Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 28 April 2018   21:47 WIB
Jadi Dokter Hewan Gak Boleh Sombong

Pagi ini indah sekali, bangun pagi untuk menatap mentari. Seperti biasa, aku luangkan waktu untuk hanya sekedar membaca buku. Sebelum beranjak pergi mandi. Entah berupa novel ataupun mata pelajaran kuliah. Tak lupa pula sebungkus nasi kuning Bu Halimah seharga lima ribu rupiah jadi menu andalan untuk sarapan. Ditambah lagi segelas susu hangat, yang membuatku merasa manjadi orang kaya nomor lima di Republik ini. Tak terasa sudah lima setangah tahun aku  tinggal di Bali, mengarungi hari demi hari untuk menggapai mimpi. Sejak awal aku menginjakkan kaki di tanah Dewata memang seperti mimpi. Dalam benakku, tak pernah terbersit sedikitpun untuk melanjutkan kuliah di Bali. Karena pada umumnya teman-temanku sewaktu duduk dibangku SMA dulu lebih memilih untuk kuliah di Pulau Jawa. Hal ini wajar karena perguruan tinggi disana dianggap lebih maju atau bahkan hanya sekedar gengsi. Kuliah di Bali memang bukan pilihanku yang utama. Waktu itu, aku lebih memilih universitas yang ada di Jogyakarta untuk aku singgahi. Namun rencana Allah berbeda. Aku di terima di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali.
Awalnya aku sempat ragu akan hal itu dengan berbagai alasan. Mungkin karena di Bali mayoritas penduduknya beragama Hindu dan pergaulan yang terkenal bebas. Namun dengan seiring berjalan, waktu terus berputar, semua itu terbantahkan. Aku sangat bersyukur bisa kuliah di Bali. Lebih-lebih lagi aku bisa mengenal budayanya syarat akan nilai moral yang penuh estetika. Disini juga aku bisa bertemu dengan beragam orang dari suku bangsa yang berbeda, sehingga membuatku belajar tentang nilai-nilai toleransi. Ilmu itu datang silih berganti, bukan hanya dari bangku perkulihan namun lingkungan sekitarku juga banyak mempengaruhi. Banyak sekali yang bisa aku pelajari dari sini. Begitu juga dengan pergaulanku sehari-hari. Aku yang dulu berasumsi bahwa Bali adalah surga dunia dan bebas. Ternyata tidak sepenuhnya begitu. Pola pikirku berubah ketika aku menjalani hari-hari di Pulau Seribu Pura ini.
            Bingung? Kata yang pas menggambarkanku setelah melepaskan identitasku sebagai siswa SMA. Selama empat bulan aku lontang-lantung untuk mencari Universitas yang pas dengan kemampuanku. Sebelumnya aku pernah mendaftar lewat jalur undangan di beberapa Universits di Pulau Jawa dan Makassar. Semuanya terhampas menolakku. Sedih rasanya waktu itu aku tertolak di Universitas yang sangat aku harapkan. Hal yang wajar karena jurusan kedokteran yang aku ambil sangat banyak peminatnya dari seluruh penjuru negeri. Tidak patah arah, aku giat belajar untuk menghadapi masuk universitas yang aku mau dengan jalur tes. Dalam benakku terlintas bahwa aku harus menjadi seorang dokter. Entah dokter umum, dokter gigi ataupun dokter hewan. Dan yang paling penting adalah di Universitas Negeri.
            Aku sadar akan kemampuan yang aku miliki. Aku bukan tipe orang yang ambisius dalam meraih sesuatu. Dengan berpegang teguh akan hal itu, jatuhlah pilihanku pada jurusan kedokteran hewan. Mengingat waktu itu passing grade jurusan kedokteran hewan lebih rendah dibandingkan jurusan kedokteran lainnya. Pilihanku jatuh di Fakultas Kedokteran Hewan UGM dan FKH Unud. Pada akhirnya aku diterima di FKH Unud. Haru biru bercampur bahagia waktu itu melihat pengumuman yang menyatakan aku diterima. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang mahasiswa. Tingkatan yang lebih atas dalam strata pendidikan. Tanggung jawab yang aku pikul akan terasa lebih berat. Lebih mandiri lagi dalam melakukan sesuatu. Terlebih lagi aku akan jauh dari orang tuaku.
