“Fur Elise” Pun Terdengar Senyap

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 08 Oktober 2017
“Fur Elise” Pun Terdengar Senyap

Oleh: Handry TM

SIAPA tidak mengenal Ludwig van Beethoven? Orang kerap hanya menyebut nama belakangnya sebagai Beethoven. Atau paling tidak, jika menikmati karya-karya besarnya semacam Moonlight Sonata (digubah ketika berusia 31 tahun) Simfoni No. 5 dalam C minor, Op. 67 dan Simfoni No. 3 dalam tangga nada Es Mayor (Op. 55) (keduanya digubah pada usia 34 tahun) dan Fur Elise (digubah saat berusia 41 tahun).

            Lahir sebagai korban keluarga musisi yang fanatik, Beethoven lahir di Bonn, Jerman pada tanggal 17 Desember 17 Desember 1770. Ia sangat dipersiapkan kedua orang tuanya sebagai seorang musisi klasik. Sang kakek, Ludwig Louis van Beethoven, adalah penyanyi kapel istana. Maria Magdalena Keverich  dan Johann van Beethoven, ibu dan ayahnya adalah seorang seniman seni suara yang bekerja untuk lingkungan istana.

            Nama besar dan karya indah itu, tidak dengan sendirinya membarengi kehidupannya dengan indah pula.  Ia hanyalah seorang pengelana imajinasi yang pemurung. Tidak lebih, Beethoven cuma seorang pelamun yang membenturkan kegalauannya di antara partitur-partitur klasik yang dicipta. Ketika publik memuji karya puncak sang komponis di usia 31 tahun, dimana ia berhasil menggubah dua reportoar dahsyat sekelas Simfoni No. 5 dalam C minor, Op. 67 dan Simfoni No. 3 dalam tangga nada Es Mayor (Op. 55), tuli pula pendengarannya akibat otosklerosis.

Otosklerosis adalah pertumbuhan tulang abnormal di telinga tengah, terutama  memengaruhi tulang stapes kecil. Akibatnya, tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara sebagaimana fungsinya. Kondisi ini menyebabkan gangguan pendengaran perlahan pada awalnya, dan terus memburuk secara bertahap.

Kelemahan fisik ini perlahan memengaruhi kelemahan psikisnya, ia pun mengalami penderitaan jiwa yang akut di sektor percintaannya. Kisah ini kelak akan kita bahas secara tersendiri pada reporter dahsyatnya berjudul Fur Elise.

Beethoven telah diramal sebagai seorang komponis kelas dunia sejak belajar dari para komponis besar seperti Joseph Haydn. Musisi klasik yang kerap dijuluki “Bapak Simfoni” ini jauh hari telah meramalkan, kelak Beethoven akan melampaui zamannya. Demikianlah rupanya, kemegahan sebuah karya biasanya dibarengi oleh kemuraman yang tersembunyi di baliknya.

 

Fur Elise

            Reportoar ini sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar musik klasik dunia. Warna musik yang adagium, mendayu dan berderai serupa suara hujan. Beethoven menggubah nomor ini dalam usia yang sudah tidak muda lagi. Fur Elise digubah bersamaan dengan rasa frustrasinya yang mendera berbareng semakin tidak berfungsinya alat pendengarannya. Ditambah, ada kisah lain yang lebih tidak terbantahkan, bahwa ia sedang “patah hati” terhadap seorang perempuan.

            Para penelitimusik  sangat meyakini bahwa judul awal Fur Elise adalah Für Therese. Fur Elise jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti Kepada Alise. Sebuah nama yang sebenarnya disalin keliru dari nama sebenarnya, Therese Malfatti von Rohrenbach zu Dezza. Ia ini seorang perempuan idaman, anak saudagar besar asal Wina bernama  Jacob Malfatti von Rohrenbach (1769-1829). Rupanya sang penemutranskrip nomor tersebut, Ludwig Nohl, keliru menyalin judulnya menjadi Fur Elise di tahun 1865, 38 tahun setelah Beethoven meninggal.

            Fur Elise begitu melegenda, karena selain dimainkan dalam berbagai orchestra atau piano tunggal, juga menempel di sejumlah film yang pernah diproduksi manusia.  Untuk segala yang ia lahirkan itu, nama Mozart tak lepas sebagai mentor yang kerap disebut-sebut. Dalam beberapa hal, Beethoven menjadi contoh sebagai “anak manis” penurut bagi orangtua dan generasi sebelumnya. Hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah menemukan cinta sejati, dan tidak pernah menikah dengan perempuan mana pun. Kecuali disebut-sebut, bahwa Therese Malfatti von Rohrenbach zu Dezza adalah perempuan idaman yang meretakkan hatinya. Sebelum Neethoven menyatakan cinta, Therese sudah pergi bersama laki-laki lain yang menjadi idamannya.

Beethoven mempertaruhkan kebesaran namanya dengan menggelar pementasan opera,  Fidelio, pada tanggal 29 November 1814 yang ditonton oleh para anggota kongres  Wina. Di luar keberhasilan tersebut, banyak sisi gelap yang sengaja disembunyikan. Antara lain bagaimana ia berhasil memenangi tuntutan hak orang tua asuh atas Karl, keponakannya. Namun, lagi-lagi tidak mampu menunjukkan keberhasilannya sebagai orangtua, karena Karl justru terjerumus ke kehidupan dunia anak-anak nakal. Bahkan pernah pula melakukan percobaan bunuh diri segala.

Beethoven meninggal pada tanggal 26 Maret 1827 dalam usia 56 tahun di Wina, Austria. Ia menempati peristirahatan terakhirnya di Vienna Central Cemetery. Di pemakaman umum tersebut terkubur pula nama-nama besar lain seperti Wolfgang Amadeus Mozart dan Brahms. Makam Beethoven dibangun menyerupai prasasti dengan nama sang komponis berwarna kuning emas berlatar tembok putih. Ia seorang musisi kelas dunia, seorang penggelisah sekaligus manusia yang merasa gagal di luar karya ciptanya.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes :  

Fur Elise jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Bagi Alise. Sebuah nama yang disalin keliru dari nama yang sebenarnya, Therese Malfatti von Rohrenbach zu Dezza.

 

 

 

 

 

 

  • view 37