Pak Buk, Anakmu Sekarang Sudah Ganteng

Hanif Wibisono
Karya Hanif Wibisono Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 April 2018
Pak Buk, Anakmu Sekarang Sudah Ganteng

            Selasa, 11 Januari 1994 aku terlahir menjadi seorang anak laki-laki belum tau ganteng atau tidaknya. Karena memang setiap bayi pasti merujuk pada satu kata yaitu lucu. Bahkan bayi harimau pun akan terlihat lucu, entah kalo bayi tuyul. Orang tuaku memberikan sebuah nama yang penuh yaitu Hanif Wahyu Wibisono. Jika kalian ingin tahu apa artinya silahkan hubungi saya di hanifw69@gmail.com karena saya tidak mau membahasnya disini. Alhamdulilah aku terlahir lucu dan menggemaskan. Tidak ada yang aneh memang, semua berjalan begitu adanya. Tidak ada penyambutan yang meriah, tanpa kembang api, tidak ada pesta, tidak ada balon, tidak ada kue, bahkan jangkrik pun enggan berbisik. Tapi rasa syukur yang teramat dalam dari kedua orang tuaku sudah cukup membuatku terlahir untuk melihat dunia. Kulit sawo matang, mata kelap-kelip, hidung tak tinggi semampai, batok kepala tanpa rambut, pipi yang temben leleh berjatuhan dan tangan menggenggam penuh janji harapan. Menjadi hal yang menciri pada diri yang masih mungil. Kelak aku tak akan banyak menuntut kepada orang tuaku, bahkan mungkin suatu saat nanti jika dibelikan pesawat terbang saja aku tidak mau. Doa adalah permintaan utamaku kepada orang tua.
            Ceritanya dulu aku terlahir diwaktu fajar sedang menyinsing, orang tuaku bilang sama seperti Bapak Soekarno lahir. Sejak itu orang tuaku sering mengkait-kaitkan sifatku dengan tokoh besar tersebut. Kita sebagai anak memang harus manut tanpa pandang bulu. Sejak kecil aku memang sedikit lebih nurut kepada orang tua dibandingkan dengan kedua saudaraku. Namun ada yang berbeda lagi antara aku dan kedua saudaraku. Dari segi fisik aku sendiri yang terlahir dengan warna kulit berbeda. Kita sebut saja hitam. Padahal sejak lahir aku tidak begitu hitam. Hal itu bermula ketika umurku menginjak sekitar tiga tahun. Warna kulit lama-kelamaan mulai berbeda. Namanya juga anak-anak, aku tidak pernah menghiraukan hal tersebut. Namun semakin bertambah usia, hal ini mengusikku. Apakah yang terjadi??
            Orang-orang disekitarku mulai mem “bully” dengan sebutan BULAT. Istilah itu sering digunakan oleh orang Lombok untuk menyebut orang yang berkulit hitam. Hal ini terus menjadi-jadi, sampai suatu ketika ada seseorang yang mengangapku bukan anak Ibuku. Sedih??? Banget. Hal ini terjadi terus-menerus sampai akhirnya aku akrab dipanggil bulat oleh karib maupun teman sebaya. Ada suatu kejadian dimana waktu itu ada seorang pasien yang datang ke rumah untuk melakukan program berencana (KB). Secara ibuku adalah seoarang bidan handal di desaku. Banyak pasiennya yang hilir-mudik untuk KB. Namun ada satu pasien yang nyeletuk “Bu, itu anaknya?”. Dengan santainya ibuku pun menjawab “Ya”. Aku yang sedang berhadapan dengan dia (Baca: si pasien) ingin rasanya aku mengucapkan “Masalah buat loh, kalo aku hitam” tepat di depan mukanya. Atau melemparnya jauh ke planet Jupiter biar dia hilang sekalian dari planet bumi. Hal ini tidak terjadi sekali dua kali, namun berkali-kali. Bukan hanya di rumah, ketika aku mengajak Ibuku pergi belanja ke pasar pun begitu. Namun dengan kasus yang berbeda. Si pedagang akan nyeletuk “Bu, itu yoga (Baca; kakakku) ya? Kok sekarang hitam, kemarin ganteng”. “oh bukan, ini adiknya, wahyu” ibuku senyum santai. Pedagang berbunyi lagi dan bilang “Saya kira Ibu punya anak dua”. Yang satu lagi maksudnya adikku. Aku yang mendengar itu sontak mengubar senyum manis yang semanis-manisnya. Saking manisnya bisa buat orang kena kencing manis. Dan berharap si pedagang supaya cepat tobat. Hari demi hari berjalan begitu saja. Hal-hal semacam itu sudah kuanggap biasa dan menjadi bumbu hidupku setiap hari. Dibilang sedih, sudah pasti. Namun dinamika hidup memang seperti itu. Mau salahkan siapa? Mengadu ke siapa? Mau nangis ke siapa? Dan pada akhirnya aku hanya bisa menerima dan berusaha untuk lebih baik lagi tapi bukan untuk membalas dendam.
