Laut dan Daratan

Hanif Arkan Nurdiansyah
Karya Hanif Arkan Nurdiansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 November 2016
Laut dan Daratan

Pesona laut tak pernah mampu berhenti menciptakan decak kagum bagi manusia yang mampu melihatnya. Dalam biru yang sesendu kisah manusia, ada biota yang tak terhitung jumlahnya, yang memberikan ragam warna di tengah teduhnya biru. Dalam deburan ombak yang tak pernah usai, terasa suasana syahdu untuk berbicara dengan-Nya.

Pun dengan daratan. Kebaikannya lebih terlihat dibandingkan laut. Ia nampak arif dalam hijau yang membentang, memenuhi kebutuhan setiap yang bernafas. Keceriaannya lebih terasa, setiap biota saling menciptakan interaksi yang membuat daratan seolah tak pernah tidur.

Maka, tak heran laut tak henti-hentinya berusaha menggapai daratan. Laut memupuk asa untuk menjadi bagian dari daratan, berharap ia tidak lagi menjadi pengagum saja. Segala cara ia lakukan. Tak terhitung berapa banyak ia menitipkan salamnya melalui kerang, bintang laut, ataupun kepiting, yang beruntung menikmati tepian pantai, namun tak pernah ia dapatkan suatu sapa sebagai balasan. Tak henti ia pun deburkan setitik kecil dari dirinya kepada ujung daratan, namun tak juga bergeming menanggapinya. Hingga, saat ia mulai lelah menanti sapaan dari daratan, ia tumpahkan segala lelah yang ia rasakan. Pada akhirnya, daratan pun tetap tak bergeming.

Laut kemudian bertanya pada purnama yang muncul sesekali, karena pada saat itulah laut meninggi untuk memangkas sejengkal jarak dengan purnama,

 

“Apakah aku memang tidak diciptakan untuk daratan?”

Purnama tersenyum,

“Kamu hanya perlu untuk melihat segalanya lebih luas untuk mengetahui jawabannya.”

 

Laut selama ini tak pernah tahu bahwa daratan pun menyimpan sebentuk rasa padanya. Akan tetapi daratan tahu bahwa ia tak perlu bergeming untuk memperlihatkan kepada laut bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Daratan diam tak menanggapi bukan berarti ia tak mengetahui berapa besarnya perasaan laut padanya, ia merasakan semuanya, ia memahami semuanya. Laut mungkin tak pernah tahu bahwa daratan selalu tersenyum menerima polahnya, sekalipun itu menanggalkan tawa para biota yang ada saat rasa lelah laut meluluhlantakkan mereka. Daratan tetap diam, menunjukkan rasa cintanya pada laut dengan cara yang mungkin takkan pernah bisa dipahaminya.

 

Laut termenung. Berbekal cahaya purnama yang tenang, ia menatap ke sekelilingnya, hingga ia terkesiap saat melihat sesuatu yang berada jauh di bawahnya. Ia pun mulai menyusurinya, yang pada akhirnya berujung pada pasir keemasan yang nampak diam meski selalu terkena deburannya. Yang laut lihat adalah dasar laut.

Laut baru memahami perkataan purnama. Daratan tak menitipkan pesan pada kerang, bintang laut, maupun kepiting karena ia selalu tahu apa yang dirasakan laut, apa yang dimimpikan laut, dan apa yang diceritakan laut pada purnama. Daratan tak pernah menanggapi deburan laut karena dalam keadaan tenang pun laut selalu dirasakan keberadaannya oleh daratan, diketahui kehangatannya. Laut kini menyadari, daratan mencintainya dalam diam, dalam segala keberadaannya dalam perjalanan hidup laut selama ini, karena pada hakikatnya….

 

Laut adalah bagian dari daratan.

 

Meskipun laut sangatlah luas dan dalam, ia tetap memiliki dasar. Tanah padat. Bebatuan keras nan kokoh. Mereka saling terikat, dan tak terputus sedikitpun dengan apa yang nampak di atas lautan. Daratan pun mampu semenyeramkan, atau bahkan lebih menyeramkan dari, laut manakala ia lelah membendung kediamannya dalam mencintai laut, tapi ia selalu menahannya sekuat tenaga, karena ia tak mau melukai laut. Ia ingin laut tetap bersemangat menjalani hari, tetap seindah biasanya, dan tetap mengekspresikan apa yang dirasakan padanya. Ia cukup diam, tersenyum melihat usaha-usaha laut untuk meraih segenggam perasaannya,

Tak perlu kamu lakukan itu pun, aku sudah bahagia berada di dekatmu.

 

Laut akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri, dan mengakui bahwa ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan daratan. Ia kini menerima apa yang sudah digariskan, bahwa ia tak perlu menuju ke daratan, karena sebenarnya dari awal mereka telah dipersatukan sesuai dengan penciptaan batasan-batasan yang sejatinya bertujuan untuk menciptakan harmonisasi antara dirinya dengan daratan. Kini, laut ingin mencintai daratan sebagaimana selama ini daratan mencintainya.

Beriringan, mereka menciptakan harmonisasi dalam ketidaksempurnaan, dengan tetap saling membahagiakan satu sama lain, dalam ridha-Nya, yang kemudian disebut sebagai bumi.

 

Kamu adalah daratan, dan aku adalah lautmu.

Yogyakarta, 18 November 2016

Hanif Arkan Nurdiansyah

  • view 177