Naik Kereta ke “Old Malaya”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2017
Naik Kereta ke “Old Malaya”

Oleh: Handry TM

SAYA pikir kedai ini satu manajemen dengan The Olde Malaya Café yang pernah saya temui di 313@Somerset, Orchard Road atau di Tampines Mall Singapura. Melihat racikan menunya, selain seduan kopi hitam dan kopi racikan, ragam jualannya mengingatkan kita pada kudapan khas masa silam. Jenisnya seputar Popiah, serupa lumpia yang di dalamnya terbalut daging cincang dan sayur-sayuran. Ada pula Mie Pontian yang teksturnya lembut saat dikunyah, yang tidak didapat di kedai lain.

            Namun, Old Malaya Kopitiam tempat di mana saya singgah di kawasan Satellite Building, Level 2, KLIA ternyata beda. Ia tidak satu manajemen dengan The Old Malaya Café di Singapura tadi. Kedai ini terlihat lebih simpel, kecil dan fokus dalam melayani passenger yang singgah lama di bandara.

Menempati lekuk jembatan yang menghubungkan antara sisi kiri dan kanan level 2 Gedung Satelit, Old Malaya Kopitiam tampil dengan dua sisi banner yang bertolak belakang. Banner utama tampil dengan tulisan “Old Malaya” berukuran besar, berjenis huruf semi latin. Sedangkan tulisan “Kopitiam” di bawahnya, ukurannya lebih kecil dan berwarna kuning muda. Latar warna keseluruhan tulisan adalah hitam. Di sisi sembilanpuluh derajad dari papan nama tersebut, akan disuguhi gambar-gambar retro dominan sephia. Dengan cepat akan kita tangkap nuansa “tempo doeloe” sebagai tema jualannya.

Ini pengalaman April lalu, ketika saya berombongan melakukan perjalanan kebudayaan dari Jakarta menuju Negeri Sabah, Malaysia. Rute ke Sabah tidak bisa ditempuh langsung, meski Negeri Sabah terletak di kawasan paling utara Pulau Borneo (Kalimantan). Dari Jakarta, penerbangan dengan Malaysia Airliner harus terlebih dahulu transit ke Kuala Lumpur untuk meneruskan rute ke Sabah dengan pesawat berbeda. Transit di Kuala Lumpur International Airport memakan waktu lebih dari dua jam. Sedangkan perjalanan pulang dari Sabah ke Jakarta harus transit ke bandara yang sama selama lebih dari tiga jam.

Meski hanya menempuh perjalanan dari Pulau Jawa (Jakarta) ke ujung kepala Pulau Borneo, perjalanan kultural ini sungguh luar biasa. Sebagai bangsa serumpun, terasa benar perjalanan ini membawa beban spiritual. Bagaimana tidak, di tempat jauh itu kami bertemu beberapa warga yang masih memiliki pertalian keturunan dengan Jawa dan Melayu.

Kami seperti bertemu saudara lama, saling mencocokkan cerita dan menyatukan asa. Kami juga ingin saling berkunjung dan menjalin persaudaraan. Dialog antarkawasan, justru sulit menemui perbedaan, bahkan kami menghitung berbagai persamaan. Pengalaman kecil bergaul bersama masyarakat serumpun, melekat erat saat menikmati hot chocolate di meja kecil yang terletak di deret depan Old Malaya Kopitiam, menjelang pulang.

Kereta Ekspres

            Singgah dan minum cokelat di kedai kopi sambil membuka notebook atau smartphone, sebenarnya pengalaman yang tidak istimewa. Namun me-review perjalanan budaya lengkap dengan perbenturan dan pertikaiannya, merupakan insight pula.

            Perjalanan dari Main Terminal Building menuju ke Satellite Building, tempat kedai-kedai kuliner berjajar, dihubungkan oleh skybridge sepanjang 300 meter. Pihak bandara memfasilitasi kereta ekspres yang beroperas otomatis hingga tengah malam. Transit yang panjang memberikan keleluasaan bagi calon penumpang untuk berkereta ekspres menuju tempat itu sambil menyinggahi berbagai gerai.

            Seorang kawan melakukan rute sama selama dua kali dalam sebulan, tak segan bercerita bahwa dirinya  kembali singgah di Old Malaya Kopitiam. Menurutnya, Old Malaya adalah sebuah nama yang “melayu banget.” Ia merasa benar-benar sedang singgah di rumah melayu di Kuala Lumpur. Kawan saya itu pun memilih menu sama, baik camilan maupun racikan minumannya, seperti ketika singgah yang pertam. “Saya lebih dari dua jam berada di kedai itu, sebelum akhirnya kembali ke Main Terminal Building dengan kereta ekspres,” katanya.

            Apa sih yang dibutuhkan dalam sebuah kedai seperti Old Malaya? Belum tentu kita dalam lapar, karena di pesawat pasti sudah memperoleh makanan. Menurut penalaman banyak orang, sebenarnya kita sedang memilih waktu ketika minum kopi di suatu tempat. Mungkin tidak langsung memperoleh respons atau kontak ngobrol dengan seorang kawan. Musisi membenturkan pikirannya bersama segelas kopi dan berteriak keras di dalam hati. Penyair melakukan scan terhadap orang yang berlalu-lalang. Catatan di kertas bekas, di tisu atau layar smartphone, membentuk jejak karya yang tak tertahankan.

            Kedai-kedai memberikan dermanya terhadap orang-orang yang butuh singgah. Di tempat lain belum tentu mendapatkan peluang melamun sambil menuang gula di air teh Anda. Dalam situasi sulit, bisa saja mengangankan peluang sembari menggigit seruas roti yang berharga murah.

            Tempat tersebut bisa menjadi ajang bergunjing, merapatkan kebahagiaan atau bertikai penuh kegeraman. Pengunjung tidak dibatasi jumlah order untuk duduk-duduk hingga berjam-jam. Kebutuhan pelayan dan kebutuhan pelanggan tidak bertabrakan. Sungguh, ini saya rasa, kadang membayangkan kapankah kembali ke sana.

            Bandara internasional tidak ubahnya terminal besar seperti di masa silam, ia dipenuhi lalu-lalang kepentingan. Berbagai jenis dan sifat orang sesekali bertabrakan. Sepertinya mereka membentuk kerumunan (community), padahal masing-masing tidak saling bersepakat.

            Singgah di Old Malaya Kopitiam, kita menjadi ngungun saja. Ia bukan kafetaria biasa, ia membawa kesan yang amat dalam bagi yang baru saja menempuh perjalanan panjang. Yakni perjalanan kebudayaan semacam menapak tilias antropologi kebudayaan Nusantara di masa silam.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes

Perjalanan dari Main Terminal Building menuju Satellite Building, tempat kedai-kedai kuliner berjajar, dihubungkan skybridge sepanjang 300 meter. Pihak bandara memfasilitasi kereta ekspres yang beroperasional secara otomatis, pulang balik…

 

 

 

 

 

 

 

  • view 62