Saya, sebagai makhluk sosial ...

Hanif Nusrotul
Karya Hanif Nusrotul Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Maret 2017
Saya, sebagai makhluk sosial ...

Hari ini setelah sekian lama ngga pernah nulis akhirnya pengin nulis lagi. Hari ini setelah sekian lama hidup seenaknya akhirnya pengin tobat. Dan tobat sendirian itu ngga asik, harus ngajak-ngajak yang lain juga. Setidaknya kalo tobat saya gagal, tobatnya orang yang saya ajak tobat ada satu dua yang sukses. Semoga tobat kita sukses.

Hari ini sebagai makhluk sosial saya mendapat tamparan. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ditampar. Sebelumnya sudah ada satu dua tiga empat lima enam dan entah berapa kali saya ditampar juga. Tapi niat buat nulis baru ada sekarang. Biasanya cuma mentok pada quotes-quotes gaje yang nangkring di socmed.

Tamparan ini berawal dari obrolan saya dengan salah satu teman. Obrolan tentang teman yang lain. Seperti apa latar belakang keluarganya, bagaimana ia menjalani kehidupannya, bagaimana ia berusaha merancang masa depannya. Dan obrolan ini mlipir-mlipir tentang bagaimana orang di sekekeliling kami sekarang melihat kehidupan yang kami jalani.

Saya ini berasal dari keluarga ekonomi menengah. Ngga bisa duit saya ini diajak hura-hura apalagi ini bukan duit saya, ini duit bapak ibu saya. Saya hidup biasa saja, makan dua kali sehari (iya dua kali, soalnya kalo pagi jarang banget bisa sarapan alias kesiangan mulu) dengan menu berbeda ala-ala ekonomi menengah. Barang-barang yang ada di kamar saya memang bermerk, iya bermerk tapi yang diproduksi secara masal luar biasa. Penting harganya miring.

Lingkungan saya tinggal sebelumnya adalah lingkungan ekonomi menengah keatas. Saya yang berada di level menengah menganggap gaya hidup saya ini ya biasa saja, sederhana bahkan. Dibanding mereka yang mau apa tinggal tunjuk, saya ini ngga ada apa-apanya. Tapi roda kehidupan itu memang benar ada. Saya dengan level yang sama, dipindahkan ke lingkungan dengan ekonomi menengah kebawah. Gaya hidup yang saya anggap biasa saja ini mendadak jadi tidak biasa.

Namanya juga lingkungan baru, gimanapun juga kita  harus saling beradaptasi biar bisa memahami dan bisa nyaman hidup berdampingan. Perubahan pertama yang saya sadari adalah pola makan. Waktu itu saya berusaha mengimbangi pola makan di lingkungan baru ini. Nasi + 1 macam sayur + gorengan, di warteg yang sama dengan menu itu-itu saja. Ekspektasi seminggu hanya akan menghabiskan 25ribu doang soalnya nasi masak sendiri dan memang makanan disini murah banget. Dengan sombongnya sampai pernah bilang, “Waaahh kalo gini terus mah akhir taun bisa jadi orang kaya nih, bisa beli ini beli itu.” Dan taraaaaaa belum sampai sebulan udah telfon rumah ngadu pengin makan ayam sambil nangis-nangis. Pengin makan ayam sampe nangis-nangis? Saya pernah mengalami itu, maka bersyukurlah kalian yang tiap hari bisa makan ayam sambil cengar-cengir.

Tragedi pengin makan ayam ini sebenernya lucu-lucu menggelikan. Kalo dipikir-pikir yaaa, buat apa juga pake nangis-nangis segala. Uang buat beli ada, yang jualan ayam juga banyak, harganya juga ngga mahal. Tapi kok ya sampe nangis gitu. Hahahaha entahlah, hanya Tuhan yang tau apa yang berkecamuk didalam hati kala itu. Niat buat makan seminggu cuma 25ribu pun kandas. Kembalilah saya kejalan dimana saya ditakdirkan sebelumnya. Makan dengan menu semaunya (masih dengan ala-ala ekonomi menengah sebenarnya). Jadilah lingkungan baru ini melihat saya sebagai manusia anti makan murah. Saya hanya mampu pasrah melihat keadaan yang penting perut kenyang tanpa harus telfon ke rumah nagis-nangis gara-gara pengen makan ayam.

Berawal dari urusan makan ini merembetlah ke hal yang lain, gaya hidup biasa sajanya saya dipandang sebagai gaya hidup sosialita. Saya cuma bisa geleng-geleng, senyum-senyum, cemberut dan ketawa kemudian diem.

Saya gagal paham dengan istilah gaya hidup sosialita yang ditujukan buat saya. Sosialita dari sebelah mana??? Sandang? Pangan? Papan?

Ada rasa ngga nyaman di hati. Pertama marah ngga suka dibilang sosialita. Kemudian jadi sedih karena dianggap berbeda dalam hal seperti itu tidaklah menyenangkan. Dan akhir-akhir ini saya jadi paham, ada pembatas halus yang entah itu sadar atau engga telah memisahkan dunia saya dan lingkungan ini.

Tapi inilah titik awal dari sebuah refleksi. Benar bahwa untuk urusan dunia kita harus menengok kebawah. Karena dengan begitu kita akan merasa benar-benar malu. Malu karena ternyata kelakuan yang kita perbuat selama ini begitu liar. Malu karena telah memamerkan harta benda yang tidak ada apa-apanya dengan gaya selangit. Malu karena apa yang kita pamerkan sejatinya bukanlah milik kita. Malu dengan kesewenangan menghabiskan uang padahal di sekeliling kita masih banyak yang kekurangan.

Dan ini adalah sebuah beban, akankah saya bisa hidup semudah ini tanpa bantuan orang tua?

 

(Catatan lama di sebuah folder yang sudah berdebu, 15-10-16)

  • view 80