8:43 - 2014/3/22 - 1 kisah untuk lebih dari 1 kisah

Hani Halimah Khoiriyah
Karya Hani Halimah Khoiriyah Kategori Motivasi
dipublikasikan 26 Oktober 2016
8:43 - 2014/3/22 - 1 kisah untuk lebih dari 1 kisah

***

Perjalanan hidup, mengantarkan saya  untuk dapat belajar, berbagi, melihat, mengamati, mendengar, berekspresi, dan hal-hal lainnya. Tentu, akan selalu ada pembelajaran yang didapatkan dari setiap episode perjalanan. 

8:43 di tahun 2014. Sebagai salah satu memori kebersamaan saya dengan anak-anak. Akan tetapi, dalam tulisan ini mengkisahkan tentang beberapa moment saya bersama anak-anak di beberapa Sekolah Dasar di Kota Bandung. Tepat kala itu, saya tengah belajar mengenai psikologi anak.

Ketika masih mengontrak mata kuliah tentang pendidikan anak. Saya lebih antusias belajar mengamati hal-hal yang dilakukan anak-anak, iya apapun tentang anak-anak saya suka, bahkan sekedar melihat cara mereka memandang atau mendengarkan candaan saya sekalipun.

Bagi saya, belajar bersama anak-anak memberi kesan tersendiri. Seolah-olah Tuhan secara langsung sedang mengajarkan saya bagaimana cara memaknai hidup, cara berpijak dengan kisah yang tak selalu sama pada kondisinya, cara berprilaku dan banyak hal lainnya.

Apa yang saya dapat: "lihatlah bagaimana mereka jujur dalam berkata, curiosity yang tinggi, semangat berekspresi, pendengar dan penyimak yang baik, antusiasme tinggi, berani, genuine, semua ada sebagai potensi mereka "anak-anak".

Pernah suatu ketika, mereka bertanya tentang Tuhan; "Ibu guru, kita harus beriman kan ya, terus Tuhan itu kaya gimana?". berdasarkan pengalaman saya, ini adalah pertanyaan yang sering banyak dilontarkan anak-anak pada orang-orang yang lebih dewasa darinya. Atau mereka bertanya: "Ibu, aku ingin jadi pengusaha, tapi aku juga ingin jadi guru, bisa gak Ibu Guru ? aku juga mau jadi hafidz juga".

Atau dengan tiba-tiba mereka bilang: "Ibu Guru, aku kemarin menang lomba panah, aku juara 2", "Ibu Guru, ayahku dokter, sekarang kakakku juga sekolah kedokteran, tapi aku gak mau jadi dokter",

"Ibu guru, mamahku dan papahku udah pisah katanya, jadi aku tinggal sama nenek", "Ibu Guru, lihat gambar punya aku", "Ibu Guru, aku gak bisa bikin gambar bangunannya", atau............"Ibu, aku suka dinosaurus, mamahku suka nonton korea, tapi papah gak suka kalo mamah nonton korea, papah suka kesel" hahahah lucu kan mereka. dapatkah kalian ambil pelajaran dari kata-kata yang mereka lontarkan?, kalo saya tentu iya dapat. 

Sempat saya ingin menangis di depan anak perempuan kelas 4 SD, ia bercerita mengenai kondisi dirinya. Saya terkejut ketika melihat ia tiba-tiba menangis, "Ibu Guru, bla bla bla..........(ia bercerita banyak)..........."aku dibilang pembantu, sama Ibu tiriku". Jlep, sontak aku lebih terkejut, ternyata ini beberapa alasan mengapa ia lelah jika di sekolah, terlihat murung, nilai menurun, yaps "karena, ia meski melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, beres-beres rumah, mengurus adik tiri setelah pulang sekolah, bahkan waktu bermain pun tidak ada?". 

Tunggu, aku terdiam mendengarkan ia berbicara sambil menangis tersendu-sendu. Penasaran semakin membuncah batinku, ia pun melanjutkan ceritanya. bla...bla...bla...."ayahku, menyuruhku untuk berhenti sekolah, lebih baik bantu-bantu di rumah saja katanya". 

Ok. Betapapun kita berpikirnya bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang ASYIK, tapi untuk beberapa anak mungkin asyik itu semakin sirna dari hari ke hari. Belum lagi keterbatasan-keterbatasan yang hadir tanpa dipinta. 

Pada kenyataannya, permasalahan anak-anak semakin komplek, belum lagi banyak sekali hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk masa depan (abad ke 21), sebagai bekal yang mumpuni bagi mereka dalam menghadapi dunia. Saya disini dan anda disana, memiliki tugas sebagai seorang calon pendidik atau pendidik. Kerjasama antara keluarga, lingkungan, dan sekolah yang saling terintegrasi dan bersinergi, menjadi sarana bagi pencapaian perkembangan anak-anak secara optimal. Entah itu pada pencapaian prestasi akademis, kompetensi, keterampilan dan sikap diri, personality, dan tugas perkembangan anak-anak agar dapat melalui tugas perkembangan berikutnya yaitu masa remaja, sebagai pencarian identitas diri. Pun, permasalahan yang ada, mari dipecahkan bersama, bukan diratapi, atau dibiarkan cuma-cuma.

Anak-anak sebagai pengamat. Anak-anak sebagai pendengar. Apa yang dilihat, diamati, didengar, dan dibiasakan, akan membentuk siapa dirinya. Maka dari itu "kobarkan semangat nasionalisme untuk kemajuan anak-anak bangsa, bukan kemunduran, melainkan kemajuan, optimis bukan pesimis, genggam impian bukan lamunan".

Jika bukan kita, orang-orang dewasa di sekitarnya yang mengajarkan "cara hidup yang baik" siapa lagi???....

Mereka adalah generasi bangsa. Ditangannya ada mimpi, kesuksesan, dan harapan. 

Semangat selalu kalian, anak-anak, saya rindu belajar bersama kalian... Terimakasih. Sekian. Ini cerita saya bersama anak-anak. Bagaimana dengan kalian?..

Salam Semangat. :') Semoga saya secepatnya lulus S1  dan dapat kembali belajar bersama anak-anak calon generasi bangsa. Amiin Insya Allah. 

HANI HALIMAH KH

26 OKTOBER 2016 

 

  • view 177