            Sebagai mahasiswa baru aku menyempatkan membaca buku pedoman perkulihan. Disana tertera bahwa mahasiswa boleh menempuh strata satu selama sepuluh tahun. Jidatku langsung menyerngit akan hal itu. Yang aku tahu rata-rata strata satu akan ditempuh selama empat tahun. Benakku langsung memprotes bahwa apa yang dikerjakan mahasiswa tersebut sehingga bisa menempuh sarjana selama itu. Tapi tunggu dulu, waktu itu aku belum benar-benar sudah duduk dibangku kampus kedokteran hewan. Setelah menginjakkan kaki untuk pertama kali dan wajahku menghiasi bangku perkulihan. Aku tersadar, ternyata mereka (baca: mahasiswa lama) dengan gigih memperjuangkan masa depannya. Terus dan terus berharap bisa menyelsaikan studinya untuk kebanggaan kedua orang tua. Gelar melekat di nama dan peran dokter hewan tertanamn dalam jiwa. Aku kagum pada meraka, dimana mungkin sebagian orang meremehkan tapi aku sebaliknya. Bertahan dengan segala kemampuan yang ada demi seonggok cita-cita.
Mengawali perkuliahan di jurusan kedoktera hewan bisa dibilang sulit. Pada semester awal saja mahasiswa langsung dijejali dengan mata kuliah yang saya rasa berat. Entah teman-teman yang lain, coba tanyakan saja. Anatomi Veteriner. Mata kuliah yang satu ini mengharuskan mahasiswa langsung berhadapan dengan cadaver (baca: bangkai anjing yang sudah mati) pada saat praktikum. Melihat bangkai saja sudah membuat mental menciut. Ditambah lagi aroma formalin untuk mengawetkan bangkai menyeruak ke sudut-sudut ruangan. Tidak sampai disitu, daya ingat kita juga harus benar-benar terasah untuk menghafal bagian demi bagian lekuk tubuh anjing. Mulai dari vena, arteri, nerveous, dan musculus. Tulang-belulang sekecil apapun itu tetap harus kita hafal. Kalo sudah begitu, tidak terbayangkan lagi pusingnya menjadi mahasiswa kedokteran hewan. Dan yang menjadi catatan paling penting adalah itu baru pada satu hewan yaitu anjing, belum hewan yang lain. Sudah jangan dibayangkan, kalian yang baca nanti juga ikutan pusing.
            Diatas tadi, aku baru menceritakan satu mata kuliah saja, belum lagi mata kuliah yang lain, yang tidak kalah sulitnya. Namun yang terpenting adalah sesulit apapun itu, kita tetap harus menjalaninya. Termasuk kuliah di kedokteran hewan. Hal itu sudah menjadi konsekuensi apa yang aku sudah pilih dulu. Tidak heran, ada beberapa temanku yang merasa kurang cocok dan tidak mampu melanjutkan kuliah. Pada akhirnya menyerah ditengah jalan dan pindah jurusan. Bergelut di dunia kedokteran hewan memang tidak semudah apa yang aku pikirkan. Ternyata ilmu ini menyambung menjadi satu dengan ilmu-ilmu yang lain. Contohnya saja dengan ilmu kedokteran umum. Ada penyakit yang namanya penyakit zoonosis, yang merupakan penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Jika tidak ada kerja sama yang baik antara bidang ilmu tersebut maka kesejahteraan hewan dan manusia akan terancam. Lebih-lebih jika ada wabah yang merugikan banyak pihak. Itu baru satu bidang, belum lagi bidang lain seperti ekomoni, perikanan, peternakan, dan lain sebagainya.