            Daerahku yang terkenal panas dan gersang, yang temperaturnya mencapai 30 oC menjadi salah satu factor pendukung menghitamnya kulitku. Ditambah lagi tempat tinggalku yang berdebu. Dalam beberapa tahun terakhir daerahku ini memang kekurang air. Tapi hal ini tidak membuatku untuk malas mandi. Aku mandi dua kali sehari sesuai anjuran dari pemerintah. Masalah air yang kurang cocok dengan kulitku juga menjadi penyebab kulitku menghitam. Bukan apa-apa tapi kulitku ini banyak maunya. Ada saja komplikasi yang terjadi. Dari terpapar jamur yang sangat menjengkelkan. Karena jamur ini susah sekali dibasmi. Padahal sudah beberapa dokter yang menangani, bahkan dokter sekelas spesialis. Apa aku harus ke planet Mars untuk mencari dokter spesialis penyakit jamur. Tidak hanya itu, penyakit kulit lain yang penyebabnya tidak diketahui juga pernah menyerang. Kulit sudah hitam, penyakitan lagi. Tapi maaf bukan penyakit kelamin.
            Karena aku suka sekali bermain diwaktu siang bolong, dimana terik matahari lagi menyengatnya membuat semua treatment pemutihan akan gagal total. Semua itu seperti berjalan sia-sia. Tidak ada harapan, kulit akan tetap begini. Tak ada yang peduli. Rempah-rempah pun enggan melihat. Semua cuek terhadap diriku. Tidak peduli sedikit pun. Daun turi yang biasanya menyapa, sekarang sudah menghilang untuk menghindar dariku. Apa yang harusku perbuat? Mengungsi ke planet Jupiter? Aku muak bertemu dengan Si Pasien tadi. Lalu apa? Mungkin aku hanya bisa bersyukur dan tetap menjalani semua ini dengan baik.
            Waktu terus berganti, tidak pernah bisa berhenti barang satu detik pun. Menginjak usianku yang remaja, buah kesabaranku menuai hasil. Ada perubahan. Perubahan ini bukan berarti aku berubah sekelas power ranger. Tapi perubahan pola pikir. Bahwasanya kulit hitam bukan berarti dalam diriku juga hitam. Ada setitik kebaikan pun mampu menghapus berjuta-juta titik hitam dalam diriku. Hitam bukan berarti jelek. Tidak pernah aku mendengar istilah “Putih Manis” namun yang ada “Hitam Manis”. Bagiku hitam bukan akhir segalanya, bukan berarti harus terpuruk. Banyak dari bangsa kulit hitam di dunia ini juga membuktikn dirinya mampu menuliskan namanya menjadi tokoh yang berpengaruh di dunia. Tak perlu disebut. Mereka tidak pernah menganggap hitam berarti terbelakang tapi mereka mengubah mindset mereka untuk lebih baik lagi.
            Titik balik dari semua itu adalah sewaktu aku masuk SMA, seperti memutar balikkan semuanya. Aku tidak mengatakan akulah yang terbaik tapi aku merasakan yang lebih baik dari sebelumnya. Aku pindah ke ibu kota kabaputen untuk bersekolah dan menemukan lingkungan yang baru. Hal ini bukan berarti desaku buruk, bukan. Hal ini membuatku berpikir labih dinamis lagi. Dan salah satu yang terpenting adalah ada perubahan yang mencolok pada diriku. Walaupun  tidak berubah drastis namun setidaknya ada perubahan. Kulitku sedikit lebih putih dari sebelumnya. Ditambah lagi pemikiran yang terus berkambang membuat semua ini terasa begitu istimewa. Aku terus menggali potensi yang aku punya, dan terus belajar.
            Sesekali aku pulang ke desaku untuk melepas kangen dengan kelurga dan teman-teman karib. Seperti biasa, setiap sore aku menghabiskan waktu untuk bermain sepak bola. Dibawah terik matahari, senang rasanya masih bisa menggiring bola dengan kawan. Keringat yang bercucuran, debu yang menempel, kulit yang menghitam, tak pernah aku hiraukan. Kulitku tidak banyak berubah tetap seperti dulu tapi sedikit lebih putih. Namun dari beberapa orang bilang aku lebih putih dari sebelumnya. Dan aku hanya bisa membalas dengan senyum simpul. Ya begitu saja dulu. Itu sudah mengisyaratkan bahwa aku bahagia. Namun, ada satu dua orang yang masih meragukanku. Ya, salah kaprah. Bahawasanya aku dikira kakaku yang lebih ganteng dan putih. Mungkin karena kulitku yang memutih atau badanku yang semakin tinggi dan membesar. Namun entahlah, yang terpenting adalah aku harus tetap bersyukur terhadap pemberian ALLAH AZA WAJA LA dan aku harus tetap bahagia dengan apa yang aku punya. Dan pada akhirnya aku harus mengakui bahwa “PAK BUK, Anakmu Sekarang Sudah Ganteng”. Mau tidak mau kalian juga harus mengakui hal itu. Walaupun fisik kurang ganteng tapi hati tetap harus ganteng.

  • view 42