Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 6 September 2017   11:12 WIB
“Enny Arrow” dan Romantisme Sastra

OlehHandry TM

 SETELAH tigapuluh lima  tahun berselang nama Enny Arrow mendadak muncul kembali. Pelahap novel-novelnya yang kini berusia limapuluh-tahunan terhenyak ketika Komite Dewan Kesenian Semarang merilis hendak mendiskusikan dan kemudian mengumumkan penundanya secara cepat acara tersebut.

Namun bukan itu yang terpenting. Terbayang kemudian judul-judul panas seperti Kisah Tante Sonya, Sepanas Bara, Selembut Sutera ,Badai Asmara serta puluhan judul yang lain karya Enny Arrow. Novel-novel dengan tema seksual, mengumbar hasrat nafsu seks dan mengabaikan kekuatan moral dalam kisah-kisahnya.

Kehadiran puluhan judul novel Enny Arrow berjajar dengan novel sejenis sama atas nama Nick Carter, Fredy S, Motinggo Busye, AliShahab dan banyak lagi. Di wilayah yang berseberangan novel-novel pop bertema cinta dan kasih sayang juga terbit bersamaan. Karmila karya Marga T, Cintaku di Kampus Biru tulisan Ashadi Siregar dan novel-novel cinta Eddy D Iskandar  seperti Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Semau Gue dan Roman Picisan.

Novel, bagi para pembaca awam kala itu dikonotasikan sebagai bacaan dewasa. Karenanya isi dari novel-novel Indonesia harus dibumbui adegan erotis. Anak-anak dijauhkan dari bacaan yang bernama novel, karena trademark novel mengandung unsur erotisme yang tidak patut dibaca.

Enny Arrow dikenal masyarakat sebagai pengarang blue. Karya-karya “sampah”-nya melegenda di kalangan kaum muda pelahap bacaan mesum. Kita lupa, bahwa pengarang yang ditengarai bernama asli Enny Soekaesih Probowidagdo ini pernah melahirkan karya pertamanya bernilai sastra tinggi, Sendja Merah di Pelaboehan Djakarta. Itu novel pertamanya dengan nama samaran Enny Arrow. Pengarang kelahiran tahun 1924 di Hambalang, Jawa Barat tersebut juga pelahap karya-karya Steinbeck seperti East of Eden, Tortilla Flat dan The Grapes of Wrath. Latar belakangnya sebagai jurnalis dan copy writer, mengesankan karya-karyanya ditulis lincah dan liar bertutur.

Sebenarnya publik tidak yakin kalau ratusan judul novel “bawah tanah” Enny Arrow itu karya personal. Ditengarai ia tidak bekerja sendiri. Sukses pasar yang berhasil diraih pasti karena  kerja cerdas tim pemasar dan mafia distribusi yang menyertai. Meski merupakan “produk haram,” hingga tahun 90-an novel-novel ini masih mulus didapat di lorong-lorong pasar yang penuh misteri. Ada trik-trik jualan yang berhasil dicurigai, novel ini tidak bisa diperoleh secara terbuka di toko dan lapak-lapak. Novel-novel Enny Arrow harus diperoleh dengan bisik-bisik dan dengan cara yang sulit.          

Inilah sebenarnya realisme sosial perjalanan sastra Indonesia. Diakui atau tidak, kematangan pembaca sastra yang kini ada, terlebih dahulu harus dibenturkan oleh proses-proses seperti itu. Kehadiran novel-novel Enny Arrow merupakan cerminan selera moral paska pergolakan politik era 1965. Ciri-ciri perjalanan sosial negara ketiga yang sedang mendapati kemerdekaan politiknya setelah mengalami konflik ekstrem.

 

Wajah yang Terbelah

            Siapa bersalah dengan munculnya bacaan-bacaan “tidak sehat” di era 80-an ini? Tidak hanya literasi, dunia sinema Indonesia pun pada era itu dipenuhi produk film seks yang membabi-buta. Film-film itu tidak beredar secara sembunyi, melainkan dijaja dengan poster yang terbuka sekali. Ingat film-film seperti Bernafas dalam Lumpur (sutradara Turino Djunaedy), Ranjang Siang Ranjang Malam (sutradara Ali Shahab/ 1976) dan Gadis Panggilan (sutradara Ratno Timoer/ 1976).

            Di manakah kehadiran negara, dan dalam posisi seperti apa para kreator memunculkan karya-karyanya?  Istilah Realisme sendiri mulai dikenal di kalangan karya naratif (sastra) di Eropa Barat pada abad 19. Pada kurun waktu 1830-1880, karya sastra ditulis dalam bentuk cerita pendek dan novel berdasarkan realita keduniaan yang nyata. Muncul pertama kali istilah realisme bagi karya literasi temuat di majalah Mercure Francais du XIX Siecle jauh tahun sebelum itu, tepatnya pada 1926.

            Dibandingkan produk sastra, teater maupun film saat ini, kita akan miris membayangkannya. Pasti karya-karya vulgar yang dulu bebas beredar akan sulit diterima di era sekarang. Apakah dengan demikian berarti masyarakat kita jauh lebih matang, bermoral lebih dewasa? Tidak sesederhana itu pemahamannya. Apa yang terjadi pada era 60-an hingga 80-an adalah ekspresi realisme sosial. Yang secara estetika ditangkap sebagai sebuah kemerdekaan baru setelah sekian lama terbelenggu.

            Hampir semua negara yang baru saja mengalami peristiwa politik luar biasa, akan mengekspresikan panggung kemerdekaannya. Ia tampil dengan produk karya yang bebas nilai, dan tidak terikat. Ini juga terjadi di Tiongkok selepas era keterbukaan, mereka mengadopsi budaya Barat berdansa-dansi dan bermusik hingga larut malam. Hal tersebut biasanya tidak berlangsung lama, pada saat yang bersamaan pemerintah pun bebenah. Ia mengatur diri dengan undang-undangnya.

            Enny Arrow adalah cermin yang terbelah bagi dunia sastra Indonesia. Ia cermin retak dan simbol buruk secara fisik, namun sebenarnya cermin jujur bagi kenyataan sosial kita pada waktu itu. Novel-novel picisan yang muncul secara klandestin juga merupakan representasi dari libido sexualis kita. Era ini lantas tersingkir ketika era internet menggantikan era tekstual yang kian terpojok.

Masing-masing jaman mewakilkan realitasnya ke masyarakat,  kita yakin hal itu akan dikoreksi di jaman.

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media

Quotes: 

Munculnya pertama kali istilah realisme bagi karya literasi termuat di majalah Mercure Francais du XIX Siecle jauh hari sebelum itu, tepatnya pada tahun 1926.

 

Karya : handry tm