Renungan: Mempertanyakan Keimanan Kita

Hanif Arkan Nurdiansyah
Karya Hanif Arkan Nurdiansyah Kategori Renungan
dipublikasikan 05 November 2016
Renungan: Mempertanyakan Keimanan Kita

"Ketuhanan Yang Maha Esa"

Kalimat tersebut terletak di urutan pertama dalam dasar negara kita, Pancasila. Bagi saya, itu artinya segala hal yang dilakukan oleh negara ini dan seluruh elemen bangsa ini, termasuk aku dan kamu, harus berlandaskan ajaran dari Tuhan kita yang penuh kasih sayang. Maka dari itu bisa kita lihat bagaimana baiknya negara ini mengayomi warganya, berapapun tingkat ekonominya, apapun sukunya, apapun latar belakangnya, di manapun tempat tinggalnya, sesuai ajaran Tuhan Yang Maha Esa. Jikalau masih ada kezaliman ataupun ketidakadilan dalam pelaksanaannya, itu semata salah pelaksananya, bukan salah Tuhan dan ajaran-Nya. Karena Maha Benar Tuhan, dan maha kadang-kadang manusia.

Menilik gap antar umat beragama yang menganut keyakinan yang berbeda-beda, kesalahan itu bukan karena ajaran Tuhan yang mereka percayai, akan tetapi karena kelemahan utama kita sebagai manusia: ketidaksempurnaan yang akan selalu melekat dalam diri kita.

"Bagiku agamaku, bagimu agamamu." (Q.S. Al Kaafirun: 6)

Ayat tersebut ada dalam kitab suci agama Islam, kitab yang isinya wajib diimani oleh umatnya tanpa terkecuali satu huruf pun. Itulah yang menjadi dasar yang bijak bagi umat Islam untuk menghormati agama lain, sebagaimana agama lain menghormati agama kita. Tapi karena manusia maha kadang-kadang, konflik ataupun gesekan antara beberapa umat Islam dengan umat agama lain di Indonesia masih ada. Maka dari itu, jangan benci Islam, bencilah orang-orang yang mengaku beragama Islam tapi tidak mengamalkan seluruh ajaran-Nya. Akan tetapi, meskipun kita membenci orang-orang yang tidak mengamalkan ajaran-Nya, jika hanya benci saja tidak akan merubah konflik yang ada, bukan? Tunjukkanlah sifat welas asih kita kepada mereka, sebagaimana Tuhan kita mengajarkan dan mengingatkan kita selalu, dengan harapan mereka dapat mengakui kesalahannya, dan kembali menyadari bahwa pada hakikatnya agama yang mereka anut tidak pernah mengajarkan mereka untuk menciptakan suatu konflik akibat perbedaan kepercayaan.

Sebagai muslim (semoga Allah pun masih menganggap saya muslim), saya mengakui bahwa dalam kitab kami dan perkataan Rasul kami menyatakan bahwa agama kami merupakan agama yang sempurna, penyempurnaan dari agama-agama samawi yang telah diajarkan oleh nabi-nabi sebelum nabi terakhir kami. Tapi tidak ada sedikitpun ajaran kami yang mengajarkan kami untuk menciptakan konflik dengan penganut ajaran lainnya. Kami bahkan hanya diperbolehkan memusuhi mereka yang nyata-nyata menyatakan diri bahwa mereka memusuhi kami, bahkan ketika ada yang benar-benar memusuhi kami pun Tuhan kami tidak mengajarkan kami untuk membutakan nurani kami saat memusuhi mereka, buktinya Rasul terakhir kami, Muhammad saw, tetap bersabar saat dilempari kotoran maupun batu oleh mereka yang tidak mengimani Islam, bukannya justru membalas mereka dengan cara yang sama atau bahkan lebih kejam. "Tapi maafkanlah saudara-saudara kami yang masih belum bisa bertindak seperti Rasul kami, yang masih melakukan balasan-balasan yang menyakitkan, atau bahkan yang menyatakan permusuhan dengan kaum agama lain yang tidak memusuhi kami." Maha Benar Tuhan, maha kadang-kadang kita.

Tuhan tidak pernah tidur, pun tidak pernah tidak tahu satu perkarapun yang terjadi di seluruh alam semesta ini. Berbeda dengan kita. Akan ada waktu kita tidur, tidak mengetahui bagaimana kehidupan terus berjalan. Bahkan saat tidak sedang tidur pun, kita tidak akan pernah bisa mengetahui bagaimana setiap manusia menjalani kehidupannya, apalagi bagaimana perasaannya sebenarnya. Lantas jika demikian, bagaimana kita dengan mudahnya memusuhi orang lain? Bagaimana kita dengan sederhananya menyimpulkan sesuatu? Ketika kita ingin melakukan sesuatu dengan dalih untuk menghukum seseorang yang di mata kita telah berbuat salah, di mana sikap welas asih yang selama ini diajarkan Tuhan melalui orang-orang baik yang selalu ada di sekeliling kita sejak kita lahir di dunia ini? Lebih penting lagi, di mana iman kita yang katanya meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan Maha Adil?

Saya teringat tulisan seseorang, yang kurang lebihnya seperti berikut ini:

"Bagaimana kita menyatakan diri bahwa kita seorang penganut suatu agama jika masih ada perintah-Nya yang belum kita laksanakan, dan masih banyak larangan-Nya yang yang kita lakukan? Bukankah ada indikator yang jelas dinyatakan oleh Tuhan kita mengenai mana yang menjadi umat-Nya mana yang bukan?"

Kita boleh marah saat kita mengetahui bahwa agama yang kita anut dilecehkan orang lain. Kita boleh kecewa dengan saudara seagama kita yang tidak selalu mendukung usaha kolektif suatu kelompok untuk membela agamanya. Kita boleh sedih ketika ada orang yang mengadu domba kita dengan umat lain,

Tapi yang harus selalu kita ingat bahwa, Tuhan mencintai umat-Nya tanpa terkecuali, karena... Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan Maha Sabar. Tuhan Maha Memaafkan. Tuhan Maha Mengetahui. Tuhan Maha Adil.

Jangan pernah enggan untuk memaafkan, meskipun ia tidak meminta maaf. Jangan pernah enggan untuk mengakui kesalahan, meskipun tidak ada saksinya. Jangan pernah enggan untuk bersabar, meskipun betapa menyakitkannya perlakuan seseorang pada kita.

Karena melalui masing-masing pengajar pertama agama yang diakui oleh negara kita (Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu), selalu mencontohkan sikap dan sifatnya yang menciptakan kedamaian bagi umat. Kita memang manusia biasa, tapi bukan berarti kita menyerah pada keadaan untuk tidak selalu berbuat baik sesuai ajaran-Nya, kan?

Purwokerto, 5 November 2016

Hanif Arkan Nurdiansyah

  • view 343