“Setengah Lapangan” Jose Mourinho

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 September 2017
 “Setengah Lapangan” Jose Mourinho

Oleh: Handry TM

JOSE Mourinho adalah seorang aktor opera, di luar itu ia pengatur permainan yang ulung I “panggung.” Untuk menunaikan peperangan di lapangan sepakbola, Mourinho tidak harus ikut bermain apalagi menendang. Di tepi lapangan, ia seperti tidak membutuhkan kemenangan, meski di saat kalah kemurkaannya ditunjukkan dengan kerut jidat dan sorot mata kedengkian.

            Pelatih asal Portugal yang sejak 2016 menukangi  Manchester United itu “mendepak” mantan mentornya sendiiri (Luis van Gaal asal Belanda). Pada musim kompetisi Liga Primer Inggris 2017/ 2018 Manchester United digadang akan berkibar sangat tinggi. “Kecongkakan” dan arogansi gaya The Special One di depan kamera, setakar dengan reputasinya yang gemilang.

Dari polesan tangannya, Porto berhasil meraih dua kali Piala UEFA berturut-turut pada (2002/ 2004 dan 2003/ 2004), Chelsea menjuarai Liga Primer sebanyak tiga kali (2004/2005, 2005/2006 dan 2014/2015). Juga meraih  Piala FA pada 2006/2007 dan juara  Community Shield pada 2005. Bersama Inter Milan, mengantar klub itu menjuarai Copa Italia (2009) dan Supercopa Italiana pada 2008. Real Madrid menikmati reputasi tangan dingin Mourinho dengan menjuarai La Liga pada musim 2011/20012, Copa del Rey (2010/2011) dan Supercopa de Espana 2012. Bersama Manchester United pada musim kompetisi lalu meraih tiga kejuaraan sekaligus, masing-masing juara Community Shield (2016), Piala EFL (2017) dan Piala UEFA (2017).

Seorang pemikir di “papan catur” yang tampil fashionable, sadar kamera dan provokatif frngan ucapan-ucapannya, Mou senantiasa menjadi narasumber yang menjual bagi awak media. Ia kerap menyalahkan diri sendiri dengan berbagai strategi pencitraan dirinya, tidak segan-segan Mourinho kerap membenarkan taktik negatif yang diterapkannya.

Ketika menginjak musim kedua menangani Manchester United, Mou memprovokasi media dengan ungkapan, bahwa klub ini perlu mengalami kekalahan pada starting awal Barclays Premiere League 2017. “Saya perlu melihat bagaimana reaksi para pemain jika mengalami kekalahan. Dengan demikian bisa menerapkan strategi yang lebih tajam ke depan.” Tapi tidak, pada tiga pertandingan awal, klub yang bermarkas di Old Trafford Stadium ini melakukan langkah positif antara lain dengan mempecundangi West HumUnited 4-0 dan Leicester City 2-0.

Perang urat syaraf pun dimainkan. Mourinho selalu menyerang secara internal dengan menggunakan pola “papan catur.” Menerapkan taktik yang tidak baku, kecuali mengayun bagaimana lawan bergerak. Teori ‘setengah lapangan,’ dimana kadang ‘memarkir bus’ di kawasan kandang, mengecoh lawan ketika celah berhasil dicipta, pemain MU akan menyerang balik secara cepat.”

Bendera Keliru

Morinho kerap memberlakukan teori False Flag Operation dalam memberdayakan kekuatan tim. Teknik ini kerap pula disebut sebagai False Flag Terrorism yang akan meneror diri sendiri agar tertekan, sehingga mampu menghasilkan energi melawan. Sebenarnya hal itu biasa dikenal di kalangan militer, pernah dilakukan oleh sejumlah negara pada Perang Dunia Kedua.

“Kita perlu mencipta konflik internal dan mewujudkan musuh. Seolah-olah sedang menghadapi musuh yang tidak terlihat, menciptakan fitnah agar pemain emosi untuk melawan. Di situlah kekuatan tim akan terbentuk,” kata Mou dalam sebuah wawancara.

Dalam beberapa sikap, sosok Mourinho kerap mendua. Musim terakhir ketika gagal mempertahankan kejuaraan bagi Chelsea, yang diserang Mou sejumlah sosok di klub itu. Setelah mempersembahkan kejuaraan di Barclays Premier League tahun 2014/2015, Chelsea mengalami penurunan yang luar biasa drastis. Sampai didepak sebagai manajer Chelsea, Mourinho tidak mau dipersalahakan. Senjata yang dimunculkan adalah, sejumlah bintang seperti Fabregas, Diego Costa dan Hazard dituduh sengaja menjegal reputasinya dengan bermain buruk.

Dalam frame pemikiran Jose Mourinho, bukan cuma manajer yang memiliki kekuasaan besar untuk memarkir pemain atau menyingkirkan bintang. Secara terstruktur dan terencana, sekelompok pemain bintang sangat mampu menyingkirkan pelatih yang tak dikehendaki. Beberapa klub selain Chelsea memberi contoh nyata mengenai hal ini. Kalau pemain Chelsea pernah “menyingkirkan” Andre Villas Boas sebagai manajer, MU pernah menepis kehadiran David Moyes di masa transisi kepemimpinan paska Ferguson.

Permainan “setengah lapangan” ini cara operasionalnya sangat strategis. Bagaimana sebuah tim berusaha memperkuat setengah lapangan di belakang, kemudian memancing seolah-olah lahir celah untuk diserang. Namun pemain pelapis sebenarnya telah dipersiapkan menyerobot permainan. Dengan demikian, jika kita amati, Manchester United, senantiasa menciptakan jebakan-jebakan.

Bagaimana mungkin sebuah permainan sepakbola yang sangat teknis bisa dikemas dengan taktik perang di luar sekadar permainan? Dibutuhkan “aktor-aktor” besar dan arsitek penyerang tingkat Dewa. Ferguson sebagai legenda peracik Manchester United selama 30 tahun sangat paham terhadap bekal Mourinho. “Dia kini lebih tenang, emosinya terkelola dan itu membawa dampak bagi tim,” komentarnya atas Mourinho.

Menikmati Mourinho, Manchester United dan Old Trafford Stadium sebagai social venue, sungguh menarik. Kita tidak hanya akan melihat permainan sepakbola, namun juga adu otot dan kemuliaan. Di mata masyarakat Inggris, Manchester United adalah kehormatan dan nama besar. Para fans bola akan menyokong apa saja demi menegakkan supremasi klub. Tidak peduli harus dilatih oleh siapa, yang mereka tuntut hanyalah sebuah kemenangan. Kemenangan itu sangat nyaman bagi imajinasi kebanggaan.

Sekali lagi, waspadai setiap kata-kata, ucapan, pernyataan, gerutuan dan bahasa gerak Jose Mourinho. Ia memiliki detail dan pemaknaan. Sayang pekan ini pertandingan Liga Inggris diliburkan, perlu kesabaran untuk menunggu permainan MU melawan Stoke Citydi  pekan mendatang.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes

Bagaimana mungkin sebuah permainan sepakbola yang bersifat teknis bisa dikemas dengan taktik perang di luar sekadar permainan? Dibutuhkan “aktor-aktor” besar dan arsitek penyerang tingkat Dewa.

 

 

 

 

 

  • view 55