Tak Pernah Sunyi di Kereta Api

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 September 2017
Tak Pernah Sunyi di Kereta Api

Oleh: Handry TM

 DI dalam serangkaian gerbong kereta api yang berjalan cepat di atas rel beratus kilometer panjangnya, akan kita lihat bermacam fragmen. Seorang gadis duduk di tepi jendela memandang embun yang menempel di kacanya. Di luar gerimis, hatinya pun gerimis, karena ia meninggalkan kekasihnya.

            Fragmen lain yang berbeda. Seorang ibu tua dalam perjalanan seorang diri, ia bertemu perempuan muda yang juga menempuh perjalanan tanpa kawan. Ketika ibu itu ditanya, malah menitikkan airmata, ia bercerita baru saja dikirim pulang anak perempuannya yang kini tinggal jauh di luar kota.

            Segalanya bisa saja terjadi di gerbong dengan kereta. Puisi ditulis Emily Dickinson, seorang penyair asal Massachusetts, Amerika Serikat, dengan bait-baitnya yang bebas dan penuh pembaharuan, “Around a pile of mountains/ And, supercilious, peer/ In shanties by the sides of roads;/ And then a quarry pare.” Atau kita nikmati saja puisi CL Graves,”When books are pow'rless to beguile/ And papers only stir my bile/ For solace and relief I flee/ To Bradshaw or the ABC/ And find the best of recreations/ In studying the names of stations."

            Emile menulis tentang gunung dan lembah yang ia lihat di luar jendela kereta api yang menderu. CL Graves merespons perjalanannya dengan menandai stasiun-stasiun yang ia lewati. Terkesan liris dan “Saat buku berguna bagi yang tidak percaya, dan lembaran kertas hanya mengaduk isi hati saya.”

            Bagi sebagian orang, naik kereta api memiliki makna yang sungguh dalam. Ia bisa berbarengan saat kesengsaraan mencekam, bahkan ketika seorang remaja atau laki-laki separuh baya jatuh cinta. Di luar sana, ketika kita sedang terduduk di kursi kereta di tengah malam, seolah kita saksikan titik lampu yang berlarian ke belakang, sedang kita tinggalkan.

            Bagi William Murdock yang berlatar belakang pendidikan teknik dan cermat berhitung matematika, menggagas kelahiran kereta api pada tahun 1784 berawal dari keinginan yang sederhana. Bagaimana memberangkatkan sebuah transportasi yang mampu membawa banyak barang. Perhitungan teknik lain, bagaimana caranya agar mesin penarik kereta panjang itu tidak berat bebannya.  Jawaban tepatnya adalah membangun monorel kereta api sebagai infrastruktur khusus dalam sejarah indah tersebut.

            Dengan memanfaatkan ditemukannya mesin uap sempurna oleh James Watt 1764, maka produksi kereta api merupakan revolusi kapitalisme sosial terbesar. Sampai kini, meski teknologi pesawat terbang mencapai titik kecanggihan tertinggi, namun kereta api masih bertahan dan tak ingin dihapus

 

Dunia Kecil

            Terbentuk “dunia kecil” di dalam sebuah gerbong kereta api, di mana pun Anda menuju dan kembali ke rumah sesudah ini. Sepanjang perjalanan beberapa jam, seseorang akan “kehilangan” integritasnya sebagai person di tempat sebelumnya. Status seorang petinggi kantor, kepala rumah tangga di dalam rumah, atau bujangan bebas di dunia luas, akan berganti di komunitas barunya di gerbong kereta.

            Anak kecil berusia di bawah sepuluh tahun, akan teringat hingga tua kelak bagaimana ia pernah diajak orang tuanya naik kereta. Ia akan bercerita dengan bangganya kepada siapapun, bahwa itulah masa-masa terindah dalam hidupnya. “Ayahku membuka kue bekal dari tasnya, dan aku duduk di pangkuan Ibu yang kala itu masih muda,” kira-kira demikian kalimatnya.

            Ingatan masa lalu individu selalu sebuah keindahan saat berada di dalam kereta. Mungkin sekarang ini ia hidup tidak bahagia, namun kenangan tentang perjalanan kereta bersama ayah-bunda adalah sesuatu yang terindah dalam hidupnya.

            Demikian pula Murdock yang berani melahiran eksperimen praktisnya terhadap perkerjaan logam dan kayu kala bekerja dengan sang ayah.  Meski diakui sebagai pencipta kereta api  yang melegenda, kebanggaan ikut menjadi asisten sang ayah saat membuat kereta kuda roda tiga adalah menomen keilmiahannya yang tidak terlupa.

            Sampai kemudian diberi kepercayaan mendesain sebuah jembatan di Sungai Nith, dimana ia sangat terinspirasi sang ayah yang pernah bertanggung  jawab membangun jembatan Craikston di tahun 1774. Ayah adalah kenangan terindah bagi perjalanan keluarga mulia. Sebaliknya, ia bisa menjadi sosok buruk sepanjang sang anak ketika tidak memberi contoh sebagai generasi terdahulu yang patut ditiru.

            Nikmatilah “keluarga baru” di dalam dunia kereta apimu. Merespons setiap aksi yang Anda lihat, menjadilah bagian dari mereka. Gerbong besi itu berlari kencang dan terus menderu. Menebas angin di luaran dan hawa dingin di musim yang keliru. Namun para penghuni kereta api selalu dibuat nyaman dengan imajinasinya. Karena perjalanan yang panjang, biasanya “dunia baru” di dalam kereta mudah terbangun. Akan kita temui orang-orang yang merasa senasib dan sepenanggungan. Dari suasana itu, satu dengan lainnya memiliki kebutuhan serupa, yakni berbincang tentang apa saja.

            Sejarah kereta api yang klasik membuat para penyair dan sastrawan memanfaatkan kesaksian itu dengan karyanya. Di dalam kereta api pagi, siang atau malam, kita seperti diajak berlari kencang. Indah nian ketika di awal perjalanan berkesempatan melambaikan tangan kepada seseorang. Tapi tidak, di peron kini, tidak lagi ada pengantar atau penjemput diperbolehkan masuk. Kecuali di lobi stasiun di luar sana.

            Tak ada sunyi di kereta api. Selalu riuh dan gaduh, meski tidak selalu diwujudkan secara visual. Di antara para penumpang yang nampaknya duduk terdiam, hatinya pun mengalami kegaduhan. Nikmatilah berketa api dengan membentuk keluarga baru dan habitat baru. Niscaya, ketika Anda meninggalkan ruang gerbong itu kelak, akan membekaskan jejak kenangan yang susah terlacak.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes 

Nikmatilah “keluarga baru” di dalam dunia barumu di dalam gerbong kereta. Merespons setiap aksi yang Anda lihat, menjadilah bagian dari mereka. Gerbong besi itu berlari kencang dan terus menderu. …

  • view 96