“Kopi Hangat untuk Mesin Politik"

handry tm
Karya handry tm Kategori Politik
dipublikasikan 25 Februari 2016
“Kopi Hangat untuk Mesin Politik

Oleh: Handry TM

?

PERCAYAKAH Anda bahwa mesin propaganda selalu taat terhadap petunjuk tuannya? Jika Anda seorang penjaja produk soft drink, manakah yang lebih menentukan, rasa minumannya atau cara mengemasnya?

?

Jika yang dipilih cara pertama, maka muatan risiko yang harus dipersiapkan adalah kualitas produk jualannya. Pilihan kedua selalu diambil oleh orang-orang yang berpikiran dinamis. Ia haruslah berkemampuan improvisasi tinggi, selalu meyakini bahwa kualitas ?jualan? bukanlah satu-satunya tumpuan. Yang lebih penting dari semua itu adalah provokasi dan kemasan.

?

Idiom itu bisa ditarik dari cara pandang masyarakat Indonesia dalam mempergunjingkan kampanye Pilpres untuk tahun 2019. Puluhan pasangan Capres/ Cawapres, niscaya, puluhan pula warna dan corong propagandanya. Situasi itu pasti akan bergeser pada kampanye Pemilu Presiden putaran berikutnya. Sebagaimana segelintir ?produk? yang saling berhadapan, pasti cara jualannya pun tak severbal tatkala puluhan ?produk? saling merayu pasar di babak awal.

?

Paparan ini penting, karena iklanlah satu-satunya ?mesin politik? yang masih bisa dipercaya objektivitasnya. Tayangan iklan tak bisa berbohong, karena ia terdiri atas pesan dan isi.

Sebagaimana diyakini praktisi iklan Mark Coppos ketika dipercaya California Cooler, sebuah produk minuman Amerika dalam membuat iklan produknya. Dengan sangat manis Coppos mengakhiri klip iklan itu lewat kalimat: The Real Stuff. Dan itu mampu melempar trust ke publik, bahwa produk tadi tidak berbohong. Kalau mau disebut gombal, mungkin pada judul script-nya yang provokatif, Meet the People, The Chairman, Up and Down the Coast).

?

Artinya, sepintar apa pun Anda sembunyikan keburukan, iklan akan menyiratkan ketersipuan dan kebohongan. Lebih baik tanpa iklan, jika akhirnya malah menohok diri sendiri. Karena ia bukan lipstik pemoles bibir, yang berfungsi sebagai alat transfer genital. Bukan pula sebuah kecenderungan menampilkan diri tanpa musabab. Iklan membawa aksentuasi citra diri, justru telah terbentuk jauh hari sebelum iklan itu sendiri dibuat. Sangat naif berharap iklan mampu menjaring pasar seketika. Karena ia bukanlah penjaja barang dari pintu ke pintu. Sekali lagi, ia bukan salesman (Warlic, Mary (1990) Advertising?s Ten Best of the Decade 1980-1990. New York: The One Club for Art and Copy).

?

Mesin politik yang lain barangkali akan berjalan. Tapi, sejumlah partai memberi contoh sangat buruk, betapa ia tak lagi loyal bagi tuannya. Apalagi Bos yang datangnya serta-merta dengan memori sejarah yang tidak panjang di dalam ?tulang rusuk iga.? Juga, Tuan yang terlalu baik sebagai figur, namun tak mampu memberi harapan riil bagi kaki-tangannya. Mustahil pula bagi seorang Bos yang diragukan keberaniannya di segala bidang, untuk didukung tentakel politik di bawahnya.

?

?Caf? Politik?

?

Apa arti penting keberadaan sebuah kafe di tengah hiruk-pikuk kesibukan politik kota? Teori kemunikasi menyebut, dibutuhkan sebuah ruang singgah untuk mengurai kebuntuan. Dalam istilah familiar, ?Konflik bisa dituang di secangkir kopi hangat, di sebuah sudut kafe di tengah kota.?

?

Di Jakarta, ada dua dari sekian titik kafe yang biasa diserbu ramai orang-orang daerah. Kalau tidak Starbucks ya J.Co Coffee di kawasan Senayan City. Brand donat Indonesia itu laris-manis, karena berhasil menjadi ikon ?buah tangan? dan ?tren? urban orang-orang yang sedang longgar di kehidupan. Sementara Starbucks, menawarkan story ?silaturahim? yang lebih intens antara penikmat dan penjajanya.

?

Maka, di ruang tunggu bandara, janganlah heran jika kita tangkap pemandangan kotak-kotak donat tersebut ditenteng dengan bangganya oleh para?pesiar? lokal yang pulang ke kampung halaman. Ilustrasi itu menunjukkan, betapa selera merk begitu mudah bergeser. Demikian pula merk politik yang dipresentasikan melalui bendera partai. Ketenaran, kemasyhuran dan kepahlawanan tidak permanen. Yang selalu up to date adalah kepentingan, momentum dan sasaran bersama.

