“Perempuan, Lelaki yang Bersembunyi…”

handry tm
Karya handry tm Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 September 2017
“Perempuan, Lelaki yang Bersembunyi…”

Esai Handry TM

PARA perempuan yang dikisahkan, diam-diam memberi berkah bagi penulisnya. Dengan catatan tulisan itu tidak memanipulasi, syukur memuliakan. The Bachelor and the Bobby-Soxer menjadi film box office tahun 1947 di Amerika bukan karena para pemerannya adalah sekumpulan pesohor. Meski terdapat artis Myrna Loy, Shirley Temple dan Cary Grant di deret pemeran, yang menjadikan film itu meraih Oscar adalah penulis skenarionya.

            Kita ingin sedikit mengupas tentang penulis besar yang luar biasa tersebut. Dia adalah Sidney Sheldon yang novel-novelnya, The Naked Face (1970), A Stranger in the Mirror (1976), Bloodline (1977) dan The Other Side of Me (2005) memenuhi rak toko fiksi hingga sekarang. Yang menarik dari karya-karya Sheldon, benar-benar ia mengakui selalu menulis dengan tema para perempuan. “Tokoh-tokoh di novel dan film saya biasanya perempuan pemberani yang tidak kehilangan keperempuanannya,” ucap pengarang kelahiran 11 Februari 1917 dan meninggal pada 30 Januari 2007 di Amerika.

            Film (The Bachelor and the Bobby-Soxer) yang skenarionya ia tulis dan dibesut oleh Irving Reis itu berkisah tentang sepasang saudara perempun bernama Margaret Turner (Myrna Loy) dan Susan Turner (Shirley Temple). Meski tinggal satu rumah, profesi mereka jauh berbeda. Margaret seorang lawyer sementara Susan siswi SMA berusia 17 tahunan. Keduanya sedikit bersaing ketika menghadapi Richard Nugent (Cary Grant), tokoh laki-laki muda yang menarik hati keduanya. Perjuangan para perempuan dalam menegakkan harkatnya diperlihatkan oleh tokoh-tokohnya di film itu. Karena balutannya komedi, tragikanya tidak menonjol.

Konsistensi diperlihatkan pada novel Master of the Game yang ditulis tahun 1982.  Berkisah tentang perempuan kaya raya, penambang berlian di Afrika Selatan yang tahan hidup hingga usia 90 tahun. Perempuan itu bernama Kate Blackwell, kelewat awetnya menjalani hidup, sampai sanggup mengundang para kolega, kerabat dan sahabatnya yang berusia lebih muda namun telah meninggal. Di sanalah berlansung intrik bisnis calon pewaris yang hendak menggantikan tokoh Kate.     

            Perempuan-perempuan yang dikisahkan rata-rata adalah mereka yang menyimpan masa kecil kurang sempurna. Masa lalu yang pedih dan berada di area kejahatan, perempuan yang tidak memiliki kasih sayang, hidup penuh kepincangan.

            Sudah bisa ditebak, catatan hidup kusam inilah yang membentuk mental dan kecerdikan jahat. Mereka membentuk kepribadiannya dengan balas dendam dan kekejaman. Hal ini dialami tokoh Elizabeth dalam novel Bloodline (Garis Darah) yang ditulis lima tahun sebelum Master of the Game. Elizabeth adalah perempuan pewaris tunggal perusahaan keluarga, Roffe and Sons. Solusi agar perusahaan itu terus bertahan tidak dengan cara menjualnya ke orang lain, melainkan mempertahankan Roffe and Sons di tangan sendiri, Caranya, memperdaya orang-orang ambisius dan “haus darah” di perusahaan yang diwarisinya.

 

Ratu Melindungi Raja

 

            Pada dasarnya perempuan adalah laki-laki yang bersembunyi. Ia berparas elok namun memiliki kekuatan sedahsyat laki-laki. Sebaliknya, laki-laki hanya memiliki s simbol kekuatan dan pelindung perempuan, ia tidak memiliki kelebihan sebagaimana yang dimiliki perempuan.

            Tentang betapa dahsyatnya perempuan, telah ditulis seseorang pada quotes, “Every man needs a woman when his life is a mess, like in a game of chess; the Queen protect the King.” (Setiap laki-laki butuh perempuan di saat hidupnya berantakan, seperti juga dalam permainan catur; seorang Ratu akan melindungi Sang Raja).

            Kata-kata itu sangat analogis dengan sikap berontak ”Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki.” Nada protes ini telah ditolak lama oleh mereka yang merasa posisi gender-nya tidak terdiskriminasi. Dalam kisah-kisah novel, drama maupun film, tokoh perempuan memiliki pertimbangan pasar yang tinggi. Pertama, karena konsumen karya sastra dan film adalah perempuan. Kedua, tokoh perempuan selalu menduduki pesona paling atas dibanding laki-laki.

            Rezim konsumen sekaligus peodusen yang didominasi perempuan memunculkan kesadaran tinggi untuk terus mengeksploitasi manusia jenis kelamin yang satu ini. Sidney Sheldon melakukan riset panjang mengenai hal ini. Dimulai sejak ia menjadi penulis naskah drama di Broadway, menulis skenario di film-film industri Hollywood sampai menulis berpuluh novel di atas usia 50 tahun.

            Suatu kali Sheldon yang telah menelorkan 20 novel bestseller-nya sepanjang 1970-2005, berkisah tentang pengalaman menariknya pada salah satu novel yang ditulisnya.  Suatu hari, ketika sedang bersantap siang di Russian Tea Room di New York City, pundaknya ditepuk seseorang dari belakang. Ketika menoleh ke arah tepukan tersebut, ternyata seorang perempuan. Karena merasa tidak kenal, Sisney Sheldon hanya menyambut dengan senyum sopan.

            “Saya hanya ingin berterus-terang mengapa saya memilih profesi sebagai pengacara. Itu terjadi setelah saya membaca Rage of Angels, novel terbaik Anda.”

            Novel “Malaikat Keadilan” telah memengaruhi visi seseorang dalam menjangkau kehidupannya. Bagi Sidney Sheldon, pengalaman tersebut akan menjadi umpan balik yang paling berharga daripada sekadar mendengar berita sukses tentang penjualan novelnya.

            Mengenai I Dream of Jeannie yang ia tulis menjadi serial televisi itu, Sheldon memberi catatan, “Saya sedang mempertahankan integritas seorang perempuan di film itu. Jin perempuan tidak seharusnya bertubuh gendut dan menakutkan. Meski ia jin, karena perempuan harus tampak cantik dan memesona. Di film itu saya sedang mempertahankan harkat perempuan,” demikian pengakuannya.

            Maka, janganlah merasa kelas dua wahai Kaum Hawa. Tetap patut diulang, ungkapan yang mengatakan bahwa perempuan adalah lelaki yang bersembunyi. Tampilkan dirimu dengan kemuliaan.

             

 

           

  • Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

 

 

Quotes

Pada dasarnya perempuan adalah laki-laki yang bersembunyi. Ia berparas elok namun memiliki kekuatan sedahsyat laki-laki.

 

 

 

  • view 152