Setiap Orang Ingin “Pulang”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 September 2017
Setiap Orang Ingin “Pulang”

Oleh: Handry TM

 BENANG merah ini yang tertangkap ketika sang sineas memroduksi TV Play di masa akhir kehidupannya.  Rumah adalah tempat yang sangat nyata untuk pulang, namun tidak selalu memerlukan rumah, karena pulang bisa bermakna kembali (return). Mencari akar muasal dimana dulu pernah ditinggal pergi. Teguh Karya yang punya nama asli Steve Liem Tjoan Hok, mengingatkan filosofi pulang dengan indah sekali.

            Contoh lain dituliskan oleh novelis Leila S Chudori seperti ini: “Aku tak tahu, apakah aku sedang berada di Pere Lachaise atau di Karet. Yang aku tahu Ayah tersenyum dari jauh. Dia begitu bahagia karena sudah pulang fan kami semua berada di dekatnya,” demikian novel Pulang ini ditutup dengan indahnya.

            Pada dua contoh di atas makna dan aksentuasi disiratkan secara berbeda. “Pulang” yang pertama menjelaskan sebagai kembali ke masa lalu. Menziarahi masa kecil atau setidaknya memunguti kembali  akar kebudayaan dimana dulu seseorang bermula. Mungkin sekarang ia telah menjadi orang kota yang berhasil, atau bahkan manusia kalah.

            “Pulang” pada deret kalimat penutup novel Leila S Chudori bermakna kematian, kembali kepada Sang Khalik, selesai dan berakhir di pekuburan. Kepulangan sang Ayah dimaknai sebagai akhir dari kehidupan, kembali ke Zat Yang Maha Suci, alam yang tidak bersangkut-paut dengan duniawi.

            Manusia memiliki fase kehidupan berjenjang. Menjadi kanak-kanak dengan daya pikir yang tidak lebar. Makhluk kecil di bawah umur sepuluh tahun ini membaca kehidupan secara hitam-putih. Intrepretasi yang ia miliki belum seluas seseorang  di atas usia 18 tahun. Di sela-sela itu adalah fase “keraguan” dan “pencarian.”  Fase ini ia menyimpulkan berbagai hal secara liner dan original. Dirinya mulai menemui kenyataan tidak seperti yang didengar.

            Di sinilah kematangan sedang berproses, mengalami penyesuaian diri yang autoplastik (individu menyesuaikan keadaan yang ada). Ada kalanya memaksa agar situasi sekitar terbentuk sesuai kebutuhannya (aloplastik). Ketika  menjadi pribadi yang bercampur berbagai unsur, ia telah tercerabut dari akar. Tercerabut dari silsilah, asal-usul, kebudayaan dan kebiasaan saat masih di kampung.

            Kehilangan masa lalu apakah membahagiakan? Puncak dimana seseorang berhasil matang, malah merasa menjadi manusia hilang. Menggali kebudayaan ibu justru kembali dicari sampai ke pedalaman. Seseorang amat gembira ketika mendapati kembali “rumah”nya. Meski ada yang berusaha menghapus masa lalu demi pengakuan terkini.

Kepulangan yang Lain

            Tentang pulang ditulis para penyair dengan fragmen dan kesenduan yang berbeda. Penyair Aan Mansyur menulis puisi Tentang Senyuman Ibu dengan narasi yang pilu. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah bus membawa pergi ayahnya hingga ia berusia empatpuluh tahun, dan tak kembali. Ketika itu  ibunya mengulas senyum sambil melepas lambaian tangan terakhir ayahnya. Hingga sekarang senyum Ibu masih tersungging, ia tetap menanti hingga kapan sang ayah pulang. Sambil tersenyum Sang Ibu berkata, “Aku terus rindu dan menunggu ayahmu pulang,” jawaban tersebutlah yang membuat si anak ikut tersenyum bahagia.

            Melihat narasi yang terakhir, kita menangkap makna kepulangan yang berawal dari pergi. Mengapa seseorang harus pergi? Dorongan apa yang membuat ia harus “lari” dan dewasa di tempat lain? Faktor apakah yang melemahkan seseorang tidak bertahan di rumahnya sendiri?

            Mitos-mitos sosial seperti, bukan dianggap berhasil jika pulang dari rantau tidak membawa keberhasilan, akan mewarnai situasi ini. Mitos yang lain, keberhasilan tempatnya di perantauan bukan di kampung halaman. Penelitian ilmiah sulit membenarkan pernyataan semacam itu. Namun secara sugestif, hal itu bisa dipahami.

            Dengan meninggalkan masa lalu, seseorang akan mengubah paradigma hidup ke masa depan. Kemandirian didapat ketika bertarung di luar lingkungan keluarga. Kematangan akan didapat di saat tidak dimanjakan lingkungannya. Meski ada sesuatu yang terkikis dan hilang ketika kian jauh ia meninggalkan rumah.

 “…/It is time for us to kiss the earth again,/ It is time to let the leaves rain from the skies,/ Let the rich life run to the roots again/….”  Demikian penyair Pennsylvania, Robinson Jeffers, menulis puisinya berjudul Return. Ini makna yang lain dari filosofi pulang tadi.

Suasana pulang di hari raya kita pahami sebagai pencarian kembali siapa dirinya. Meski harus ditempuh secara sulit dan penuh risiko, mudik tetap mereka tempuh dengan sejumlah keyakinan. Diyakini bahwa setiap perjalanan pulang, akan memperoleh keberkahan di masa depan. Semua ongkos mudik yang dikeluarkan akan diganti berlipat-ganda oleh Tuhan yang Rahman.

Dalam bepergian pasti ada sesuatu yang kian jauh Anda tinggalkan. Kapan pun berada akan secepatnya ingin pulang, karena setiap kita merindukan untuk pulang. Meski Anda tidak punya rumah untuk kembali, jiwamu sungguh penat dan butuh berteduh di masa lalu.


  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Quotes

Mengapa harus terlebih dahulu pergi? Dorongan apa yang membuat seseorang harus “lari” dari dan membentuk kemandirian di tempat lain?

 

 

 

 

  • view 58