Puisi yang Malas

Haniska Virginia
Karya Haniska Virginia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2016
Puisi yang Malas

Mendekati peringatan satu tahun diskusi akbar kita

Aku tak yakin bisa ada di lingkaran yang sama

Lagipula, sepertinya hanya aku yang ingat tepat

Waktu kita sebentar lagi

Proses pemindahan memoriku tentang kamu

Dari amygdala ke hipocampus

Sedang berlangsung

Aku berupaya keras menolak bayang-bayang

Menjelang tidur

Tapi kamu sudah jadi obat mujarab

Untuk tidur nyenyak

Terlanjur

Aku coba metode baru

Memejam

Sambil menghitung domba

Hitungan ke 64 aku terlelap

Entah baru berapa menit

Lalu terjaga lagi

Mungkin domba-dombanya berteriak

Memanggilku, meneriaki aku

Tak sudi dijadikan obat tidur baru

Mau bagaimana lagi?

Kamu terpaksa muncul lagi

Dan kali ini keterlaluan

Kamu ikut-ikutan hadir dalam mimpiku

Sepertinya aku belum cukup mahir menekan ingatan

Jadi bagaimana agar aku tidur nyenyak?

 

[ 2 Januari 2016, pukul 23.09 WIB]

Puisi itu saya tulis menjelang tengah malam. Lampu kamar sudah saya matikan, dan saya memang malas berdiri untuk menyalakannya lagi. Saya malas mengambil pena dan kertas di ujung kamar. Lalu saya inisiatif untuk menulis di ponsel saja, saya tidak perlu berdiri. Ponselnya ada tepat di sebelah bantal. Ya, saya tidur dengan ponsel saya. Menjijikkan sekali memang. Saya seringkali membayangkan tidak ada ponsel di dunia ini. Hanya ada telepon umum yang harus dijejali koin terlebih dahulu, atau wartel-wartel dengan antrean super sibuk. Mungkin jika demikian kenyataannya, akan ada banyak orang yang mengantre di kantor pos untuk kirim surat. Dan saya akan menerima banyak surat cinta yang sesudahnya bisa saya bakar kalau-kalau saya patah hati. Atau bisa saya simpan di dalam kotak sepatu sampai tulisannya luntur. Tidak seinstan sms, yang kadangkala tanpa ada niat menghapusnya, saya secara tidak sengaja melenyapkannya. Saya sempat beberapa kali merasa bahwa saat ini ada banyak orang yang kehilangan momen. Saya seringkali kehilangan momen.

Ini yang membuat saya sering sibuk, berusaha cepat-cepat menyalin apa yang saya tulis di ponsel ke atas kertas-kertas. Supaya tidak sengaja terhapus, supaya tidak lenyap begitu saja. Puisi diatas adalah salah satu yang saya usahakan cepat-cepat pindah dari ponsel. Saya tidak berniat kehilangan yang satu ini. Puisi yang satu ini. Sebenarnya saya tidak pernah benar-benar menulis puisi. Saya tidak pandai menulis puisi. Seringnya saya hanya menulis apa yang ada di fikiran, berupa baris-baris kalimat yang dengan asalnya saya menyebut tulisan itu sebagai puisi.

Ini pula yang seringkali membuat saya malas membagikan tulisan yang saya kira sebagai puisi. Karena puisi saya adalah puisi yang malas. Puisi saya adalah puisi yang buruk. Saya ingin punya lingkup pembaca, dan saya berfikir bahwa mengunggah sebuah puisi adalah salah satu langkah awal yang bodoh. Puisi ini begitu naif. Dan saya tidak yakin saya akan punya lingkup pembaca kalau terus-terusan menulis seperti ini.

Tapi malam ini saya sedikit tidak peduli. Saya takut kalau-kalau kertas-kertas saya bisa saja terbakar saat saya patah hati. Saya juga tidak berniat membuat salinan dengan memphoto-copy. Mengingat tukang photo copy sekarang sangat banyak yang penasaran dan senang sekali tanya-tanya. Jadi malam ini saya membuat salinannya disini.

Puisi ini tentang seseorang. Oh bukan, maksud saya tulisan di atas itu memang tentang seseorang. Yang tanpa sepengetahuannya, saya sudah patah hati berkali-kali. Karenanya. Dan saya malah berusaha membuat tulisan tentang ia menjadi sulit untuk dihapus. Saya tidak membakarnya. Belum sekalipun. Entah apanya yang salah saat saya berfikir bahwa saya juga mulai menyukai patah hati saya yang berkali-kali ini. Ini adalah salah satu yang paling berharga yang harus saya simpan baik-baik, setidaknya itu yang ada di kepala saya.

  • view 362