Dantusil Orang Yang Beruntung

Hanif Wibisono
Karya Hanif Wibisono Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 April 2018
Dantusil Orang Yang Beruntung

Ada suatu kisah yang memang aku alami sendiri. Ini benar-benar kisah nyata tanpa ada rekayasa producer, bukan kisah fiktif atau reality show yang penuh skenario. Waktu itu aku sedang menyelsaikan studi di jenjang kuliah. Kebutulan aku kuliah di jurusan kedokteran hewan yang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Rata-rata mahasiswa akan menyelsaikan pendidikan selama lima setengah tahun. Dengan rincian 4 tahun untuk S1 dan satu setengah tahun untuk jenjang profesi.

Awal masuk kuliah, pasti kita akan bertemu dengan banyak orang-orang baru. Berkenalan satu sama lain dan mencoba mengakrabkan diri. Aku sebagai mahasiswa baru mencoba untuk membaur satu sama lain dengan teman baru yang aku kenal. Tak membutuhkan waktu yang lama kami sudah begitu akrab, dari tukaran no handphone sampai sering jalan bareng. Kemanapun sering bareng. Pasti kalian yang sudah kuliah merasakan hal ini juga. Apalagi muka culun, planga-plongo cari ini itu dan serba tanya sana sini. Akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan.

Dari sekian banyak teman yang aku kenal ada salah satu orang yang belum kenal saja sudah mengakrabkan diri. Disebut PDKT, gak juga, karena dia cowok. Tapi semacam kalo orang bilang sih “ah sok kenal saja lah, dari pada gak punya teman” begitu mungkin bunyinya. Pertama kali ketemu ketawanya langsung mengembang. Tidak lupa pula bulu hidung melebar kemana-mana. Bau badannya khas bawang merah. Tinggiku sama. Paras mirip tapi gantengan aku. Namanya Syahrir Ramadhan, aku panggil dengan sebutan dhantusil. Nama yang aneh tapi seru untuk diucap.

Pada awal perkuliahan dantus menatap semua dengan penuh keyakinan dan hati yang mantap. Tak ada keraguan padanya. Buku di beli satu untuk satu mata kuliah. Padahal waktu duduk dibangku sekolah dulu beli satu buku untuk semua mata pelajaran. Tapi dantus lagi semangat untuk kuliah. Tak ada yang bisa menahan dan tak ada yang bisa membendung. Bangun pagi, langsung mandi tapi lupa sikat gigi. Begitu semangatnya dantus. Menyisir rambut kesebelah kanan atau ke kiri yang penting klimis model cepak rapi. Senyum sumringan setiap pagi, tapi bau mulut kesana kemari. Sering penulis ingatkan tentang bau mulutnya tapi jarang di gubris.

      Namanya mahasiswa, lama-kelamaan bengisnya akan keluar juga. Mungkin dantus mulai bosen dengan dunia perkulihan. Mungkin juga jurusan kedokteran hewan adalah bukan impiannya. Namun, setelah aku telisik ternyata bukan itu. Ada hal lain yang lebih mendasar yang di alami dantus. Lingkungannya sekarang berbeda. Dari yang dulunya bangun pagi sekarang sudah agak kesiangan. Penulis berangkat kuliah dia baru bangun, dan sudah pasti telat. Yang dulunya teriak-teriak kalo ngaji, sekarang teriak-teriak nyanyi lagu dangdut. Yang dulu ngajak sholat maghrib sebelum matahari terbenam, sekarang inget sholat maghrib saja sudah Alhamdulillah. Suka kelayapan malam-malam. Jarang buka buku apalagi belajar. Alhasil, nilai ujian rusak. Jarang mandi, apalagi sikat gigi. Kumis dan bulu hidung sudah seperti pacuan kuda, balapan. Pernah dapat nilai nol padahal sudah nyontek. Nyontek di penulis padahal penulis sedang nulis NIM dan nama.   

Kalo sudah begitu pasti dantus akan bersumpah serapah untuk memperbaiki nilainya di semester berikutnya. Tapi yang perlu pembaca tahu bahwa bukan nilai atau IPK yang dantus kejar. Namun melainkan hadiah yang akan diberikan mamanya jika bisa mendapat IPK yang bagus (pemabaca: seperti anak SD). Namanya dantus dengan lingkungannya yang sudah berbeda, tetap saja pada semester berikutnya dengan tabiat yang sama, tak berubah dan tetap bersumpah serapah jika nilainya turun. Persoalan yang sedang dantus alami sebenarnya dari dirinya sendiri. Ketemu dengan kawan dari daerah yang sama membuatnya terus begitu. Sering mengeluh ke aku pengen berubah tapi tetap saja begitu.

Kuliah dantus sudah tidak seperti awal masuk. Berantakan seperti tulisannya. Susah untuk diperbaiki. Bener-benar susah. Tapi percaya tidak percaya dantus bisa wisuda di sampingku. Bahkan IPK ku di jenjang profesi sama tapi ekhem tingkat jenjang S1 IPK ku lebih tinggi. Tercatat dantus hanya mengulang satu mata kuliah. Hal ini sudah terbilang hebat mengingat kuliah kedokteran hewan yang lumayan sulit. Orang yang benar-benar menjalani kuliah saja bisa mengulang banyak mata kuliah namun hebatnya dantus hanya satu. Walaupun dengan nilai yang sangat pas-pas. Seperti katanya dia yang penting bisa lulus.