?

Politik selalu menjajakan tiga hal di atas. Kualitas sebuah komunitas politik selalu ditentukan oleh produk kampanye dan cara jualannya. Masyarakat, bisa saja forgive terhadap masa lalu kelam langkah politik sebuah partai. Tetapi mereka tak mungkin melupakannya. Jejak rekam politik selalu membekas, tentu saja dengan guratan luka yang amat dalam.

?

Produk-produk politik Indonesia, yang paling vulgar tertangkap adalah propaganda kekuasaan. Maka, bagaimana cara menjualnya, ini bergantung dari coverage yang disasar. Dalam posisi apa SBY bisa dipilih rakyat pada Pilpres 2004 lalu? Dan dengan alasan apa SBY akan dipilih kembali pada Pemilu 2009 nanti? Tidak ada ?perlindungan jaminan? dalam sebuah kekuasaan. Tidak ada ?cinta dalam Pilpres 2009.? (Ha ha ha ?).

?

Harus dicatat, bursa pemilihan langsung Pilpres maupun Pilkada tak pernah teruji menjadi pilihan hakiki. Selalu dan tansah, masyarakat patah hati dengan pilihannya sendiri. Yang terpilih secara aklamasi kerap menyertakan kekecewaan rakyatnya secara aklamasi pula. Sangat jadi, hasil survei, jajak pendapat dan kondisioning kampanye kuantitatif akan membawa hasil yang tidak hakiki.

?

Bursa kepemimpinan melalui iklan selalu dibubuhi janji-janji cinta, kehangatan, kesejahteraan dan perubahan. Jangan kaget kalau itu dianggap klise oleh masyarakat. Betapa dalam kesehariannya, rakyat terlalu cerdas dan pintar ketika harus menghadapi penderitaan. Ia terbiasa survive tanpa keikutsertaan pemerintah. ?Pemerintah ini, kenapa sih masih berdiri? Ganggu-gangguin hidup rakyat aja??

?

Mula-mula diangankan media massa menjanjikan banyak hal terhadap moderasi politik antarkawasan. Nyatanya, media massa terlalu takut mendekat. Bahkan dalam sikap kerdil berusaha menjauhi konflik. Alasannya, lembaga pemberitaan akan bersifat netral dan tidak ingin bermain praktis di dalamnya.

?

Serdadu dan Pedagang

?

Dalam klip iklan politik, baik di televisi maupun media cetak atau bahkan di media luar ruang, ?perubahan? adalah jualan yang paling mudah dituang. Dalam bahasa praktisi, copy writer seperti kehilangan akal untuk menggali tema lain. ?Change? seolah sebuah obligatory yang menutup semua wacana di luar itu. Padahal tema ?perubahan? adalah jualan yang menjebak. Lantaran tidak cukup meyakinkan, dari masa ke masa, pemimpin baru selalu melahirkan perubahan baru. Si pengiklan akan diserang balik oleh pangsa iklannya sendiri, tanpa mampu menjelaskan substansi dasar terhadap perubahan yang dijualnya sendiri.

?

Dikotomi sipil - militer, lebih tepatnya adalah serdadu dan pengusaha, meski tidak terang-terangan, masih dijual sebagai tema yang merajuk publik. Masyarakat konon masih butuh peran militer untuk mendampingi sipil. Pengertian ?sipil? di sini, mengerucut tidak semata-mata administratur, melainkan entrepreneur.

?

Komposisi idealkah pasangan militer-entrepreneur? Kurang meyakinkan juga. Ada pernyataan empirik di masa awal pendirian VOC tahun 1608 dari Laksamana Cornelis Matelieff. ?Menggabungkan unsur pedagang dan serdadu dalam satu pribadi, sungguh sia-sia,? katanya. Surat itu ditulis dari Banten saat mengakhiri pelayaran dagangnya yang sukses ke Malaka, Maluku dan Macao. (Jan Compagnie, in War and Peace 1602-1799, Heinemann Asia, 1979).

?

Artinya, Persekutuan Dagang Hindia Belanda (VOC) yang hebat itu pun dibangun bukan karena perpaduan kepemimpinan militer dan pengusaha. Lebih satir lagi, penyebab keambrukan VOC yang melebihi negara itu sangat mudah dideteksi, lantaran digerogoti korupsi.

?

?

Handry TM, Jurnalis, bekerja untuk Ezzpro Media, lembaga penyelenggara media. Pernah dimuat di Suara Merdeka.

?

  • view 164