Ceritaku Dengan Nyamuk

Ceritaku Dengan Nyamuk

Hanif Wibisono
Karya Hanif Wibisono Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Mei 2018
Ceritaku Dengan Nyamuk

            Waktu itu malam semakin larut, hanya suara kodok dan jangkrik yang saling bergantian. Lampu-lampu kamarku pun belum padam. Entah sejak gunung es dikutub utara mencair atau ayam sudah bisa melahirkan. Tiba-tiba segerombolan makhluk gaib yang mempunyai sayap itu datang menghampiriku. Dengan suaranya (ngiiing ngiing ngiiing) yang menjijikan itu terus berdengung di liang telingaku. “bergundir cilik, akhirnya kau datang juga” teriakku. “hahahahahaha, dasar bocah upil akan aku habisi darahmu” suara yang tegas dari komandannya. Dengan bala tentara yang lumayan banyak sekitar 9 ekor, makhluk-makhluk gaib itu sangat percaya diri untuk melumpuhkanku. Hal yang wajar, karena beberapa hari yang lalu tepatnya waktu aku duduk di kelas 1 SMA sekarang aku duduk di semester 5 di salah satu universitas di Indonesia (cari sendiri yaa). Aku dipermalukannya dengan beberapa gigitan yang menancap di sekujur tubuhku terutama bibirku. Saat itu aku sangat malu pada teman, pada semua (padahal tidak ada satupun orang yang menyaksikan). Aku bertekad kali ini kau harus mempermalukan mereka. Hal yang wajar dong aku ungkapkan karena setelah beberapa lama aku melakukan eksperimen untuk menemukan suatu formula untuk meng KO lawan. “pasti kali ini kau tidak akan menang, dan kalian akan bersujud menjadi pengikutku” lagaku seperti fatih gajah mada menundakkan lawan-lawannya. Maklum saya ngefans dengan beliau. “dasar bocah upil, bau kentut, gak pernah mandi, kalupun mandi pasti gak sikat gigi, kamu kira kamu ini siapa hah?” bentak salah satu anggotanya dengan dadanya dibusungkan padahal kering kerontang begitu. “hahaha haha hahah hahah” sambut anggota yang lain karena dilucu-lucuin padahal lucu bangeet !. tidak mau basa basi aku pun menaburkan formula yang susah payah aku buat dengan waktu yang yang relative lama yakni 3 menit yang lalu. “seeerrrrbuuuuuuuu” komandannya memberi aba-aba. “hihihihihi” senyum sinisku terpancar. Minyak jelantah pun membahasi sekujur tubuhku. Ternyata mempan juga formula yang aku buat, makhluk-makhluk gaib itu berterbangan memburu bagian demi bagian tubuhku. Aku hanya bisa diam melihat kemolekan tubuhku yang dicabik-cabik oleh gigitan dan jilatannya. Waktu itu aku hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku terkulai, resah mendesah, keringat menetes didada, mata terus terpejam (ting tong benang merah woy). Benar saja satu demi satu makhluk gaib itu menyerang tubuhku. Namun mereka enggan menyentuh tubuhku, karena penuh dengan minyak jelantah. “bagian sana, seraaaaang” instruksi sang komandan dengan nada tegasnya. “Annjriiiiiiiiit, aseeem” kesembilan makhluk gaib itu berteriak bersamaan. “hahahahahaha, goblok itu ketekku” ketawa bangga. Dan akhirnya hanya dengan hitungan detik kesembilan makhlu gaib pingsan disela-sela bulu ketek. Dan akhirmya aku bisa mengalahkan mereka dan menjadi pemenang. Akupun menyanyikan We Are The Champion yang dipopulerkan band Queen tahun 90an.

To be continue 

  • view 36