Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 1 Oktober 2017   07:55 WIB
Mitos “Kelinci Berdasi Kupu-kupu”

Oleh: Handry TM

IA nampak tertidur pulas pada tanggal 26 September di rumahnya, Playboy Mansion Holmby, California, sebelum akhirnya mengghembuskan nafas terakhir pada tanggal 27 September 2017 dalam usia 91 tahun.  Berita kematian itu bisa ditanggapi sinis atau sikap nyengir kuda bagi yang tidak bisa menerima kehadiran mahakarya gagasannya, Playboy -- majalah telanjang khusus perempuan selebrita selepas Perang Dunia II. Bisa pula diratapi sepanjang hari bagi mereka yang menyikapi mendiang Hugh Hefner dengan cara pandang yang lebih dalam.

            Produk Playboy yang dianggap vulgar, seronok dan kasar itu oleh para  analis bisa diletakkan sebagai mahakarya yang “mendua.”  Di satu sisi bersifat anti moral, karena ketelanjangan tubuh seorang bintang sudah tidak lagi disembunyikan, melainkan dibentang tanpa norma di majalah tersebut. Dari sisi yang berbeda, Playboy yang pertama kali terbit pada bulan Desember 1953 dengan menampilkan aktris Marilyn Monroe, membawa heroisme tersembunyi.

            Heroisme semacam apa yang akan ditawarkan majalah gaya hidup pria ini? Para pengamat sosial berterimakasih atas terbitnya Playboy bersamaan dengan usainya krisis psikilogis warga Amerika Serikat selepas Perang Dunia II. Perang itu menyeret jiwa para veteran dan warga dunia, utamanya Amerika, mengalami depresi sosial dan ekonomi luar biasa.

            Penerbitan Playboy edisi pertama langsung dibabat habis para pembaca hingga oplag 50.000 eksemplar. Playboy ditengarai membawa efek “mental positif” dalam melepas kekalutan jiwa Amerika yang depresif. Ketika dirunut, sebagai penggagas Hefner memulai debut ini dengan pertimbangan survei yang sangat matang. Latar belakang kehidupan, pendidikan dan keluarganya bernilai rapor premium.

            Ia anak sulung dua laki-laki bersaudara dari pasangan Grace dan Glenn Hefner. Sag ayah seorang metodhis yang berfeksionis. Di Steinmetz High School (SMA), nama Hefner tercatat ber Intelligence Quotient (IQ atau Nilai Kecerdasan) tinggi sekalipun nilai pelajarannya tidak istimewa. Di Sekolah Menengan Atas ini ia menjadi presiden Dewan Sekolah yang gemilang. Ia merintis surat kabar sekolah tempat dimana mengasah bakat jurnalismenya di masa awal. Karir kemiliteran Hefner diuji pada Perang Dunia II selama dua tahun, meski akhirnya “melarikan diri” pada tahun 1946, tujuh tahun sebelum Playboy ia lahirkan.

 

Moral yang Dibenturkan

            Contoh lain tentang betapa tidak sederhananya Playboy ini lahir adalah, sang pendiri secara herois mengikuti tahap-tahap pendidikannya secara baik. Mulai dari  studi di Chicago Art Institute hinggan jurusan Psikologi di Illinois University sampai menempuh sarjana. Saat menggagas majalah kontroversial tersebut, harus mengumpulkan dana sebesar 8000 USD dari sang ibu dan saudaranya. Mengamati alur perjuangan ini, dalam otak Hefner tidak semata pornografi yang bersarang. Ia cermat berhitung dan memiliki perencanaan, Hal itu dibuktikan dengan aset triliunan pada duapuluhtahun selepas perintisan.

            Ketika bekerja di Esquire sebelum memiliki majalah sendiri, ia bergaul dengan pekerjaan sebagai penyaalin karya-karya sastra penulis sekelas Ernest Hemingway dan F Scott Fitzgerald. Artinya lagi, tempaan atas diri Hugh Hefner sebagai pelaku industri media tidak setengah-setengah.  Termasuk saat memilih Playboy yang semula merupakan merk dagang perusahaan mobil yang bangkrut, dan meninggalkan nama Stag Party yang ditemukan pada awal gagasan, ini pilihan cerdas.

            Mari sedikit berjarak ketika memandang Hugh Hefner dan Playboy.  Betapa kita rasakan ada moral yang dibenturkan. Cara menata kehidupan dan merintis usaha yang ditempuh Hefner sungguh tertata dan bermoral. Karya yang dihasilkan ada yang bisa melahirkan manfaat, ada yang menganggap sampah. Kehadiran sosok Hefner memberi pelajaran berharga, betapa manusia selalu memiliki sisi baik sekaligus sisi buruknya.

            Teringat ungkapan Confucius suatu ketika, bahwa kebijaksanaan, kasih sayang, dan keberanian adalah tiga kualitas moral seorang  pria yang diakui secara universal. Ketiganya dimiliki Hefner, karena secara berani ia mendeklarasikan menjual ketelanjangan, secara bijaksana ia melakukan itu demi mesin industri (media) yang sedang dibutuhkan. Tapi di mana letak kasih sayangnya? Laki-laki ini di dalam berbagai eksposenya selalu menampilkan kehangatan dan kelembutan terhadap koleganya.

            Bisa saja ini sebuah parodi atau lelucon semata, yang pasti Playboy digarap secara industri dan profesional. Bahwa ia hanya tepat beredar di belahan benua Amerika dan tidak di Asia, itu hitungan moral berbeda. Untuk semua plus-minus yang telah didermakan mendiang, mari kita ucapkan selamat jalan, semoga Tuhan mengampuni segala khilaf dan kesalahanmu, Hugh Hefner.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes

“Teringat ungkapan Confucius kemudian, bahwa kebijaksanaan, kasih sayang, dan keberanian adalah tiga kualitas moral seorang pria yang diakui secara universal…”

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : handry tm