            Setalah lulus sarjana kebanyakan mahasiswa kedokteran hewan masih minim akan pengalaman. Ilmu yang didapat sewaktu kuliah belum cukup untuk mengaruhi kerasnya hidup. Untuk itu, kami sebagai mahasiswa harus mengikuti program profesi kedokteran hewan. Disinilah kita benar-benar ditempa dalam segala aspek bidang. Bukannya hanya keterampilan dan teori, namun mental pun sangat diuji. Tidak salah lagi, aku melanjutkan studiku ke jenjang profesi. Dengan bekal yang aku peroleh sewaktu sarjana dulu, dengan senyum bangga melawan kerasnya arus per KOAS an. Karena aku tau hal ini akan terasa berat. Walaupun waktu yang ditempuh relative lebih singkat. Namun aku merasa program profesi inilah tempat seorang dokter hewan akan merasakan susahnya menjadi seorang dokter hewan. Aku tidak mengada-ada cerita bahwa banyak air mata yang tumpah selama koas. Berantem, adu argument, ngambek sesama teman, dimarah dosen, dicuekin dosen, dosen yang tiba-tiba ngambek. Aku baru tau dosen juga manusia yang bisa ngambek. Ditambah lagi dibeberapa laboratorium kami harus mencari kasus untuk memenuhi persyaratan koas. Lelah, pasti. Capek, banget. Uang terkuras, sudah pasti ya. Koas memang momok bagi kami, namun mau tidak mau kami harus menghadapinya. Ah hidup itu memang indah.
            Semua sudah terencana dengan baik, dengan penuh perhitungan. Namun, kadang tak berjalan dengan semestinya. Semua itu sudah di atur, sekarang tergantung kita yang menjalani. Segopoh kalimat yang aku bisa utarakan untuk menggambarkan selama aku duduk dibangku kuliah. Berat sudah pasti. Namun semua itu aku lalui dengan dengan penuh suka cita. Tak banyak masalah yang berarti yang aku hadapi. Masuk perkoasan juga tak terlalu berat masalah yang aku hadapi. Semua berjalan dengan baik-baik saja. Ibarat vespa butut yang tak pernah mogok minta diganti oli. Terus mengalir seperti air mengalir. Kadang tenang, kadang deras. Namun air itu sudah sampai ke bendungannya. Disinilah titik terberat yang sedang aku alami. Air itu menumpuk menjadi beban yang begitu berat buat aku pikul. Sewaktu-waktu bisa meledak seperti balon hijau yang meletus. Hal ini terjadi ketika aku melepaskan status mahasiswaku. Kembali ke tengah-tengah masyarakat dan melekatnya tanggungjawab baru sebagai dokter hewan. Sungguh tidak mengenakan. 
            Statusku sebagai dokter sudah melekat. Panggilan dengan sebutan “Pak Dokter” sudah mengumandang. Sebenarnya risih tapi apa hendak dikata. Gelar dan ilmu ini belum bisa diterapkan sampai aku menulis tulisan ini. Bingung? Berat? bercampur membentuk adonan donat. Tak punya ujung, bulat melingkar. Tapi enak kalo dimakan. Jati diriku belum aku temukan. Padahal aku tahu bahwa ini adalah awal langkahku untuk menentukan masa depan. Menerawang jauh kedepan hanya mambuatku gelisah dan khawatir. Terbayang-bayang kehidupan yang tak menentu. Tak pasti. Ketidakpastian. Apa yang harus aku perbuat?
            Namun yang aku tahu pasti bahwa ini belum berakhir, ini adalah awal. Aku mau berjuang, entah dengan cara apa. Yang pasti aku akan terus berusaha. Mimpiku harus terwujud. Aku bisa melewati semua ini. Aku seorang dokter hewan, ya aku seorang dokter hewan. Menjadi dokter hewan sejati, tertanam dalam jiwa dan bekerja keras sepenuh hati. Dan aku tidak boleh sombong.

Karya : Hanif Wibisono