Schiphol, 1001 Tahun Lalu

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Schiphol, 1001 Tahun Lalu

Oleh: Handry TM

DALAM sebuah perjalanan dari New Jersey menuju Singapura, saya berkesempatan transit di Schipol Airport, Belanda -- lebih dari dua jam lamanya. Ngapain saja selama itu sambil menunggu take over pesawat, untuk kemudian terbang hampir sepuluh jam ke Asia, kecuali bengong dan jalan-jalan? Kegiatan pertama yang saya lakukan melihat-lihat toko buku, gerai cokelat, pernik-pernik dan gift  ikon negara setempat. Berikutnya, kembali mencari tempat duduk, sambil bengong berpikir apa yang berikutnya saya lakukan.

            Seorang jurnalis, tentu akan mencatat hal-hal menarik, atau istilah atau kata-kata yang unik saat ditemui di ruang tunggu megah itu. Maklum Schiphol termasuk airport termegah dan terpadat dengan lintasan jumlah penumpang sebesar 42.541.000, urutan keempat dari bandara-bandara besar lain di Eropa setelah London Heathrow, Frankfurt Internasional dan Charles de Gaulle di Paris (Roissy), Perancis lepas tahun 2000-an ini.

            Mendadak teringat pesan pimpinan saya yang nitip uang 100 dolar Amerika untuk dibelikan kopi Negeri Kincir Angin. “Belinya harus di bandara Schiphol, jangan di toko biasa,” pesannya. Mengingat kurang tahu persis kopi seperti apa yang harus saya beli, saya mengiyakan saja pesan itu. Uang saya terima, dan saya mengangguk takzim.

            Di bandara itulah saya melihat-lihat berbagai jenis kopi Balanda yang kemasannya apik. Paling tidak, cocok dan pantas untuk buah tangan.  Setelah celingak-celinguk kesana-kemari, saya comot kemasan kotak kopi merk Keurig Hot, jenis variety pack yang bisa disajikan dengan model yang berbeda-beda. Tentu saya seusaikan dengan uang titipan yang 100 dolar tadi, kalau toh harus nombok ya jangan terlalu rugi.

            Tugas amanah selesai sudah, masih lebih dari satu setengah jam tersisa. Jika engkau seorang penyair, urusannya akan mudah saja. Mengambil buku catatan diam-diam dari dalam tas, memungut alat tulis dan mencoretkan puisi. Atau, mengambil smartphone kutak-kutik tuts, jadilah beberapa baris syair sesudahnya. Bayangkanlah jika Anda bukan penyair, Anda orang biasa dengan profesi yang tidak seromantis tadi, apa yang terjadi?

            Persoalan pun mengemuka, setidaknya akan lahir ketengilan lain yang harus dicari-cari. Misalnya, mencari tahu lebih jauh tentang sejarah bandara ini, atau bagaimana posisi Schiphol Airport saast sekarang. Muncul kemudian jawaban-jawaban di luar dugaan, setidaknya hal itu akan menghibur selama bebeapa puluh menit ke depan.

            Saya pun menemukan informasi menarik, Schiphol Airport merupakan terminal besar yang memiliki kepadatan lalu lintas udara luar biasa. Itulah sebabnya, banyak maskapai penerbangan mulai berhitung menganai biaya tinggi jika masih tetap bertahan. Mereka mulai melirik bandara lain yang lebih ramping seperti Groningen, Rotterdam, Eindhoven dan Maastricht. Namun, maskapai raksasa semacam KLM, Transavia dan Martinair pusat operasionalnya masih di sini.

101 Tahun

            Pada tahun 2017 Schiphol berulang tahun yang ke 1001 tahun. Dalam rangka memperingati satu abad berdirinya, pada tahun 2016 lalu diselenggarakan berbagai perayaan dan atraksi. Mulai dari pameran online yang mereka bari label onlineschiphol100jaar.nl, juga berbagai pameran jejak bersejarah bandara tersebut. 

            Bandara terbesar di Negeri Belanda ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan masa lalu kemerdekaan Indonesia.  Pada tanggal 1 Oktober 1924, sejarah mencatat pesawat pertama yang tinggal landas dari Schiphol akhirnya mendarat di Batavia. Pada tahun 1949 (25 tahun sesudah penerbangan pertama dari Schiphol ke Batavia), Dr Muhammad Hatta sebagai wakil tertinggi Indonesia naik pesawat dan mendarat di Schiphol dalam rangka menghadiri Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Waktu itu sebuah momentum besar terjadi, Belanda menyerahkan kekuasannya kepada Indonesia secara bulat-bulat.

            Kisah-kisah itu, selintasan mulai berkelebat, saya pun memb ayangkan di manakah Pak Hatta ketika menginjakkan kaki yang pertama di negeri ini. Mengingat bandara ini dilakukan pengembangan besar-besaran sejak tahun 1994, kemudian pada tahun 2000-an pengembangan kembali dilaksanakan secara akbar, kemungkinan telah menghapus jejak keasliannya.

            Sekarang, kita akan melihat Schiphol yang terletak di sebelah selatan kota Amsterdam, merupakan bandaraya yang tidak saja nyaman, namun ditengarai menjadi pusat perlintasan dunia.  Di tngah hiruk pikuk para penumpang, kita ini seperti anonim, manusia tanpa identitas. Kecuali memiliki peranan dan atribut yang jelas. Kita perlu mempersiapkan diri menjadi manusia yang tanpa atribut dan tanpa identitas, agar tidak memiliki harapan tinggi. Terutama di suatu tempat yang kita sendiri asing dan tidak mengenali.

            Kadang kita sering terperangkap, merasa menjadi seseorang yang posisinya sama dengan saat berada di tempat sebelumnya. Padahal sudah bergeser jauh dari lokasi semula, dan tidak menyadari akan hal itu. Barangkali melamun akan lebih baik, di bawah sadar kita sedang berpikir keras. Itu berbeda dengan kehampaan dan kekosongan yang kita tidak tahu sedang berpikir apa.

            Di Schiphol, orang-orang sibuk tidak saling bersapa dan tidak saling menengok. Mereka fokus dengan jalan pikiran masing-masing. Ketika secangkit kopi dan setangkup kue menemani, mungkin mereka sedang melayang ke tempat lain. Tulah, “Berbaring tapi tidak tidur, berdiri namun tidak siuman.”

            Di tempat ini, orang-orang membayangkan Schiphol seperti apapada  satu abad lebih satu tahun yang lalu,. Dan kita ini bukan siapa-siapa di tempat tersebut.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes  

Schiphol Airport merupakan “terminal besar” yang memiliki kepadatan lalu lintas udara luar biasa. Itulah sebabnya, banyak maskapai penerbangan mulai berhitung menganai biaya tinggi jika tetap bertahan di sini.

 

 

 

 

 

 

  • view 161