Ambisius (tidak mudah) Menjadi Tulus

Hanifati Radhia
Karya Hanifati Radhia Kategori Motivasi
dipublikasikan 06 November 2017
Ambisius (tidak mudah) Menjadi Tulus

Ada yang bilang, hidup itu ya harus ambisius. 
Lama sekali di lautan dunia maya, entah siapa penciptanya, saya pernah menemukan kalimat begini: ambisius tapi tulus. Terdengar sangat ajaib sekali. Dua kata sifat dengan kutub berlawanan yang menjadi satu. Ternyata, ketika kamu ingin menggenggam seluruh dunia, jangan terlalu cepat berpikir bahwa orang lain akan melakukan hal sama sepertimu. Seperti maumu. Orang lain belum tentu. Sederhananya, lihat saja para pemimpin-pemimpin yang eksis di televisi—mereka tidak saja punya fans, tapi juga haters. .
Pernah sekali, hingga hari ini saya candu dan menggilai dua kata ini: inspirasi dan motivasi. Kamus psikologi pasti sudah jelasnya mendefinisikan dua arti kata tersebut. Betapa bahagianya jika hidupmu dipenuhi dengan inspirasi dan motivasi. Mereka bekerja ketika kita melakukan suatu hal apapun. Cobalah beri sisipan aktif dan pasif pada kedua kata tersebut. Diinspirasi dan dimotivasi. Menginspirasi dan memotivasi. Ada kalanya, perihal –di- dan -me- ini saling beralih-alih, senantiasa bertukar seiring waktu. Tanpa kita tahu pula oleh siapa dan kapan kita menerima atau memberi perihal itu. .
Lalu, saya menemukan lagi kalimat: orang yang tampak tegar, sesungguhnya adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Jika ada orang yang demikian, mari kita bertepuk tangan. Jika tidak seperti itu, pun tidak apa-apa. Berarti ia sungguh manusia, biasa. Kekecewaan dan kesalahan memutuskan juga begitu. Sangat lazim dan sudah langganan. Terkadang inspirasi dan motivasi belajar (menjadi) dewasa bertumbuh dari hal-hal yang demikian? Benar atau tidaknya, untuk menjadi dewasa, adalah suatu proses belajar terus menerus tulus disertai sikap sabar, sabar dan, sabar.

  • view 65