Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 6 September 2017   11:18 WIB
Diplomasi Nasi Goreng

Oleh: Handry TM

KALAU Anda orang Indonesia, pasti sangat tidak asing dengan nasi goreng (fried rice). Masakan ini sangat dekat dengan romantisme sosial ekonomi dan budaya masyarakat kita. Kaum terpelajar dan berpunya menyajikan nasio goreng dengan varian daging, sosis dan telor dadar. Kalangan masyarakat bawah, menampilkan nasi goreng melewati proses refreshing dari nasi dingin (wadhang, Bahasa Jawa) untuk kembali dihangatkan menjadi menu baru.

            Meski popular di Asia Tenggara dan setengah diklaim sebagai manu masakan khas Indonesia, sebenarnya masakan tersebut bukan asli Indonesia.  Sejarah mencatat, menu serupa nasi goreng telah ada sejak 4000 tahun Sebelum Masehi dari daratan Tiongkok. Orang-orang Tionghoa membawa tradisi masakan ini menyebar ke Asia Tenggara, dibawa oleh pada saudagar yang berdagang ke luar kampung halamannya. Di masing-masing kawasan, nasi dingin ini mengalami transformasi lokalitas yang luar biasa.

            Filosofi yang melekat pada menu tersebut adalah, menjadikan sisa nasi yang telah tertanak dan tersisa, bisa disantap kembali secara hangat dan lebih lezat. Pada perkembangannya, nasi goreng disajikan secara naik kelas di restoran dan hotel-hotel dengan menanak nasi baru dengan variasi bumbu yang beragam.

            Tentang kehebatan menu ini, CNN International pernah mem-publish poling di internet sebanyak 35.000 responden, bahwa nasi goreng berada di peringkat kedua setelah rendang di daftar 50 Masakan Terlezat di Dunia.  Dalam berbagai nama dan variasinya ia menyebar di seluruh dunia, sementara di Indonesia sering menjadi media diplomasi untuk sebuah pertemuan penting tingkat dewa.

            Nasi goreng tiba-tiba popular kembali ketika berlangsung pertemuan antara dua tokoh imperium politik, yang satu mantan petinggi negeri dan satunya lagi calon petinggi negeri. Pertemuan membahas masalah penting negeri ini. Sebelum pembicaraan, diplomasi diawali dengan makan nasi goreng bersama dan saling memuji.

            Tidak ada nasi goreng yang tidak enak di negeri ini. “Nasi gorengnya enak sekali, mengalahkan nasi goreng Hambalang di rumah saya,” kata salah satu dari dua tokoh yang sedang bertemu itu berbasa-basi. Tidak benar pula jika sepenuhnya basa-basi, karena tidak ada nasi goreng yang tidak enak di dunia ini. Di Fujian - Tingkok, dikenal Nasi Fukien yang di atasnya dibubuhi saus, di Thailand kita mengenal Nasi Pattaya yang nasinya dibungkus telur dadar lezat sekali. Di Indonesia, nasi goreng bisa ditaburi daging kambing, teri, petai atau jerohan sapi.

            Makanan yang sangat merakyat namun harganya tidak beresahabat dengan rakyat ini mengemban tugas sejarahnya sendiri-sendiri.

 

Masa Peralihan

            Tentu tidak akan mudah melupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 1979. Tiba-tiba sebuah lagu berbahasa Belanda, Geef Mij Maar Nasi Goreng (Beri Saya Nasi Goreng Saja) diputar di radio-radio Indonesia bahkan juga di Belanda. Penyanyinya adalah Tante Lien, bernama asli Wieteke Van Dort. Ia perempuan keturunan Belanda yang lahir di Surabaya tahun 1943. Pada usia belasan, karena situasi politik yang kurang menguntungkan, keluarganya pulang ke Belanda.

            Bersamaan dengan popularitas lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng dan ketenarannya  sebagai selebiritas pengusung lagu dan cerita indo, tahun 1980 ia mengasuh program televisi Belanda bertajuk The Late Lien Show. Lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng mengisahkan tentang kerinduannya pada suasana masa kecil di Indonesia. Lagu itu mengandung historis sosial yang sangat tajam, ketika itu hubungan Indonesia dan Belanda mengalami titik nadir, sehubungan dengan masa peralihan.

            Apa arti nasi goreng bagi romantisme keindonesiaan kita? Masakan tersebut mengalami akulturasi budaya sedemikian rupa. Menu yang kita miliki sangat berbeda dari menu nasi goreng lain di belahan dunia manapun. Sebagai menu Nusantara, bumbu-bumbu di dalamnya diwarnai oleh rempah lokal yang tidak dipakai negara lain. Ada bawang merah, bawang putih, gula asam, cabe hingga kecap khas Indonesia.

            Nasi goreng menjadi masakan paling familiar, semua orang dari berbagai kalangan suku hingga strata intelektual manapun mudah berkompromi menikmatinya. Di Semarang, nasi goreng paling popular adalah dengan adonan jeroan sapi seperti babat, paru, limpa dan hati. Di Jakarta, kita akrab dengan nasi goreng kambing. Semuanya tampil dengan kisah masing-masing.

            Diplomasi politik yang biasanya alot dan penuh friksi, mudah diantar dengan nasi goreng. Lain cerita ketika kita hidangkan nasi rendang yang tidak semua orang suka, atau nasi pecel Jawa, yang tidak semua lidah mengakrabinya. Nasi goreng bisa dimakan dalam porsi besar, bisa pula dikudap secara basa-basi dalam satu dua sendok saja sambil berbincang.

            Pulennya nasi, yang bisa didampingi lauk pendamping apa pun, menjadikan nasi goreng muda mengantar sebuah perbincangan. Baik perbincangan ringan maupun berat. Pertemuan antarkepala negara, misalnya Barack Obama ketika berkunjung di Indonesia, ia bisa menceritakan betapa lezatnya nasi goreng di bekas kampung halamannya. Meski di Amerika jenis menu ini bisa ditemui dengan bumbu kare dan kecap asin, amun tak berasa semanis seperti di negeri ini.

            Bersepakatlah. Jika Anda menerima kunjungan tamu, tidak perlu kebingungan hendak menjamu dengan masakan apa. Pilihlah nasi goreng sebagai menu paling netral secara cultural maupun social. Tidak percaya, tanya para petinggi negeri yang baru sajamencicipi.

 

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes

Nasi goreng bisa dimakan dalam porsi besar, bisa pula dikudap secara basa-basi dalam satu dua sendok saja sambil berbincang

 

 

 

 

 

 

Karya : handry tm