jadi mengirimi ia puisi yang satu ini. Saya pernah hampir menyelipkan secarik kertas berisi puisi ini di dalam kantong seragam putih abu-abunya. Tapi beruntung, saya tidak jadi melakukan itu.

Dia tidak suka puisi. Dia tidak begitu menyukai hal-hal yang saya tulis. Itu sebabnya dia pernah menolak ketika saya memintanya untuk jadi pembaca pertama tulisan saya yang akan dimuat di Inspirasi.co. Saya berusaha memahami bahwa tidak semua orang senang ketika diminta menjadi pembaca pertama. Barangkali dia berfikir itu tugas yang sulit. Karena mau tidak mau harus mengeluarkan komentar setelah membaca tulisan saya. Dan dia tidak pandai berkomentar, komentar bagus hanya akan membuat saya curiga, sedangkan komentar yang kurang bagus akan membuat saya kecil hati. Mungkin begitu pikirnya.

Saya pernah berusaha memahami bahwa saya tidak harus bersama orang-orang yang memahami saya. Tapi jelas saya menolak gagasan tentang “...yang penting itu cinta, siapa dia tidak jadi masalah..”. Jadi saya meninggalkannya. Setelah banyak berfikir dan berulang kali menemukan jawaban yang kurang lebih persis, saya jatuh cinta dengan orang asing. Begitu kira-kira. Jadi sekarang, puisi saya berakhir di sini—di Inspirasi.co. Yang kemungkinan, ia juga akan hadir sebagai pembaca. Karena beberapa waktu yang lalu ia sempat mengirimi saya pesan, katanya “..Saya kangen pengen baca tulisan kamu..”. Saya berharap sekali ia bukan pembaca pertama setelah tulisan ini saya unggah. Beberapa orang memang berubah setelah ditinggalkan.

Oh ya, dua baris terakhir di puisi tadi adalah potongan kalimat luar biasa indah dari Dewi Lestari. Itu saja.

  • view 170