Sebelum pembaca heran (kok bisa), aku lebih dulu heran sama dengan ekspresi pembaca saat ini. “Kok bisa ya dia lulus tepat waktu dan kadang kita gak percaya dia bisa lulus” mungkin kalimat itu sudah menggambarkan diri dantusil. Penasaran dengan hal itu, aku langsung mengadakan riset kecil-kecilan. Tak membutuhkan waktu yang lama, aku langsung bisa menemukan jawabannya. Dibalik tabiatnya yang kurang bagus ternyata dantus memiliki sifat yang mungkin sedikit orang bisa memilikinya. Aku sendiri menulis hal ini karena belajar juga dari hal itu. Seorang pendakwah tidak selalu bercermah dengan lisan, namun kadang seorang pendakwah yang ulung akan berceramah dengan tingkahnya.

Tulus dan ikhlas dalam membantu orang dan tidak pernah perhitungan. Mungkin itu hanya sekelumit sifat yang di miliki dantusil. Bayangkan saja ada seorang teman minta dianter ke Pelabuhan Padang Bai yang jaraknya sekitar 70 km dari kota Denpasar dia mau meladeni. Mending siang tapi ini jam dua pagi. Terpaan angin malam yang begitu dingin tak menghalangi niat baiknya. Disuruh angkat galon air mineral ke lantai tiga kos teman pun mau tanpa mengharap imbalan. Ganti gas elpiji, ganti lampu, pindah-pindah kos dan masih banyak lagi yang dia bisa bantu tanpa pamrih.

            Tidak hanya itu, dantusil juga tidak akan pernah nyinyir mengurus hidup orang lain. Karena memang hidupnya juga berantakan. Selalu kerja saat kepepet, kalo dalam kasus ini dantusil pasti akan mencari aku. Tak akan pernah aku lupakan, semoga juga dantusil tidak melupakan disaat nangis-nangis untuk dibantu untuk menyelsaikan skripsi. Aku sudah mengingatkannya berulang-ulang untuk menyelsaikan skripsinya, namun selalu tidak mendapat respon yang baik. Kalo dihitung-hitung sudah 23 kali aku mengingatkannya hanya untuk niat, ya baru niat mengerjakan skripsinya. Namun tak pernah digubris sama sekali dengan berbagai banyak alasan.

            Parahnya lagi, aku sudah sidang skripsi dia belum apa-apa. Yang aku tahu bahwa dia baru menulis judul skripsinya, itupun judul yang diberikan oleh pembimbing. Saking muaknya aku meninggalkan dantusil ke Tangerang. Tak tahu arah angin, tak tahu arah ombak. Dantusil ternyata tetap menghubungi aku. Karena sudah muak, setiap telpon dantusil aku matikan. Dantusil sekarang bingung benar-benar tidak tahu arah. Tidak abis akal, dantusil minta bantuan ke salah seorang teman untuk menghubungi aku supaya mau membantunya. Karena teringat waktu aku seminar proposal, dantusil paling banyak membawakan aku bunga. Luluhkan hatiku untuk membantunya lagi.

            Dengan segenap tenaga dan pikiran yang dantusil miliki. Mulailah dantusil menyelsaikan skripsinya, dengan aku yang membantunya dari jarak jauh. Alhasil skripsi sudah jadi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Yang lebih ajaibnya lagi adalah skripsinya dantusil ini cuman di koreksi sekali oleh pembimbing dan langsung di ACC untuk ujian. Luar biasa.   

 

 بِّكُمَا تُكَذِّبَانِبِأَيِّ ءَالَآءِ رَفَ

 

Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan(i)

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-rahman ayat 13).

 

Walapun dantusil lulus dengan harus diomeli dulu tapi dantusil tetap lulus sidang skripsi dengan nilai A. Dan pembimbing bilang “Kamu adalah orang yang beruntung”. Aku tidak akan heran dengan itu, karena pertolongan Allah itu kita tidak tahu dari arah mana dan ke siapa pertolongan itu akan diberikan.

            Dari sekian kejadian yang aku alami dengan dantusil ada peran mamanya yang sangat menonjol. Setiap ada masalah pasti mamanya menelpon aku menanyakan keadaan yang sebenarnya. Doa mamanya terus mengalir dan tak pernah henti. Walaupun dantusil sering bohongin mamanya dalam hal pembayaran tapi aku yakin dalam lubuk hatinya yang paling dalam tertanam rasa sayang yang kuat kepada mamanya. Mungkin tidak sekarang tapi suatu saat nanti dantusil pasti akan membahagiakan mamanya.

 

            Dari kisah dantusil tadi aku teringat pada suatu ayat.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS Al-Baqarah 286).

            Dari tulisan ini juga aku banyak belajar. Sesungguhnya tulisan ini dibuat untuk ladang kita belajar. Saling menghargai satu sama dan tidak pernah meremahkan orang. Yang terpenting adalah bakti kita kepada orang tua.

  • view 28